Sambil makan cherioos dengan Arlene tadi pagi, kami bicara soal osi, pidato arlene di levlib, dan ekstrimisme agama. Banyak hal yang sudah kami diskusikan sebulan ini tentang p, ekstrimisme, pak dan, buku, pak yap, dan segala macam, namun sekarang saya hanya ingin berbicara soal reaksi terhadap “budaya”, kultur baru yang dihadapi seseorang.
Ini sebenarnya sesuatu yang sering saya pikirkan, terutama ketika berefleksi mengenai diri sendiri. Soal apa reaksi saya ketika menghadapi perbedaan budaya, cara berpikir, gaya hidup, dan lain sebagainya. Saya termasuk orang yang beruntung karena sering menghadapi perbedaan-perbedaan dalam hidup saya. Ketika sekolah di inggris, perjalanan-perjalanan ke berbagai belahan indonesia dan dunia, dan bahkan hidup dengan seseorang yang punya latar belakang yang berbeda. Tapi saya tahu bahwa banyak orang yang punya situasi serupa. Namun reaksi mereka begitu berbeda.
Secara sederhana barangkali kita bisa membagi reaksi ini menjadi tiga. Pertama, menelan kultur baru mentah-mentah, menyerap dan menirunya tanpa saringan. Bahkan memujanya tanpa melihat kultur asli. Lari ke titik ekstrim budaya baru. Kedua, defensif, sehingga justru menutup diri dan lari ke titik ekstrim budayanya sendiri. Ketiga, menerimanya, menyesuaikan, mengeksplorasi, dan mencoba beradaptasi dengan tidak melupakan kultur asli. Mencoba mengambil yang baik dari kultur baru dan belajar dari sisi buruk kultur itu. Saya, mudah-mudahan, ada di kelompok ketiga. Tapi saya tidak hendak berbicara tentang saya sendiri. Saya ingin bicara soal kelompok yang defensif.
Beberapa orang (dan kawan) yang saya tahu justru bersikap “defensif” terhadap masuknya kultur baru. Mereka jadi menutup diri dan membangun benteng pertahanan yang kokoh supaya diri mereka tidak tertindas dan terbawa oleh budaya asing yang begitu merusak (menurut mereka). Contoh konkritnya adalah kawan-kawan orang Indonesia di beberapa kota yang saya kunjungi yang hanya mau kumpul dengan orang Indonesia, membuat mesjid Indonesia sendiri yang tertutup, hanya makan-makanan Indonesia (kalau kata si uni, sekolah di amerika atau eropa tapi jaketnya bau terasi hehe karena ga pernah keluar dari apartemen kecuali untuk kuliah dan ke perpustakaan, dan masak dan makan juga di situ aja). Akibatnya pulang dari luar negeri, berlawanan dengan ekspektasi, mereka tidak berbahasa Inggris dengan baik, tidak terbuka pada perbedaan pemikiran, dan dalam hal agama justru jadi lebih “ekstrim”. Barangkali sama dengan si “pemuda kupu-kupu” dalam Bilangan Fu-nya Ayu Utami.
Saya selalu menghormati pilihan orang. Namun saya menyayangkan perilaku defensif ini. Untuk apa? Mengapa perbedaan jadi begitu menakutkan? Saya belum pernah riset soal ini, saya yakin ada penjelasan-penjelasan sosiologis, antropologis, ataupun psikologis tentang ini. Tapi dari permukaan saya kira kebanyakan hal ini terjadi justru karena mereka tidak percaya diri mengenai kulturnya sendiri. Tidak percaya bahwa dirinya sebenarnya punya pijakan yang kuat pada kulturnya. Atau pada ranah agama, ada kepercayaan yang kuat dan berlebihan. Right or wrong it is the religion I believe in. Seperti sikap kawan saya yang bilang “agama tidak bisa dipertanyakan”, titik! Mungkin sama dengan salah satu alasan tumbuhnya salah satu kelompok “moslem brotherhood”: sebagai sikap defensif.
Buat saya, justru perbedaan-perbedaan ini yang membuat saya semakin merasa bahwa akar budaya saya begitu indah. Itu sebabnya saya begitu mencintai keluarga saya, kawan-kawan nongkrong saya, anak-anak kantor, keragaman di Indonesia, keragaman agama. Justru ketika saya sudah dihadapkan pada situasi di mana ikatan keluarga hampir hilang dan masyarakat yang (buat saya) tidak memiliki “kultur” tradisional. Apa yang saya miliki menjadi terlihat lebih indah dari sebelumnya.
Orang-orang yang defensif itu, kemudian biasanya cenderung menjadi penuh “prejudice”. Tidak “adil sejak dalam pikiran” kalau menurut Pram. Penuh dugaan dan penghakiman. Dugaan kadang kita perlukan untuk kewaspadaan. It can be a matter of survival. Tapi bila dugaan menjadi penghakiman, prejudice, saya kira ia jadi menjijikkan. “Naker orang” kalau kata anak-anak isjapokal.
Penghakiman dan sikap defensif ini juga kemudian bisa menumbuhkan sikap anti-diskusi dan anti-eksplorasi. Si X itu yahudi, maka dia harus dibenci dan uang dari dia tidak boleh diterima! Apa iya semua yahudi itu mendukung “israel”? Apa iya semua yahudi itu pembunuh? Apa iya semua yahudi itu pasti menyumbang untuk membangun tanah yang dijanjikan dan mengusir orang palestina dari situ? Apakah dengan demikian orang lain juga menjadi berhak mengatakan bahwa semua orang Islam di Indonesia adalah teroris seperti presumsi dunia barat pada umumnya? Pak Dan dan Arlene, dua orang yahudi yang saya cintai, bukan pembunuh, anti-pengusiran orang palestina, dan mencintai p. Oh well, secara kultural mereka yahudi, namun mereka agnostik. Namun orang yang prejudice biasanya akan gagal melihat hal-hal ini karena mata dan kesadaran mereka sudah tertutup oleh benteng yang dibangunnya sendiri.
Jadi Arlene, jangan kuatir dengan pidatomu di levlib setahun yang lalu yang bicara soal akar yahudi pak Dan. Saya yakin, kawan-kawan p adalah orang-orang yang bisa menerima perbedaan. Kalaupun ada yang punya potensi sebaliknya, saya yakin ada kultur keterbukaan yang sedang dicoba dibangun di sana.
2 comments:
B, gue pikir harus ada elaborasi (lagi) kenapa ada sebagian dari kita yang memilih untuk tertutup. Apakah dari pilihan media yang mereka baca? Foto2 krucil Palestina yang pada buntung tangan/kakinya membuat gue sungguh mati benci Pemerintah (militer?) Israel, tapi di lain pihak apakah PLO/Hamas/Fatah berarti bebas kesalahan dan mereka tidak memanfaatkan simpati itu untuk kepentingan pragmatis sendiri?
Jawabannya gue gak tahu dan jawaban itu sendiri mungkin tidak terlalu penting.
Yang penting adalah kita tidak simplistis membacanya (meski kecenderungan gue sendiri untuk menggeneralisir atau simplifikasi masalah masih gede banget). Perjalanan ini yang harus kita (tetap) coba rintis
Setuju. Prinsip gue sih: terserah si fulan, si john doe, su budi, ataupun "pemuda kupu-kupu" mau memilih sikap yang mana, dan gue punya pilihan gw sendiri yang menurut gw lebih menyenangkan dan membuat hidup gw menarik :-). Biarkan elaborasi itu menjadi tugas para akademisi dan pengamat sosial/kultural/dll :-). Ini catatan pemikiran gw aja (bespectacled!) atas orang2 yang selama ini gw temui di berbagai belahan dunia dan cara mereka merespon dunia di sekitarnya. Terutama karena gw lagi terus berupaya menyelami arti "adil sejak dalam pikiran" (Pram). Memang masih susah, sama aja lah gw juga masih sering tidak adil dalam pikiran. Mungkin itu manusiawi belaka, tinggal bagaimana kita mengendalikannya (B)
Post a Comment