Sunday, May 31, 2009

Muak

Saya muak pada prabowo dan megawati yang menjual kemiskinan, deklarasi di bantar gebang. Untuk apa? Untuk bilang mereka akan peduli pada rakyat kecil? Apa iya? Memang apa yang mega lakukan ketika berkuasa? apa yg prabowo lakukan ketika punya kuasa dan sekarang? memelihara kuda yg harga per-ekornya lebih mahal dari harga mobil mewah, uang itu bisa untuk membangun sekolah atau puskesmas, tapi kuda toh lebih penting. Saya marah.

Saya merasakan kemarahan dari jauh itu lagi. Barangkali ini bagus untuk semangat saya yang luar biasa menurun. Untuk apa saya di sini? Jawabannya dari dulu sama. Jawaban yang saya temukan ketika pada suatu ketika saya berjalan di pematang sawah di rumah mbah gombak di bogor. Akhirnya saya menemukan jawaban kenapa saya lahir dan hidup: untuk berguna bagi orang lain! Seperti halnya segala sesuatu di alam ini: hadir untuk menjadi satu kesatuan dengan ruang, dengan mahkluk-makhluk lain di sekitarnya, sebelum kemudian dia mati. Saya ingat kaki-kaki kecil saya yang melompat kegirangan di pematang sawah itu. Penemuan terbaik dalam hidup saya, barangkali sekitar 20 tahun yang lalu.

Tapi saya masih hidup berdasarkan penemuan itu. Itu yang membuat saya memilih jalan hidup saya yang sendiri. Itu yang membuat saya menikmati berjalan kaki di kampung dekat rumah ketika saya merasa saya mulai kehilangan pegangan. Dan itu yang seharusnya membuat saya berada di sini.

Saya perlu kemarahan ini lagi. Ketika saya tak bisa ngobrol dengan teman2 DZ yang pengamen dan jualan bakwan. Ketika saya tidak bisa memandangi peminta-minta di jembatan penyeberangan di tengah gedung-gedung tinggi di jakarta yang panas. Ketika saya tak bisa ngobrol dengan ojek payung yang kehujanan dan kedinginan. Ketika saya hanya bisa tercenung membaca berita soal kandidat presiden yang menjual bantar-gebang dan porong, yang iklan tivinya memeluk orang miskin, tapi tak tahu apa yang bisa dia lakukan untuk mereka. Ketika neoliberalisme dijadikan komoditas diskusi namun orang lupa pada program mengatasi kemiskinan. Saya marah. Dan saya menangis. Barangkali saya menangisi ketakbergunaan hidup saya belakangan ini sekadar karena merasa kehilangan daya dan inspirasi untuk menulis. Stop menjadi pemalas! Atau saya bagi alam akan sama tak bergunanya dengan kecoak.

1 comment:

Anonymous said...

Group Hug! B, lo bisa sense kekhawatiran gue kan? Ketika gue mulai khawatir joke tolol yang gue tulis bisa bikin krucils piatu, or worse, crippled mummy :(
Jualan mereka laku banget...duh gue rasanya kayak princess2 Disney jadoel yang helpless gak bisa ngapa-ngapain..

-g