Tapi belakangan ini saya merasa banyak yang betul-betul terlena oleh teknologi. Yang saya maksud di sini bukan pekerja berinternet yang saya sebut di atas, tapi juga orang-orang yang sebenarnya bisa dikategorikan aktivis. Bukan lagi selemah-lemahnya iman, tapi memang betul gerakan jadi lemah. Banyak yang mengaku geram dan bekerja, namun sesungguhnya hanya bekerja di balik layar internet. Menjadi "aktivis" hanya di blog, face book, atau twitter. Ada yang mengeluhkan hal yang sama dengan yang sedang saya tulis ini tapi kenyataannya gerutuannya berhenti di blog dan face booknya. Demonstrasi tetap kosong. Media discourse tetap didominasi oleh orang yang sama dan data yang hanya bergeser sedikit.
Saya tidak mau bilang kerja di balik meja itu lebih rendah dari turun gunung: mengorganisasi aksi, bicara ke media dan public, atau rajin ketemu decision makers. Memang mesti ada juga yang menggugah "kaum elite internet" yang berhubungan dengan dunia nyata hanya lewat netbook dan blackberry atau iphone, via face book, twitter, dan segala hantu belau itu. Walau hasilnya barangkali tidak langsung, tapi kelompok "selemah-lemahnya iman" tetap harus digarap untuk membangun "kesadaran". Tapi "the truth is out there", kalau kata x files. Kerja di belakang meja juga harus dikomunikasikan luas, dibuat menjadi discourse yang lebih besar. Data yang sesungguhnya luar biasa menarik jangan hanya ditimbun di perpustakaan dan jadi daftar hasil karya di CV dan organization profile.
Kadang-kadang saya merasa banyak teman yang masturbasi belaka di dunia maya. Puas dan merasa berhak marah pada kaum "selemah-lemahnya iman" tadi hanya karena mereka aktif di internet dan rajin menulis di media yang hanya bisa
dibaca orang yang punya internet. Yang bicara pada decision makers, yang membangun discourse di media dan decision makers, yang membawa discourse ke dunia internasional untuk advokasi, yang bicara pada orang-orang biasa yang tak berinternet, yang bekerja tanpa mengejar dana donor yang tidak terlalu sesuai dengan program kerja: ya masih sama saja. Dari segi jumlah nambah sedikit (I started to like these young activists). Tapi tiga minggu ini di Jakarta, kadang saya capek berada di tengah "aktivis blackberry" ini.
No comments:
Post a Comment