Friday, August 28, 2009

Suku Perut Buncit

Hamil dan sendirian itu nggak enak. Waktu di Jakarta beberapa keluarga dan teman bertanya, ngidam apa? Waduh, nggak pake ngidam, tante, jawab saya. Kayaknya sisi rasional saya yang menang daripada sisi manja saya. Bayangkan di sini, Seattle, kalau saya ngidam yang "aneh-aneh" mau cari di mana? siapa yang mau beliin? Maksud saya, kalau saya dengar cerita teman (atau status FB yang menurut saya sungguh nggak perlu), kayaknya ribet banget. Sampai ada yang minta cariin tahu sumedang tengah malam (ini si nggir :-)), wah di sini mana bisa? :-)

Saya harus hadapi semuanya sendiri. Belanja dan bawa barang berat-berat dari u-village atau int'l disctrict sendiri; jalan kaki atau naik bis (maklum nggak punya mobil, krn hidup sendirian dan tinggal dekat kampus, lebih mahal kalau punya mobil). Semuanya mesti saya lakukan sendiri: mulai dari belanja jauh2, masak, cuci piring, vacuum cleaning sampe nungging-nungging :-), merawat pot tanaman gw tersayang, nginstall cable modem, ganti bohlam, ngegosok kamar mandi, mbersihin dapur, dll. Nggak ada tuh yang manjain, mijitin kaki, ngambilin minum :-).

Memang dulu bininya si engkoh juga selama hamil anak pertama ditinggal sekolah. Tapi paling tidak dia di Jakarta, ada keluarga yang menopang perubahan biologis dan psikologis kehamilannya; serta pembantu yang mengerjakan pekerjaan rumah. Nah gw?? :-) Yang saya ajak sharing soal perasaan dan perubahan tubuh pun nggak ada; hanya dokter saya, Arlene, dan telepon-telepon internasional ke FF dan mama; plus ngomong sama perut saya sendiri kayak orgil :-). Saya baru ngaku ke "gank ibu2 seattle" minggu lalu. Kenapa begitu? Bukannya saya pura-pura menjadi superwoman atau pregnant in denial, tapi ini karena persoalan pelik sebagai anak emas supervisor yang ditempeli seribu harapan di jidat. Sebenarnya supervisor saya sudah pernah memberi tanda-tanda (meski tidak eksplisit) bahwa dia nggak mau saya hamil selama sekolah. Maka orang di kampus sampai sekarang belum ada yang tau karena saya masih tahan berita ini sampai saya ketemu supervisor saya (saya baru akan ketemu dia minggu depan, ketika prospektus saya sudah jadi).

Ngidam

Soal ngidam. Dari dulu saya kurang percaya dengan konsep ngidam. Menurut saya itu hanya psikologis. Tapi saya tidak mau gembar gembor karena saya pikir tidak fair bilang begitu selama saya belum pernah merasakannya. Namun akhirnya saya sekarang bisa bicara lantang: ngidam adalah cermin kemanjaan! :-). Jangan marah ya untuk yang ngidam :-). tapi saya punya kesimpulan berdasarkan riset pustaka :-) dan pengalaman, bahwa ngidam itu adalah pengaruh psikologis dan budaya. Tapi secara biologis sebenarnya tidak ada.

Saya sempat browsing dan memang ada perdebatan akademik tentang itu. Bisa jadi "ngidam" itu mekanisme tubuh untuk mengingatkan kita akan kekurangan suatu zat yang dibutuhkan si jabang bayi. Tapi, kata artikel itu, kalau itu isunya, kenapa ibu hamil nggak semuanya ngidam brokoli dan jus apel aja? Malah ngidamnya (kl di amerika) es batu atau acar timun (kl di Indonesia ya itu: tahu sumedang lah, toge goreng tapi yang harus di tempat tertentu lah, dll).

Saya senang efek psikologis dan kemanjaan saya bisa saya kalahkan dengan rasio saya soal kondisi saya yang sendirian dan sedang sekolah. Efek bagusnya saya jadi suka masak karena nafsu makan berkurang total dalam 3 bulan pertama (berat badan saya turun 4 kilo dalam 3 bulan pertama). Jadi
suka masak karena saya ingin memaksa diri sendiri untuk makan :-). Saya betul-betul lebih rajin masak dan berpikir soal asupan makanan saya sekarang. Snacking saya selama di Seattle lebih sehat sekarang: mozzarella stick, apple slices, baby carrots, dan buah2an lainnya. Dan tiap hari saya juga makan buah dan jus sayuran (ada V8 di sini, jus sayuran di botol, my best friend! :-)). Belanja juga lebih terkoordinasi :-) semua makanan organic dan makin jarang beli makanan jadi yang sangat didoyanin orang amrik. Hanya saja semua ini jadi lumayan kacau begitu di Jakarta sebulan: makanan organic susah didapat, polusi gila-gilaan, dan makanan enak namun ber-MSG bertebaran di mana-mana.. mana gw tahan?? :-)

Duh, "ibu-ibu" banget deh cara mikir gw sekarang pokoknya :-P. Mama sampai nggak percaya. Dan ff cengar cengir bahagia (mungkin dia pikir: akhirnya bini gw sadar juga selama ini dia hidupnya kacau sekali dengan junk food, rokok, alkohol, kopi, goreng2an, mie melulu, makanan superpedas, dll :-)). I miss my cigarettes, wine, beer, my favorit vodka tonic, and mostly coffee, but I can wait lah.. ;-P

Efek Samping :-)

Efek buruknya ada pada sekolah saya. Saya sangat distracted dengan kehamilan ini. Saya lebih sibuk belanja, masak, dan baca-baca buku soal kehamilan dan anak daripada mengerjakan disertasi saya. Efek biologis juga kurang bagus. Saya kadang jatuh tertidur begitu saja ketika sedang membaca buku. Belum lagi mood swing yang membuat saya kadang seharian tidak bisa menulis atau membaca apa-apa.

Jadwal sekolah saya juga semua harus diubah dan disesuaikan. Saya harus meminggirkan rencana fellowship di Leiden yang sudah saya atur dengan indah dengan Pak JMO. Juga visits ke Melbourne, Sydney dan UC Berkeley yang sudah saya janjikan dengan Pak TL, SB, dan DC. Bahkan sepertinya saya harus menunda magang saya di kantor Senator Murray di DC :-(. Waktu saya akan "terbuang" minimal 6 bulan. Saya HARUS general exam sebelum November ini berakhir. Kalau tidak saya bisa-bisa lulus dalam 5 tahun, tidak 3 tahun seperti ambisi saya (dan supervisor saya).

Tapi saya menikmati ini semua. Saya menunggunya sejak lama. Saya menundanya tiga tahun semata karena saya terlalu menikmati pekerjaan dan sruntulan saya yang menarik itu; egoisme saya. Sebelum saya ke sini, kerja adalah prioritas nomor satu saya, bahkan di atas ff.

Waktu kawan-kawan saya, yang anaknya sudah besar-besar sekarang, tidak tidur karena menjaga bayinya; saya juga tidak tidur untuk kerja di kantor, pulang kantor jam 5 pagi. Waktu kawan2 saya harus ngantri untuk imunisasi bayinya di RS, saya ngantri di airport untuk tour of duty. Waktu kawan saya ngobrol dengan anaknya, saya me-lobby anggota DPR sampai jam 11 malam atau memantau rapat DPR sampai jam 2 pagi. Waktu kawan saya terbangun pagi karena anaknya nangis, saya juga harus bangun untuk pesawat paling pagi, wawancara pagi, atau early breakfast meeting sama boss2. Waktu kawans saya mungkin menikmati waktu dengan keluarganya; saya merenungi hidup saya yang ajaib sambil merokok, kadang sambil mengeluh dan mengusap air mata (ini sblm ketemu ff ;-)), menyeruput kopi dan tetap ngedit atau bikin makalah di smoking room sampai jam 4 pagi (bukan karena kerja tak efektif tapi siang-sore selalu penuh dengan meetings, lobby, wawancara dan jadi pembicara). Waktu kawans saya mengeloni anaknya di pelukan ketika weekend, saya pulang maen basket ganti baju dan terus clubbing sampai jam 7 pagi (work hard, party hard used to be my motto :-P) atau tetap rapat koalisi di hari Minggu.

Sekarang giliran saya, kawans. Saya sengaja keluar dari itu semua, meninggalkan Jakarta yang gila; tiba di sini, untuk belajar, berefleksi atas semua itu, dan bercengkerama dengan (calon) anak saya.

Dari dulu saya ingin punya anak. Walau saya cukup gila-rencana, kadang jiwa impulsive saya bilang saya mau punya anak di tengah kesibukan saya yang gila di Jakarta, tapi ff adalah penyeimbang yang luar biasa. Dia yang selalu mengingatkan bahwa kami berdua tidak ingin punya anak yang diurus pembantu atau ortu. Maka kami menundanya sampai kami di sini. Tiga tahun. Tepat 3 tahun; pada saat kami pertama kali mencoba setelah pada dinner ultah perkawinan ke-3 di DC kami memutuskan untuk mulai mencoba (I'll spare you the details lah ;))).

Kamu sangat dinantikan, anakku. Itu yang selalu saya katakan padanya, pada perut buncit saya yang kini sudah bergerak-gerak. Lima bulan dia sekarang. Begitu banyak harapan kami: supaya kamu pintar, sehat, cantik, dan segala macam. Apalagi
saudara-saudara gw yang dodol yang omongannya selalu soal selebriti setengah bule yang terkenal... aduh! Enggak, kamu nggak harus menjadi itu semua. Cukuplah buat kami kalau kamu sehat, cerdas, dan berani. Kamu boleh jadi apa saja. Kami akan tetap mencintaimu, tanpa syarat.

2 comments:

Katadia said...

Selamat atas kehamilannya. :)

Saya menikmati tulisan2mu Queen Bee.

Waktu saya seharusnya sedang fokus menulis thesis, saya malah nikah, hamil, kehilangan jabang bayi, hamil lagi, punya anak, hamil lagi, dan yang terakhir, saya submit lima hari sebelum anak ketiga saya lahir. Tiga tahun tidak cukup untuk menata hidup saya dan merampungkan apa yang saya mulai. But that was me. You sound like you're very committed to what you're doing.

Selamat menikmati! :)

Anonymous said...

Thank you! :-)

Well I'm not that committed actually :-) but I'm trying to be optimistic and to motivate myself ;-). Kita liat aja nanti lah gimana... kebanyakan maunya sih :-)

Dan bukannya mau sok-sokan 3 thn, memang law school saya ini course worknya cuma setahun dan general exam "cuma" menguji prospektus penelitian dan a sample chapter, bukan comprehensive exam (spt departemen lainnya di sini) :-), jd memang less hectic ;-).

b