Ibu Sani (pembantu meneer bas): "Mbak pembantunya ada berapa?"
Pembantunya mbak Dewi: "Bu kok repot banget, mbaknya nggak dibawa?"
Sepupu saya: "kok nggak pake baby sitter???
Dan entah berapa puluh kali saya harus merespon pertanyaan serupa. Capek. Alasan saya ada tiga.
Pertama, saya memang "bercita-cita" :) mengurus anak dengan tangan sendiri. Makanya hamilnya pun ditunda sampai saya "siap mental" untuk ini: rela meminggirkan egoisme saya dalam mengejar capaian kerja dan pergaulan.
Kedua, saya sulit sekali percaya pada orang lain, apalagi untuk soal mengurus anak. Tapi jawaban ini jarang saya ungkapkan, meskipun ini yang penting.
Ketiga, saya mau "latihan"untuk kembali ke Seattle Mei nanti. Dan toh saya bukannya tidak punya pembantu. Ada Mbak Sukini yang datang tiap Senin, Kamis, dan Jumat dari jam 8 sampai jam 15 untuk mencuci piring dan baju, nyapu-ngepel, dan masak. Saya bahkan mulai pusing ketika membayangkan nanti di Seattle juga harus melakukan semua itu plus merawat si melati hanya berdua FF.
Ada juga yang bilang: "bawa pembantu aja ke Seattle" atau "mamanya dibawa ke Seattle aja untuk bantu2". Yang bilang begini sepertinya nggak sadar bahwa saya sesungguhnya kere :-). Biasanya ada dua kesalahan persepsi.
Pertama, sekolah di luar negeri bukan berarti kaya raya :-). Ortu saya sama sekali bukan orang kaya dan juga bukan toga, tomas, dan toda yang bisa dapat fasilitas. Papa hanya pensiunan pns golongan rendah (krn tidak s1, hanya "sarjana muda") dan mama tidak kerja. Saya bahkan harus menopang hidup keluarga saya (plus kakak dan adik saya... ah kadang saya luar biasa lelah pikiran karena ini :-( tapi itu lain cerita... dan tidak perlu saya ceritakan). Sejak S1 semester 3 sampai s3 ini semuanya beasiswa. Saya ke Seattle juga hasil usaha keras lobby sana sini dan/atau bikin proposal agar dibayari oleh "institusi2 terkait" ;-) (btw, ada kabar cihuy, proposal saya baru disetujui oleh Ford :D).
Kedua, punya suami orang bule bukan berarti kaya raya. Dia bukan orang corporate, kerjanya di development sector juga. Tentu saja gaji bule di sektor ini puluhan kali lipat dari gaji rata2 "LSM lokal". I cannot complain about it. Tapi tetap saja, jangan samakan kami dengan pasangan-pasangan kawin campur yang bersuamikan bule di perusahaan multinasional yang kebetulan diposting di Indonesia. FF tidak membayari sekolah saya (tuition law school mahal banget boook!). Dan saya juga bukan tipe perempuan yang menengadahkan tangan minta "jatah bulanan gaji suami" buat nyalon, beli kosmetik, beli laptop, atau belanja keperluan pribadi lainnya, meski tentu saja belanja, household bills, dan jajanan saya kalau kami jalan bareng pasti dia bayarin :D. Kami sangat jauh dari kemiskinan tapi juga tidak kaya raya seperti raja-raja. Yang jelas, kami punya prioritas dan gaya hidup yang berbeda (pertanyaan lainnya yang juga sering ditanya: kok nggak pake supir???). Dan mengekspor pembantu ke Seattle jelas bukan prioritas.
Nah, membawa mama ke Seattle, apalagi bawa pembantu, jelas butuh biaya yang luar biasa plus kerepotannya. Mulai dari ngurus visa dengan jaminan2 rekening bank-nya, biaya hidup di sana, dan tentunya tiket pesawat yang gila-gilaan. Ah, lupakan!
Jadi saya ceritanya latihan. Dan kami juga hanya berdua. Tanpa mama dan mama mertua seperti kebanyakan teman saya. Bukannya sotoy, tapi ini karena kami juga tidak tinggal di rumah ortu dan kami (bukan hanya FF) sangat menghargai privasi. Tentu saja saya hepi kalau mama-papa datang (maklum cucu pertama, jadi sering banget disambangi), tapi banyak hal soal cara merawat anak yang tidak sinkron antara saya dan mama dan tante2, uwak2, nenek2, dan banyak kerabat saya lainnya. Saya anak buku dan kelas.
Saya percaya soal kemungkinan colic dan insecurity after womb daripada diganggu setan dan harus tarok gunting dan Al Qur'an di bawah bantal untuk menangani tangisan yang tak henti2. Saya tidak percaya konsep "bau tangan." Tapi saya pakai minyak telon, membedong bayi, dan "gendong kain". Saya memilah dan memilih ribuan info yang saya terima dari kiri-kanan, tetua-tetua. Ada yang bagus dan ada yang tak masuk akal. Mitos. Tapi lucu juga kadang-kadang.
Teman setia saya dalam kesoktauan saya ini ada tiga: buku, babycenter.com, dan Total Baby App. di Iphone. Saya punya tiga buku yang saya bolak-balik terus untuk belajar (Simkin, Whalley, and Keppler dari UW Clinic, Mindell Sleeping Through the Night, dan kado dari DZ Baby book-nya keluarga Sears yang terkenal :-P). Babycenter.com menemani saya sejak hamil 5 minggu sampai sekarang. Saya belajar mulai dari cara memandikan anak, berapa lama kebutuhan rata-rata tidur, milestones, sampai postpartum hemorrhoids (ini bahasa kerennya, sebenernya sih: wasir gara2 brojolin anak! haha) dari sini. Dan Total Baby App itu amat sangat luar biasa untuk emak-emak sok tau yang ngurus anak sendiri kayak saya. Ia mencatat waktu menyusui, ganti popok, tidur, jadwal dokter, pertumbuhan, dll. Saya yg Dory ini (short term memory syndrome maksudnya :D) jadi bisa dengan mudah mengetahui misalnya, saya terakhir ganti popok 6 jam yang lalu sehingga sudah harus diganti. Atau ketika jam 4 sore ternyata si melati baru tidur 1 jam. I think it's a must-have app for Iphone mommies! Only $4.99 :-D
Begitulah. Saya jadi emak-emak sok tau. Tanpa pembantu. Tanpa mama dan mama mertua (nggak bisa anyway, dia kan di jerman :-)). Tapi saya harus bisa. Di amrik dan eropa sana toh kalau bukan keluarga kaya raya juga tidak akan bisa afford nanny. Jadi buat FF ini fenomenon biasa saja. Buat saya tidak terlalu biasa (pembantu-pengasuh anak juga dimiliki mama waktu kami masih kecil). Dan buat keluarga dan beberapa teman saya aneh :D.
Sebenarnya memang ini biasa saja, tapi saya seringkali harus menjelaskan bahwa saya tidak punya pembantu-pengasuh karena beberapa teman dan kolega kadang tidak mengerti kalau saya harus membawa melati ke mana-mana atau kalau mengatur jadwal pertemuan yang agak aneh karena harus aplusan dengan ff untuk merawat melati. Jadinya kesannya bangga banget berkoar-koar nggak pake pembantu, padahal maksudnya biar dimengerti aja. Ketidakmengertian ini seringkali disebabkan kebanyakan kawan/kolega punya pengasuh anak. Krn pilihannya memang kalau mau tetap kerja atau bisa bergaul ya harus punya asisten - ya wajar aja (untuk standar kelas menengah ke atas di Jakarta). Masalahnya saya ini kemaruk :). Kepingin ngurus anak sendiri, tapi juga ingin tetap kerja dan bergaul. Maka si melati sudah saya ajak rapat sana sini (bahkan pada sebuah rapat di mana ff tidak bisa menemani, saya rapat sembari menggendong dia yang tertidur lelap :)), 'gaul' ke Loewy's, mall2, rumah teman2, dll. Ya mau gimana lagi, saya kadang bosan juga 24/7 di rumah. Jadi tiap weekend kami biasanya jalan. Dan toh di negara2 maju zonder pembantu itu juga sudah biasa bayi dibawa-bawa. Sebab kehidupan kan nggak berhenti walau punya bayi dan cannot afford a nanny: tetap harus belanja, masak, dll. Apalagi di kampung-kampung dan di pelosok, ya biasa aja ibu2 menggendong bayi sembari kerja di sawah, kebun, atau di dapur. Jangan manja ah :)
Yang penting untuk saya sadari, dari satu sisi ini sesungguhnya adalah kemewahan. Saya punya pilihan untuk menjadi stay-at-home-mom dan merawat melati dengan tetap kerja di rumah. Saat ini saya sedang punya 2 kerjaan dan satu calon kontrak baru, semua dikerjakan dari rumah. Dan tetap diminta membantu menulis buku atau wawancara penelitian jarak jauh. Memang ada tawaran yang harus saya tolak karena membutuhkan perjalanan ke luar kota. Juga, saya menghilang dari peredaran wacana hukum tata negara yang sebenarnya lagi ramai karena waktu wawancara tergantikan oleh waktu menyusui atau mengganti popok atau menidurkan (uh, kadang sedih juga karena "gank" saya berlomba berkomentar di berbagai media dan saya hanya menonton /membaca mereka sembari menyusui atau menidurkan si melati dengan segala pemikiran berkecamuk di kepala). Tapi saya sadar betul bahwa saya tidak boleh mengeluh. Banyak ibu lain, paling tidak setelah cuti melahirkannya habis setelah 3 bulan (melati sekarang baru 2,5 bulan), tidak punya "kemewahan" untuk tidak kerja karena ada kebutuhan gaji kedua dalam rumah tangga. Atau ada ibu2 lain yang tidak punya kemewahan untuk bekerja di rumah seperti saya sementara bekerja seringkali juga adalah "kebutuhan psikologis".
Menempatkan segalanya dalam konteks memang selalu penting.
No comments:
Post a Comment