Thursday, March 25, 2010

Campuran

Sembari mendengar "ocehan" si melati yang makin seru belakangan ini (she's a smiley and chatty baby!), saya sering berpikir tentang masa depannya. Tentu saja setiap orang tua akan berpikir tentang ini. Tapi saya seringkali tercenung lama mengingat posisinya sebagai anak campuran - maksud saya setengah Indonesia setengah Jerman. Saya saja bisa membedakan dengan tajam antara kebiasaan dan bahasa antara keluarga nenek saya (dari mama) yang asli babat sekayu dengan nek anang (kakek dari mama) yang asli komering. Padahal semuanya sama-sama dari Sumatera Selatan. Apalagi antara keluarga papa yang Sunda (banten) dan Jawa (purworejo) dan keluarga mama. Saya sampai punya catatan stereotip buat masing-masing mereka hehehe.

Jadi kadang saya kuatir si melati akan kelimpungan dengan perbedaan yang luar biasa antara saya dan ff. Soal bahasa satu hal. Saya yang lebih banyak menghabiskan waktu dengannya sering menyanyikan lagu anak-anak Indonesia untuk dia (menakjubkan, tiba-tiba semua memori kanak-kanak saya muncul ketika saya harus menyanyi untuk melati :-)) dan tentu saja berbicara dalam bahasa Indonesia. Teman kami yang ahli linguistik bilang, setiap orang harus berbicara dalam bahasa ibunya ketika berbicara dengan melati: saya konsisten berbahasa Indonesia dan FF konsisten berbahasa Jerman. Bahasa Inggris nantinya akan dia pelajari ketika di sekolah. Dengan begitu si melati tidak akan bingung (dan mungkin jadi pendiam atau terlambat berbicara) dan malah akan jadi pintar (karena kemampuan berbahasa punya dampak penting pada kemampuan otak). Saya percaya pada dia karena dia adalah seorang Amerika-Yahudi yang berbahasa Ibrani (selain Inggris, Indonesia, Jerman, Batak, Jawa dll hehehe he's amazing) dengan mantan istri orang Thailand dan anaknya yang sekarang remaja bisa berbahasa Ibrani, Thai, dan Inggris dengan sangat fasih. Pagi dan sore, saya berikan Melati pada ff supaya ff mulai mengenalkan bahasa Jerman (sayangnya ff nggak bisa nyanyi lagu anak-anak Jerman :-)). Tapi upaya ber-multi-bahasa ini pun sangat susah dan saya sedikit kuatir. Karena walau kami punya bahasa masing-masing, saya dan ff kebanyakan berkomunikasi dalam bahasa Inggris dan kadang kami membuat kekacauan dengan mencampur bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Tentu ini tidak masalah buat kami, namun kami sadar kebiasaan buruk ini harus kami ubah, kalau tidak si melati nanti akan bingung.

Tapi soal bahasa ini hanya awalnya. Kami juga harus berpikir soal banyak lainnya. Kami ingin mengenalkan melati pada kebiasaan makan yang berbeda antara saya dan ff. Saya dan ff adalah "food explorers" yang suka mencoba beragam makanan. Tapi staple dan makanan sehari-hari tentu saja terbentuk dari masa kecil kami. Ada kalanya saya bosan makan "makanan barat" dan ingin makan nasi dengan sambal yang pedas atau mie dengan cabe rawit. Dan ada kalanya ff yang bosan dengan nasi dan sekadar bikin sandwich atau pasta atau apa saja. Kadang kami makan bersama dengan menu berbeda. Nah, si melati nanti bagaimana ya? Saya bicara soal bubur nasi, ff bicara soal mengunyah pretzl yang baik untuk membentuk gigi.

Juga mengenai cerita dan permainan anak-anak. Saya akan bercerita soal si kancil atau malin kundang. Dan ff akan mengenalkan Die Biene Maja dan Pumuckl. Juga budaya secara umum: saya akan bercerita soal negeri ribuan pulau dengan pantai yang indah dan flora-fauna yang unik dan ff akan mengenalkan kebudayaan Jerman yang tua dan menarik dengan Christmas market yang indah, membuat snowman, dll. Melati juga akan merayakan natal dan paskah dengan "oma-opa jerman" dan merayakan idul fitri dan idul adha dengan "oma-opa bintaro"-nya; bahkan mungkin juga passover dan hanukkah dengan Oma Arlene.

Saya saja masih banyak belajar, bukan hanya bahasa, pada FF mengenai budayanya yang buat saya sangat menarik karena sama sekali berbeda dengan budaya saya. Bikin "angel" dengan tiduran di salju misalnya, sumpah mampus saya baru tahu karena kan di Indonesia tidak ada salju :-) juga soal budaya wine, bir, dan roti yang kuat di Jerman plus cerita black forest, mencari berries dan jamur, dll. Begitu pula sebaliknya. Meski sudah lama di Indonesia, ada budaya dan kebiasaan, bahkan gaya berbahasa yang ff belum tahu. Maka si melati harus belajar keduanya. Dan repotnya dia juga akan hidup di negara ketiga. Satu-dua tahun ke depan di amrik, Mei nanti kami akan berangkat lagi. Dan setelah itu ada kemungkinan kami tinggal di OZ atau Sin, tergantung pekerjaan kami nanti. Maka melatipun harus beradaptasi pula dengan "budaya lokal".

Mungkin dia akan kewalahan (terjemahannya overwhelmed apa ya? :-)). Tapi barangkali lebih mudah buat dia karena dia menjalaninya sejak kecil. Kami belum tahu. Yang jelas kami akan membuat segalanya senyaman mungkin untuk dia. Dan saya tidak ingin ia melupakan akar Indonesianya. Saya ingin dia bisa bernyanyi lihat kebunku, bermain congklak, dan tetap sayang sama "oma-opa bintaro" dan om-omnya meskipun mereka cuma orang biasa yang boro-boro lihat salju seperti di negara kedua melati, ke luar negeri saja belum pernah.

Saya hanya kuatir dia akan bingung dengan "identitas"nya. Bukan dalam arti kewarganegaraan, tapi "akar budaya." Tapi bukankah "akar budaya" adalah sebuah konsep sosial? Saya punya superculture juga walaupun sifatnya mini dibanding superculture-nya si melati. Setiap ditanya "kamu orang mana sih B?" saya selalu menjawab, "saya lahir dan besar di Jakarta." Agak nggak nyambung pertanyaan dengan jawabannya :-), tapi itu jawaban terbaik yang bisa saya berikan dengan latar belakang budaya saya.

Jadi barangkali paradigma saya atau kami (atau kita) yang harus dibongkar. Frase "orang mana" atau "asli dari mana" bisa saja diterangkan secara sederhana dengan tempat kelahiran atau kewarganegaraan. Tapi ia sesungguhnya mengandung konsep budaya yang tidak lagi sederhana untuk orang-orang seperti si melati, bahkan sebenarnya juga saya, dalam skala yang kecil. Jangan memaksakan untuk "mengakarkan" diri pada kultur yang satu. Biarkan saja. Saya (atau kita) mestinya bangga bahwa kita dibesarkan dalam kekayaan budaya. Budaya-budaya yang berbeda itu jangan dihadap-hadapkan untuk dibenturkan; tapi untuk diresapi sebagai kekayaan dan anugerah. Dibandingkan bukan untuk ditimbang mana yang lebih baik dari yang lain; melainkan untuk menghargai kekayaan substansinya masing-masing dan memahami konteksnya.

Soalnya: bagaimana caranya supaya si melati bisa memahami pemahaman saya yang cukup rumit (dan sedikit berlebihan kayaknya hehe) ini? Saya hanya kuatir dia akan mengalami apa yang beberapa teman saya alami (dan beberapa acara yang saya tonton, di Amerika banyak orang seperti ini karena banyak migran): bingung dengan "identitas"nya. Mudah-mudahan kami bisa mengenalkan soal perbedaan budaya ini dengan baik pada melati.

"Proyek Melati" ini memang luar biasa tantangannya :-)

No comments: