Ada tiga godaan terbesar bagi upaya saya dalam bersekolah. Yang pertama dan kedua sangat berat karena jauh lebih menarik. Yang ketiga sekadar kemalasan. Oh ya, omong-omong, saya sudah kembali ke Seattle sejak akhir Mei lalu.
Yang pertama adalah, tentu saja, si melati. She is now the centre of my universe :-). Sebagian besar hari saya habiskan untuk dia. Awalnya saya mengklaim "terpaksa", karena hidup zonder pembantu ataupun kerabat. Tapi belakangan saya sadar, itu alasan yang mengada-ada. Sebab kalau mau, saya bisa aplusan dengan ff, meski tak mudah. Alasan yang jujur: memang saya menikmati menghabiskan waktu saya untuk si melati. Saya menikmati tidur berpelukan dengan dia. Saya menikmati berjam-jam mempelajari soal makanan bayi: kenapa yams lebih baik daripada wortel dan kenapa home made kangkung bisa mengandung banyak nitrat. Saya menikmati membacai contoh jadwal ibu-ibu lain untuk belajar; atau milestone apa yang bisa dicapai si melati tiap minggunya; atau berapa jam tidur yang dia butuhkan untuk perkembangan otaknya. Baby stuff is a whole different body of science! :-) which is obviously more interesting than law! :-))
Tapi ini memang tidak mudah. Saya sekarang betul betul seperti kalong. Kerja di malam hari dan tidur di siang hari (sekalian menemani si melati tidur siang). Mustahil bisa konsentrasi menulis di siang hari kalau tidak ke luar rumah. Harus masak, menyiapkan makanan si melati, nyuapin si melati, menyusui, mompa ASI, nidurin si melati, cuci piring (oh well, ada dish washer :)), cuci baju, ngepel, belanja, bersihin rumah sekali-kali, dll (untungnya ada FF kali ini, setengah dari pekerjaan rumah ya dia yang melakukan :-)). Makanya saya harusnya ke ruang kerja kalau siang. Itu yang dilakukan kawan-kawan PhD lainnya yang juga ibu-ibu: mereka ambil nanny yang dibayar perjam, atau titip ke day care yang juga mahal banget. Saya sebenarnya punya FF yang bisa diajak aplusan (love him more that he is willing to be together here and left his nice job), tapi ya itu tadi: saya masih menikmati menghabiskan setiap detik yang saya lewati bersama melati. Mungkin nanti ketika udah mepet :-).
Yang kedua adalah pekerjaan. Saya sudah menolak setidaknya lima tawaran kerja yang "wow wow fantastis", namun mengharuskan saya kembali ke Jakarta. Ini tantangan berat. Tapi saya tahu, kalau saya ke Jakarta, sekolah saya bisa nggak selesai. Tapi ego saya membutuhkan kerja.
Maka ada beberapa pekerjaan jarak jauh (menyunting dan menulis) yang saya kerjakan; plus beberapa janji konferensi dan menulis bab untuk buku. Judulnya "nyambi", tapi kenyataannya mereka jadi nomor satu dan tesis nomor dua. Tulisan untuk tesis tidak juga beranjak dari bab kedua sementara setiap malam saya kerja untuk yang lain. I am bad :-(. Dan inipun saya sedang negosiasi kontrak dua pekerjaan besar yang bohirnya membolehkan saya desk work dari Seattle meskipun proyeknya di Jakarta.
Tapi saya memang butuh bekerja.
Yang ketiga klasik belaka: kemalasan. Tidur pagi saya kadang sebenarnya tidak membuahkan hasil. Kalau musim malas datang, saya tidak bisa menolaknya. Saya hanya browsing, baca-baca berita, buka face book, chatting atau apa saja. Tetap berusaha tidak tidur dengan harapan kemalasan akan pergi. Tapi kadang hasilnya nihil. Dan jam 5 pagi si melati sudah teriak. Maka berakhirlah "jam kerja" saya. Malas. Malas. Ampun. I am a total slacker. Ini juga lagi malas. Makanya malah menulis di blog dan bukan kerja.
1 comment:
As one slacker to another, here's me checking on your blog rather than do the same old, same old beban ganda. Congrats B!
-gepede
Post a Comment