Wednesday, September 30, 2009

Pembantu

Dua minggu terakhir ini: menjelang dan sesudah lebaran, banyak status teman di face book yang mengeluh soal pembantu. Don't get me wrong, saya ngerti sengerti-ngertinya kalau punya anak dua atau tiga itu beda banget sama nggak punya anak kayak saya: bisa sruntulan dan sembarangan. Jadi ini bukan mau sok-sokan bilang I am better than they are, sama sekali enggak. Tapi yang lucu itu status soal nitty gritty kerjaan pembantu yang akhirnya mereka rasakan. Ada yang nulis: "wah ternyata untuk bikin WC kinclong si mbak harus ngebersihin WC dengan jarak muka 10 cm saja" :-) (sementara saya bersihin kamar mandi dan nyikat wc tiap minggu). Ada juga yang panik sepanik-paniknya karena pembantu nggak pulang-pulang. Atau tinggal sementara di hotel karena nggak ada yang masakin, nyuci-nyuci, dan beres-beres. Sekali lagi, bukannya saya sok jagoan, sebab toh buat saya beda karena belum ada anak dan saya dr dulu biasa hidup mandiri jadi nggak "kaget". Tapi ya lucu aja sih. Sama lucunya dengan ketika saya melihat adik sepupu yang anaknya lebih deket ke pembantu dan dititipin di mertua dan pembantu sementara dia jalan-jalan ke singapura belanja sama temennya yang selebriti (temennya ini "beli" anak -bukan ngangkat resmi- dan anaknya toh diurus pembantu). Buat dua anak ini, sepupu saya dan teman selebritinya, anak memang seperti aksesoris.

Beberapa status yang lucu-lucu:
ni Negara udah sakit banget yaaa...masa mau nyari suster aja mesti pake org dalem..gw suruh laki gw grebek aja deh tuh tempat..--
Embooooooook cam beeeeeeek suuun.... Body dah ngiluuuuuuw...
2 Prt positif gak balik, ninggalin baju sekoper lagee..di sms bilang "titip baju sy bu", badan remuk, tk pijet andalan msh di yogya, besok dah ngantor, mgg dpn mission, si sulung mgg dpn UTS. Jgn mengeluh, hrs b'syukur msh ada laundry ...kiloan + mbak irah yg dtg 2 hr sekali u/ bantu bersih2 walau hny 3 jam sj. Really needs a massage & 'me time'
Sama juga lucunya dengan pengamatan saya terhadap keluarga sil. Mama nggak tau cara bikin bubur untuk baby sil (biasanya dibikinin pembantu) dan mama-papa berantem gara2 sil sering jatuh atau kejedot. Atau main tuding-tudingan sekarang giliran siapa yang harus ganti popok atau mandiin sil. Semuanya karena nggak biasa ngurusin anak sendiri. Sibuk maen bb, anak jatoh dari bangku :-)). Maklum, di Jakarta mereka tinggal sama Ortu meski udah kawin. Anak diurus ortu, mertua, pembantu. Sampai di sini tiba-tiba semua harus diurus sendiri. Jadi pembantu iya, jadi nanny iya: bersihin kamar mandi, masak sendiri (belum lagi harus cari tahu nama-nama sayuran dan bumbu dalam bahasa Inggris hehe), masak bubur untuk anak, cari tempat belanja yang murah, dll. Kaget total. Kadang saya kasihan, tapi mereka harus mulai belajar. Sebenarnya mungkin nggak terlalu parah, hanya karena nggak ada "masa transisi": lepas dari rumah ortu/mertua langsung harus tinggal di luar negeri tanpa pembantu dan lebih disiplin. Jadi kaget aja. Mama sil sampai sms mamanya di Jakarta untuk nanya: gimana cara masak bubur tepung beras merah? :-) Kalau sil baru lahir tentu saya mahfum, toh saya juga pasti nanti awalnya bingung mengurus anak waktu baru lahir walau sudah ambil kelas macam-macam dan baca buku ratusan halaman. Tapi sil sudah 10 bulan umurnya! Saya hampir terkekeh-kekeh tapi demi keberadaban saya diam saja. Akhirnya itu bubur gosong dan baby sil dikasih bubur instan lagi. Kasihan anak itu.

Saya jadi berpikir soal pembantu. Betapa mental kita begitu terbiasa dengan pembantu. Saya juga kok. Di Jakarta ada mbak Yanti yang datang dua hari sekali untuk nyuci, nyetrika, dan beres-beres karena kerjaan kantor saya kadang lebih dari 12 jam sehari. Tapi maksud saya perlakuan terhadap pembantu itu lho; dan bagaimana cara kita memandang mereka. Banyak kawans yang rasa kemanusiaan dan HAM-nya tinggi, itu sudah nggak masalah. Tapi saya tahu beberapa teman FB yang statusnya mengenai pembantu kadang bikin saya miris. Juga sebuah blog yang saya temukan mengenai pembantu. "Mental" itu? Bagaimana bisa terbangun? Pendidikan ortu dari kecilkah? Bagaimana mereka memandang manusia lain yang dibayar untuk mengerjakan pekerjaan rumah.

Sikap dan pandangan terhadap pembantu adalah hal terkecil dan terdekat yang bisa kita amati mengenai perlakuan, pandangan, dan penghargaan kita terhadap manusia lain. Dan sampai sejauh mana kita mau mendistribusikan tugas rumah tangga, yang sejatinya kita kerjakan sendiri (seperti mengurus anak kayak sepupu saya itu lho! aduh) kepada orang lain. Ada soal tanggung jawab di sini dan pertanyaan sejauh mana kita mau tetap memiliki tanggung jawab terhadap rumah sendiri.

Buat saya yang bibi titi teliti (suka detail), banyak hal yang harus saya atur sendiri meski mbak Yanti lumayan bagus. Tapi ada juga teman yang bahkan nggak tau di mana tempat panci-panci tertentu disimpan di rumahnya sendiri atau kenapa ada baju yang disetrika terlalu panas dan rusak. Di Jakarta enak, kalau ada baju yang kancingnya lepas, saya tinggal bilang ke Mbak Yanti untuk dipasang. Di sini ya semuanya sendiri. Mulai dari masak sampai ngelap kaca jendela. Kecuali kalau pemalas, ya cuekin aja itu semua, nggak terlalu penting nyikat wc atau bersihin rambut di lantai. Sayangnya saya orangnya "jijik-an" jadi semua harus bersih, kata teman saya clean freak :-).

Nanti kalau punya anak juga begitu. Nggak ada pembantu, nggak ada ibu atau mertua yang bantu mengurusi. Harus mikir child care kalau kuliah atau kerja, bayar baby sitter per jam kalau mau ada dinner atau acara ke luar, cari car seat yang sesuai undang-undang, dll. Jadi mikir, makanya kalau di Indonesia sepertinya tidak terlalu sulit memutuskan untuk punya anak lebih dari satu, dibandingkan dengan di Eropa dan di Amerika. Di Indonesia (mungkin di Asia pada umumnya), ada sistem sosial yang menopang hidup kita. Bukan hanya pembantu, tetapi juga keluarga. Dan standar hidupnya tidak terlalu tinggi: nggak usah berpikir beli car seat, anak tinggal dipangku saja :-) atau bahkan dinaikkan ke motor yang sudah dinaiki 3 orang lainnya :-)). Di Eropa dan negara-negara maju yang sistem sosialnya sudah patah-patah dan standar hidupnya tinggi keputusan untuk punya anak sama sekali tidak mudah. Makanya misalnya di Jerman, di Jepang, orang yang mau punya anak diberi subsidi biaya hidup oleh pemerintahnya (sayang kami tidak eligible karena tidak bertempat tinggal di Jerman :-)).

Nggak tahu kenapa saya tiba-tiba pengen nulis ini. Fenomenon yang menarik aja mungkin. Dari dulu sudah tau. Tapi jadi lebih fenomenal gara-gara status FB dan keluarga sil itu. Hehehe.

No comments: