Bolehkah aku berharap untuk mengenalmu seperti aku mengenalmu pada pagi itu? Di tengah hijaunya kampung kita. Pagi-pagi kau membuatkan susu untukku dan mengepang rambut panjangku. Lalu dengan radio tua satu-satunya kutemani kau memasak di dapur dan bercerita soal anak perempuan yang manis. Aku tak peduli walau aku tak punya baju bermerk terkenal. Dan kau akan selalu menenangkan diriku ketika aku mengeluh soal kulit legam dan penuh luka karena memanjat pohon dan jatuh dari sepeda. Kau selalu ada untukku.
Sejak siang itu segalanya berubah. Entah karena apa. Aku selalu mencoba kembali padamu. Tapi sia-sia. Aku ingin mengenalmu seperti pagi itu. Aku tak mau romantik, tapi aku ingin mencintaimu seperti dulu. Aku ingin kau masuk dalam hidupku. Dan aku ingin anak perempuanku juga mengenalmu seperti aku mengenalmu pada pagi itu. Tolong, jangan biarkan matahari terbenam dengan bercak awan hitam itu.
No comments:
Post a Comment