Friday, June 12, 2009

I Love Munik

Status saya tadi di ym: cooking. Jam 3 sore waktu Seattle, jam 5 pagi WIB, saya kira nggak ada yang liat dong di Jakarta. Sekadar fyi supaya temans di Seattle nggak ada yang ngajak chatting. Efeknya: 2 "teguran" dari Jakarta: "unbelievable!", "nggak mungkin", keduanya dari teman lama. Saya cekikikan. Kenapa sih terlalu ngetop bahwa saya nggak suka masak?

Mungkin karena pencitraan sebagai ketua pencinta alam sma yang hobi wall climbing atau citra sebagai "jenis kelamin ketiga" di tempat nongkrong di B :-) atau karena sejak jaman SMA saya selalu masak yang super praktis kalau naik gunung, sementara si bl dan beberapa teman kadang sampai bawa ulekan dan berbagai sayur mayur dan bumbu ke puncak gunung supaya bisa masak serius (anak itu memang ajaib, rela carrier-nya makin berat bawa ulekan besar). Waktu SMP juga begitu, waktu disuruh memilih kelas masak atau elektro, saya memilih kelas elektro. Jadi soal nggak hobi masak ini memang sudah banyak diketahui :-).

Saya memang nggak "hobi" masak. Bukan apa-apa, dari kecil masakan Nenek dan Mbah adalah masakan terenak sedunia. Jadi ya ini sekadar malas. Nenek: mulai dari mpek-mpek, kue 8 jam (literally masaknya memang 8 jam, khas palembang), segala masakan deh pokoknya :-) (dia dulu punya kantin di Pemda DKI dan juga restoran makanan palembang di rumahnya di Tebet). Waktu kecil saya boleh ikut menggiling daging ikan dan membuat berbagai bentuk mpek-mpek (favorit saya: orang-orangan dan kucing) di "pabrik mini" mpek-mpek Nenek (maklum restoran, jadi rada mass-production). Mbah: mulai dari pepes, maccaroni schoetel, sampai kastengel (maklum doi rada kebelanda-belandaan). Mama juga jago masak, soun pedesnya bikin kangen. Lagipula, pembantu selalu ada di rumah mama, sampai dengan 2 tahun lalu. Giliran tinggal sama pasangan (ff maksudnya), dia hobi masak, dan memang beneran hobi, pelepas stress, jadi mesti saya biarkan dooong ;-). Makanya saya suka ketawa kalau ada kawans perempuan yang curhat soal merasa "harus" belajar masak ketika sudah menikah atau kawans lelaki yang bilang "nunggu istri gue masak nih, soalnya dia masih terima telepon!" duh, pengen saya getok tuh lelaki kayak gitu, apa dia nggak bisa mengurus diri sendiri? ff dan papa adalah dua lelaki terdekat saya yang nggak pernah meminta perempuan di sampingnya untuk masak untuk mereka. Pembagian peran berdasarkan gender nggak ketat di keluarga saya. Papa nggak "memaksa" mama masak. Mama masak sukarela, dan kalau mama lagi malas masak ya dia masak sendiri atau beli makanan buat mama, tapi nggak komplain, apalagi marah-marah.

Tapi secara umum di Jakarta saya jarang masak. Pembantu di rumah kami juga nggak perlu masak. Sebab saya hampir tiap hari pulang di atas jam 11 malam. Kalau mau makan ya masak sendiri. Nggak tergantung pembantu. Seringkali ff masak sendiri dan makan sendiri untuk makan malam sementara saya masih kerja (kadang saya kasian dengan dia). Praktis saya hanya makan di rumah pada hari Sabtu dan Minggu, itupun kalau nggak ada janji makan siang atau makan malam dengan keluarga atau teman atau kolega. Efeknya: kalaupun di rumah, ya pergi ke restoran sama ff. Apalagi kami berdua sama-sama foodie, hobi nyobain restoran baru dan segala macam masakannya. Dan makanan di Indonesia luarrrr biasa murah anyway, so why bother cooking? ;-) Mendingan kabur sebentar ke Waroeng Kita, Mie Leiker, bubur ayam pinggir jalan, nunggu tukang ketoprak lewat, atau ke ampera dua tak. Saya kadang bersyukur ff sama sekali nggak ragu berdua saya makan lontong sayur di pinggir jalan, bubur ayam pinggir jalan, atau sate di samping got di menteng. Kadang dia makan di pinggir jalan sendirian (ya ampyuun bule yang satu itu, kadang dia naik mikrolet ke mal ambassador, dan minggu lalu dia naik kopaja sendirian dari Senayan ke rumah, dan gelantungan di pintu! saya ngakak waktu dia cerita ada tukang ojek yang hampir menabrak pembatas jalan karena terkesima melihat bule gelantungan di pintu kopaja). Ff sangat berbeda dengan teman-teman yang bukan orang Indonesia yang anti-makan-makanan-pinggir-jalan. Bahkan ada temannya yang nggak suka makanan Indonesia kecuali di restoran mahal (mis. di Dapur Baba, Loro Djonggrang, Bunga Rampai).

Tapi bukannya saya "anti-masak". Sama sekali enggak. Apalagi saya sadar bahwa suatu saat nanti saya dan ff harus lebih rajin masak kalau sudah punya anak. Pertama, saya suka bantu mbah, nenek, mama atau ff ketika masak. Jadi bukannya "ogah ke dapur". Kedua, kalau memang harus ya saya masak. Seperti di Warwick saya suka iseng nyoba resep-resep biar flatmates bisa nyoba masakan Indonesia atau kawans Indonesia yang pemalas menikmati makanan yang rada variatif daripada telor dadar. Di Seattle? Kebanyakan ff yang masak, soalnya seperti saya bilang, dia memang hobi masak! Mau gimana lagi dong? ;-)). Kecuali kalau kami mau makan makanan Indonesia tentunya, saya masak buat berdua. Nah, begitu ff nggak ada seperti sekarang, baru deh saya beraksi sendiri. Beda dengan Warwick, karena saya betul-betul sendirian di sini, nggak ada flatmates.

Di sini ada 2 restoran masakan Indonesia yang lumayan ngetop: Julia's Kitchen dan Indo Cafe. Tapi keduanya jauh dari rumah dan mahal, meski lebih baik daripada di Warwick yang nggak ada restoran Indonesia sama sekali. Lupakan tukang bubur ayam dan tukang ketoprak yang lewat ataupun yang mangkal. Lupakan Mi bloon yang enak dan murah. Lupakan tenda seafood atau nasi uduk di pinggir jalan. Lupakan makan dengan budget sepuluh ribu perak sekali makan. Kalau mau masakan Indonesia ya harus masak! Pilihannya, bayar sampai dengan USD30 (kira-kira 300 ribu) sekali makan. Bisa juga dibilang merki, tapi anak sekolah yang tiap makan harus menempuh 1 jam perjalanan dan 30 dollar adalah anak sekolah yang gila. Jadi, ya saya harus masak.

Tapi yang bikin saya senang belakangan ini, saya bisa melupakan nyampur bumbu-bumbu di food processor, apalagi ulekan: ada bumbu munik! Hah! Solution for a lazy ass like me!

Munik adalah singkatan dari "Murah dan Nikmat". Beda dengan bumbu indofood, kokita, dan segala macam. Kadang kita masih bisa menemukan irisan lengkuas misalnya, atau cengkeh. Jadi memang enak dan alami. Forget my food processor, forget trying hard to find pandan (not available here, "sagu" is also not available, so I can't make mpek-mpek) or lengkuas. Buat apa food processor kalau ada Munik?! :-D Bumbu ayam goreng kecapnya enak. Dan barusan saya bikin ayam balado, yang saya tambah jalapeno pepper supaya makin pedas. Nikmat betul, di tengah siang bolong yang panas di Seattle, makan ayam dan telor balado superpedas, lalap ketimun, nasi panas, dan kerupuk kampung. Sambil denger lagu Indonesia. Halah.

I love viet wah supermarket in International District for selling bumbu munik, indomie, berbagai sambel, and kerupuk (one whole section for Indonesian food and products, incl. tempe)! But i mostly love Munik! :-) Salah satu penemuan penting abad ini.

No comments: