Monday, June 28, 2004

Kupang Juni 2004

Kamar 112 Hotel Maya, Kupang, 22.20 waktu si iteung or 23.20 waktu Kupang


Yep, gue lagi di Kupang. Everything’s interesting for me. It’s always the best thing for me to know many new people and make new friends and esp. to hear many stories about injustices everywhere in Indonesia. Bukannya berarti gue senang mendengar penderitaan mereka. Tapi gue selalu merasa lebih punya gairah hidup dan keyakinan untuk kerja ketika gue tahu bahwa apa yang gue lakukan bisa punya arti dan pengorbanan yang gue berikan sama sekali nggak ada apa-apanya dengan pengorbanan banyak orang lain di daerah lain seperti di Kupang ini. Mereka yang digusur, mereka yang ditipu pemerintah, mereka yang berjuang nggak kenal lelah mendampingi rakyat di lapangan, dll dll. Beberapa cerita yang menarik misalnya soal lahan untuk menggembala mau diambil oleh pemda untuk investasi (gue lupa untuk apa, sepertinya untuk HTI), padahal sudah jadi ketentuan adat bahwa itu empat desa memiliki secara bersama-sama satu lahan luas untuk menggembala ternak. Seperti biasa pemerintah arogan dan tidak mau bernegosiasi, hanya mau merampas begitu saja (gue nggak tanya apa ada ganti rugi atau tidak). Akhirnya rakyat sana mengumpulkan ternak2nya dan memboyong mereka dengan truk ke halaman pemda dan dprd untuk menunjukkan masalah konkrit bahwa mereka butuh tempat buat menggembala. Unthinkable and remarkable how they did it kan?

Ada cerita juga soal seorang ketua DPRD daari PDIP yang selama lima tahun ini tidak pernah memimpin sidang, selalu sakit perut alasannya! Padahal dia memang tidak bisa karena bekas tukang sayur.

Menarik juga untuk melihat betapa aktivis di sini semakin sinis dengan agama. Mungkin sama seperti gue, rival di PSHK. Kita tidak menggugat Tuhan, tapi menggugat agama-agama yang jadi mengkotak-kotakkan, lembaga bikinan manusia yang mengatasnamakan Tuhan sehingga lantas merasa punya otoritas dengan nama Tuhan untuk berbuat apa saja, hingga ke hal-hal yang sebenarnya melanggar hakekat “Ketuhanan.” Buat gue, itu justru tandanya kita berpikir. Tandanya bahwa kita “percaya” pada sesuatu yang ketuhanan. Agama itu lembaga. Mempercayai Tuhan bisa dilakukan dengan berbagai cara, termasuk dengan melakukan ritual sesuai dengan kepercayaan terhadap Tuhan yang kita anut. Masalahnya muncul ketika lembaga-lembaga agama mengatasnamakan tuhannya untuk membunuh, berpolitik kotor, menindas, dan mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan dan moral. Anyway, di luar pandangan gue, di sini juga mereka berpikir begitu... mereka begitu kecewa melihat gereja yang mereka pandang tidak responsif terhadap kondisi masyarakat, justru jadi sama menindasnya dengan negara (that’s what they say). Mungkin sama saja dengan bagaimana para Haji-haji di Islam sok menyerukan moral padahal menindas masyarakat dengan berbagai cara. Begitu kecewanya mereka sehingga gereja mereka persamakan dengan negara, keuangan, kekuasaan. Apalagi ketika agama dibuat alat politik dalam pilpres sekarang2 ini. Lucunya, Pak Blasius cerita bagaimana ketika dia mendampingi suatu desa untuk membuat Perdes, masyarakat sana bertanya apa dasar hukumnya harus ada “tuhan” dalam kepala setiap peraturan termasuk peraturan desa. Buat mereka memang nggak konkrit. Apa hubungannya Tuhan dengan Perdes dan bagaimana kalau suatu peraturan yang membawa nama Tuhan justru menindas? Suatu pertanyaan genuine yang sangat menggelitik. Memang itu adalah sebuah tradisi universal. Besar kemungkinannya karena negara hukum modern merupakan evolusi tradisi barat yang dikuasai gereja. Pemimpin2 juga dulu dengan otoritas gereja. Karenanya hukum2 yang dibuat pun dianggap dengan nama Tuhan. Lepas dari itu, terlihat betapa satu hal yang kelihatannya remeh jadi persoalan ketika dalam kenyataannya hukum sudah dianggap menjadi penindas.

Cendana. Timor adalah penghasil cendana. Tapi apa yg terjadi? Pemda menarik pajak yg besar (20%) kepada penduduk yg menanam cendananya sendiri di tanahnya sendiri. Akibatnya mereka malah kesal dan menebang cendananya sehingga malah dikuatirkan cendana bisa punah! Gila kan?

Makanan di sini mahal. Mungkin karena letaknya yg jauh. Mereka nggak gemuk2, bang sony bingung. Menurut gue karena mereka ga makan santan ?, tp bang sony tambah bingung karena bukankah di sini provinsi kepulauan yg seharusnya kaya kelapa?? Gue juga ga ngerti ?. Gue belum makan makanan khas sini kecuali Sei, daging asap. Katanya banyaknya jagung, dengan daun dan bunga pepaya.

Bahasanya lucu. Seperti bahasa Ambon, sedikit manado juga. Banyak adopsi bahasa belanda. Sa pi makan= saya pergi makan. Su=sudah. Mama-bapa-nona. Bu=bung. Beta=saya. Sonde=tidak/bukan (dari zonder belanda?). torang=kita. Pakai “toh” juga sebagai tambahan, sama seperti di ambon atau makassar dengan ki, mi, ji. Aksennya seperti ambon.

Wuih banyak banget yg kepingin gue tulis. Niatnya memang kalau bepergian mencatat seperti ini. Mau kerja dulu.

No comments: