Akbar Tanjung Bebas. Yes, so what's new about that? Nothing. Of course we all knew from the start that would be the verdict. We also knew that Bang Arman would give his dissenting opinion cos we assisted him in finding the materials. But still....
Semua rasa campur aduk. Marah. Sedih. Kecewa. Bingung. Entah kenapa? Bukankah semua sudah tahu betapa brengseknya negara ini. Mulai dari atas sampai bawah. MA juga kasihan. Bukankah dari awal tuntutannya Jaksa juga sudha amburadul? MA cuma jadi keranjang sampah. Tapi seperti yang waktu itu didiskusikan dengan Arbo, dalam negara yang chaotic seperti ini kita kadang memang harus melupakan akal sehat. Lupakanlah segala dalil legal formalistik. Berat memang.
Apa efeknya buat proses pembaruan hukum? semua orang kecewa. Ureh barusan telepon cuma untuk marah-marah dan menyatakan kekecewaan. Itu aja. Dia bilang karena dia begitu kecewa tapi nggak tahu mesti bilang ke siapa? tidakkah itu terjado di benak banyak orang Indonesia? makanya lantas ketidakpercayaan terhadap hukum makin runtuh. Juga ketidakpercayaan negara-negara lain yang selama ini mendukung proses pembaruan hukum di sini. Saya sama sekali tidak takut terhadap donor-donor. Bukan, ini bukan soal uang buat NGOs. Tapi memang peristiwa setitik ini bisa bikin kemunduran yang cukup luar biasa untuk pembaruan hukum Indonesia. Terutama soal skeptisisme dari banyak lay people.
Entahlah. Sama seperti Ureh. Saya juga cuma mau merenung nggak berguna di sini. That's all. Karena saya nggak tahu mau apa lagi? Ya, besok memang mau kita sikapi bareng LeIP, Demos, dan MAPPI. Tapi itu semua reaksioner dan sebentar. Bagaimana ke depannya?
Yang jelas saya sedih luar biasa. Sebab makin terasa negara ini sama sekali belum berubah. Semoga frustasi saya nggak jadi berkepanjangan kali ini.