Negara Preman. Tesis yang lagi saya kerjakan rupanya salah. Bukan, Indonesia bukan "state capitalism", juga bukan "state socialism". Indonesia itu "State Premanism". Baru baca tadi pagi di detik, jawara banten menolak dirut Krakatau Steel. LoL. Gejala apa ini? Dirut BUMN harus dapat restu dari gerombolan Preman? Rupanya, globalisasi dan 'lokalisasi' benar-benar sudah campur aduk di sini. Bukannya pengaruh neo-liberalisme yang kental tapi, pihak lokal juga ada andilnya dalam menentukan nasib sebuah MNC (Krakatau Steel kan ada foreign capital-nya). LoL.
Rupanya (lagi) di "state premanism" ini bukan cuma tokoh-tokoh politik saja yang jadi preman, preman beneran pun diakui keabsahannya sebagai preman yang legitimate. (jadi ingat Weber, mungkin ini cocok juga dengan analisisnya Weber soal sumber legitimasi, kharisma?? kalau buat tokoh politik mungkin sumber legitimasinya legal formal, tapi sekali preman tetap preman!!). Sutiyoso juga membersihkan tanah abang dari "pemandangan tak sedap buat ibukota" dengan gerombolan preman. Begitu juga cara dia mengusir rombongan LSM yang menggugat kebijakan dia, sampai Mbak Wardah dkk luka-luka. Kelompok Preman dibentuk dan diberi label Islam. Kan kasian orang-orang Islam lainnya yang "sudah jatuh" karena label teroris di mata internasional dan kini "tertimpa tangga pula", dikasih label preman di mata nasional.
Soal anggota DPR tadi, coba aja, di Surabaya, konon, walikota baru diminta setor uang sama anggota DPRD nya supaya LPJ nya diterima. Juga di Bandung, di mana DPRD nya dibagikan 250 juta per orang. Padahal kalau saya ziarah ke makam Mbah Kakung dan Tante Nana di Sirnaraga, anak-anak kecil masih ngekor di belakang sambil merengek-rengek "Teh, seratus rupiah wae Teh...". Minta duit buat makan (mungkin juga cuma buat jajan..saya nggak pernah selidiki.:-) ). Katanya lagi, (kata hukumonline..) itu supaya LPJ Gubernur diterima sama DPRD. Apa si Anggota DPRD yang santai-santai kipas-kipas pakai uang ini bukan karakteristik premanism? kan seperti bilang "kalo loe gak kasih gue duit, gue beri loe!" ke Gubernur nya?
Sampai kapan ya orang Indonesia jadi homo premanicus seperti ini? Oh, maaf, dilarang menggeneralisasi!