Monday, September 26, 2005

Dendam

Barusan saya ngobrol di telepon dengan seseorang dan menjadi sadar akan kekuatan dendam yang mendalam di dalam diri saya yang bisa merusak dan bisa saya sesali di belakangan hari.
 
Saya jadi memikirkan hal ini karena belakangan saya punya satu lagi kebencian yang mendalam, about which I've been bitchy. Ini tentang sebuah kontrak kerja yang tidak diselesaikan secara proper. Yang membuat saya marah sama sekali bukan soal uangnya, tapi karena cara mereka menangani situasi ini dan nada suratnya yang buat saya sangat, sangat menginggung saya. Soal International IDEA, yang membuat saya begitu marah karena tidak ada penghargaan sama sekali pada saya dalam menangani soal ini. Terlalu panjang untuk diceritakan. Oh man, you should see his letter, and then read MY responding letter that is so harsh. Padahal saya setuju untuk melakukan pekerjaan itu dari awal semata karena ketertarikan saya pada topiknya, bukan soal uangnya. Selain surat terakhir saya yang sangat kasar, kekesalan yang luar biasa membuat saya -dengan cara saya sendiri- membalas dendam.
 
Setelah itu, kebetulan Jumatnya saya ngomong dengan seseorang yang pernah jadi sasaran dendam saya, yang tadi saya ajak ngomong di telepon. Lantas saya jadi menyadari bahwa I am able to make things happen, including when I want to hurt someone so much in my own ways. Things got very difficult for him. I did want to make that happen, as I hurt, so so much.
 
Kenapa gue punya tabiat seperti ini? Saya jadi ingat betapa dulu saya bisa banyak capaian, juga karena "dendam" in a sense, ketika saya merasa dendam saya harus diwujudkan dengan membuktikan bahwa saya bisa, mungkin seperti "pembuktian". Apa bisa seseorang hidup di atas dendam-dendam? Saya sering membuat terapi untuk diri saya sendiri untuk selalu tulus dalam berbuat sesuatu. Bukan untuk meraih penghargaan, meraih hormat, mendapat pujian. Cuma untuk tujuan yang saya percaya. Tapi when it comes to being hurt, rasanya saya masih belum bisa melepaskan soal ini. Too bad. I have this urge in my mind to give a message to some people that they just cannot treat me bad. Saya berusaha menjadi orang yang lebih baik, dan menjauhkan dendam dan kebencian dari dalam pikiran saya, tapi saya kira sebagai manusia biasa ada saat-saat di mana saya tidak bisa lagi mengontrolnya. Saya kira saya hampir berhasil, hanya 2 hal belakangan ini saja kok, yang buat saya sudah terlalu luar biasa. Dan saya pun sekarang tengah belajar dari 2 hal ini.
 
Anyway, I feel know that what I did to this friend of mine is not good anymore. I have my message delivered, I guess. So, many things have happened. I do not regret it, after I think about what he did to me. Moreover, I want him to learn from this. I think he could have been a better person. He ruined his own life (and perhaps our lives), he could have lived in another path of life. But who am I anyway to judge which way is better for him? Now I feel pity about him and I want him to make a change in his life. And I will do it.
 
Saya percaya saya punya kekuatan untuk melakukan sesuatu yang saya inginkan. Dan kekuatan itu kadang menjadi berbahaya ketika ia didasarkan pada sebuah dendam pada orang lain. Saya harus belajar lebih banyak lagi untuk menjadi manusia yang lebih baik, tulus, dan jauh dari rasa benci.

No comments: