Friday, April 15, 2005

Pohon

Hidup gue, mimpi-mimpi gue, rasa cinta gue, kesedihan, penghargaan, kebingungan, kemarahan, kegelisahan, semua seperti terbang. Lewat. Kadang terasa. Kadang rasanya sudah bebal. Kadang jadi beban. Kadang jadi kebanggaan atau rasa malu. Hidup selalu begitu indah bagaimanapun. Karena hidup gue rasanya begitu banyak naik-turunnya. Tapi dunia selalu terasa kelabu. Dengan bencana, dengan perang, dengan kemunafikan, dengan politik yang kotor, dengan kekuasaan yang menindas, dengan kekuasaan yang tak digunakan untuk kepentingan orang yang takpunya kuasa.



Di kepala: pribadi: soal rumah, soal punya anak, soal frank yg ga kerja. Kantor: soal PSHK ke depan. Banyak ide tulisan di kepala, banyak tugas. Malas bukan kepalang.



Mama masih demanding. Gue seperti ATM. Tapi bagaimanapun rumah begitu menyedihkan. Gue selalu berharap gue adalah orang yg berpenghasilan besar sehingga orang rumah bisa santai2 aja ga hidup susah. Pengeluaran gue sebulan gila-gilaan, dibanding pendapatan asli gue, semua untuk keluarga. Mulai dari uang kuliah Chandra sampai uang belanja mama, uang sekolah si Udin di Malingping, dan uang buat benerin mobil butut kita. Gue aja ga ngerti kenapa gue bisa survive..... Alhamdulillah aja. Kadang2 ngomong di tivi dan nulis menghasilkan uang. Kalo nggak begini ya nggak ketutup semuanya. Uang mengalir, datang dan pergi. Nggak pernah buat gue sendiri kecuali untuk ke kantor. Ya kadang2 clubbing juga... tapi ga pernah bisa dapat sesuatu achievement tertentu. Ga ada mobil, ga ada rumah. Ga ada barang bagus. Cuma handphone kali. Me and my handphone... how lovely....and my books. That’s all I’ve got. How lovely.



Entahlah... kadang gue ngiri sama temen2 gue. Yg punya “tangible achievements”, entah materi, entah keluarga. Anak, atau anak2. Mobil. Rumah. Kata frank kan gue bahagia dengan pilihan hidup gue? Ya betul. Memang mesti begini hasil dari pilihan2 gue. Memang tidak tangible. Penghargaan orang walau tidak ada materi – yg tangible. Nama baik. Kepuasan batin. Menulis. Buku-buku. Cinta Frank yg mendalam walau tidak ada perkawinan dan anak - yg tangible. Kebanggaan mama, papa, dan chandra. Semuanya tak berwujud. Apa gue bahagia? Sebenarnya gue bahagia kok. Cuma mungkin tekanan konstruksi sosial yg melihat hal2 berwujud yg bikin gue kadang merasa tak bahagia. Tidak ada perkawinan, tidak ada anak, tidak ada mobil, tidak ada rumah. Hanya handphone, buku2, frank, tulisan2. Mungkin saja yg punya barang2 yg berwujud juga kadang merasa tak bahagia karena capaian tak berwujudnya malah tidak ada: perkawinan yg mengganjal, kebebasan yang hilang, penghargaan yang tak tinggi, kebanggaan yang tak didapat. Bukan begitu? Mungkin ini untuk menghibur diri .... (senyum getir).



Yang bikin gue bahagia cuma untuk berbuat baik karena gue memang nggak punya apa-apa lagi selain itu (senyum getir lagi). Buat orang rumah, buat anak2 PSHK, buat orang-orang di sekitar gue... itupun kadang masih tak dilihat baik. Kadang sedih dan kecewa juga. Gue punya banyak keinginan untuk bikin anak2 PSHK lebih baik, lebih cerdas, lebih sejahtera. Dengan banyak cara. Tapi kadang juga ga sampe.



Ahhhh... gue memang sudah terlalu lama ga merenung untuk diri gue sendiri seperti ini. Rasanya enaaaak banget. Sedih dan kelabu. Mungkin biru warnanya. Tapi mudah-mudahan jadi bikin hati plong dan tambah ikhlas dalam hidup. Belakangan Gue banyak bertanya soal agama, banyak bertanya soal nilai-nilai. gue memang ngaco untuk ukuran orang Islam mainstream. Gue belom kawin. Gue ga peduli frank nggak islam. Gue ga suka orang islam yang terlalu fanatik. Gue suka alkohol dan merokok. Tapi apakah gue jahat? Does Allah count me as a sinner anyhow? If Allah does, then be it lah.



Mas ari. Rasanya gue udah ga bisa memaafkan dia. Ga pernah terbayang ada orang yang sejahat itu sama keluarganya – sama orang tua dan adik2nya. Dan juga sama orang lain. Mudah2an Allah memaafkan dia. Tapi gue nggak bisa memaafkan dia. Bukan karena dia menyusahkan gue. Tapi karena dia membuat papa, mama, dan chandra susah. Karena dia membuat banyak orang susah. Gue menganggap gue ga punya kakak. Kadang gue sedih kalau ingat masa kecil gue sama dia. Kita dulu kompak banget. Tapi sekarang gue begitu ingin dia ga masuk lagi dalam hidup gue.



Do you think people like Cak Munir, Mas Bambang, and other people that I admire because of their never ending work for humanity and betterment of other people ever have thought about these things? Apakah aku kebanyakan mikir dan berpikir tentang banyak hal yang tak ada gunanya? Apakah ini semua perlu dipikirkan? Atau sebaiknya hanya kerja aja terus. Aku hanya kepingin kerja dan kerja buat banyak orang. Mungkin nggak bisa langsung buat korban HAM seperti Cak Munir. Tapi aku berharap banyak orang nanti benefiting dari law reform yang aku lakukan. Sumpah aku nggak pernah pingin ngetop. Nggak pingin nongol2 di tivi atau di koran. Kalaupun bangga dan senang, bukan karena pingin ngetop, tapi pingin isunya keangkat atau bangga karena mama, papa, dan chandra bisa punya sesuatu yg dibanggakan. Tapi afterall aku cuma pingin semua ini ada impact nya buat banyak orang. Semua itu hanya cara, bukan tujuan.



Aku kepingin jadi orang yang kuat. Kuat dalam arti punya prinsip yang kuat. Punya pandangan yang kuat dan berani menyatakan pandangan2 tanpa takut dan ragu. Kuat menghadapi pandangan-pandangan orang dari konstruksi sosial soal gender dan kelaziman2 dalam hidup dan soal achievements yang berwujud. Kuat kerja. Kuat nulis. Disiplin. Kuat menghadapi persoalan rumah. Kuat sama godaan uang untuk idealisme. Aku pingin bisa berdiri seperti pohon besar yang kokoh. Nggak tumbang kena angin. Punya akar yang dalam. Punya daun2, buah, dan batang yang berguna buat orang banyak. Punya daun rindang yang bisa melindungi orang2 yang ga kuat. Nggak tumbang kena gempa. Mungkin bisa hancur terbawa kapten tsunami. Tapi mungkin karena pohon aku itu kokoh dia cuma terbawa tsunami tapi tak hancur. Dia terbawa tsunami ke tengah laut. Mungkin lama-lama dia mati, tapi dia tetap sebuah pohon yang kokoh dan tak hancur. Karena prinsip-prinsipnya kuat. Mungkin bukan agama seperti yang dibilang sama kawan2 anak pengajian. Aku punya nilai2 sendiri. Humanisme mungkin? Keadilan sosial? Hahaha. Nggak pernah dirumuskan. Tapi aku kepingin kuat seperti pohon. Mungkin dia bisa mati karena tua atau terbakar. Kalau terbakar dia akan jadi abu. Kalau tua ya mati layu. Nggak apa-apa. Tapi mungkin aku suka pohon flamboyan karena selain kokoh dia juga berwarna. Cantik.




Aku kepingin orang2 mengikuti aku, menjadikan aku teladan. Bukan karena aku pingin dikagumi dan gila hormat. Tapi aku merasa mereka bisa menjadi better people dengan bekerja lebih keras. Sebab caraku untuk "mengubah" orang adalah dengan memberi contoh. Aku nggak mau marah2, karena menurutku memberi contoh jauh lebih baik. Tapi kadang2 orang nggak ngerti maksudku. Sedih juga. Tapi aku nggak mau mengeluh. Aku mau kerja aja. Aku mau menunjukkan kerja dan impact. Walau tetap harus kokoh dan kuat, sekali-kali harus marah supaya orang ngerti.



Aku cuma kepingin jadi orang biasa aja, tapi baik dan berguna buat banyak orang. Bisa nggak ya orang nggak pernah berbuat salah? mungkin nggak bisa ya? namanya juga manusia. Tapi ya aku pingin seperti pohon tadi. Biar dibawa kapten tsunami. Kalau salah biar mati terbakar.



Aku juga pingin mati muda. Untuk alasan yang egois. Aku nggak kepingin sedih karena mama, papa, dan chandra, atau kawan2 meninggalkan aku sendirian. Biar aja mereka yg sedih aku tinggalin...hihihi... mending juga mereka sedih... Biarlah, yg penting aku nggak sedih ditinggal orang. Aku nggak suka sendirian.

No comments: