Sabtu siang. Pulang kursus bahasa. Ponsel bunyi, DR telepon. Tumben, pikir saya. Rupanya berita gembira yang disampaikan. Saya, bersama dua kawanmenerima award dalam rangka hari ulang tahun organisasinya, untuk bidang hukum. Banyak juga woro-woro dari dia. Soal bagaimana organisasi-organisasi ini dipertimbangkan karena sudah sama-sama mendorong pembaruan hukum. Ah, namanya juga menerima award. Ya saya senang saja. Sangat senang malah, sehingga pada hari Senin saya langsung kirim email ke seluruh staf di puri dan pendiri soal ini. Siapa yang tak bangga kerja kerasnya dihargai?
Rabu malam. Hampir tengah malam. Capek karena sehari penuh lari dari pertemuan ke pertemuan dan sedikit stress karena ada bahan yang harus disiapkan untuk pertemuan program Kejaksaan besok. Ah, anyway, buka lemari dan memilih baju dan kalung –aksesoris khas saya- untuk besok pagi. Sambil menimbang-nimbang mau pakai sepatu yang hitam atau yang coklat. Tiduran sambil menatap langit-langit kamar. Tadi siang habis membahas soal rencana seminar di Aceh dengan kawan-kawan. Kemarin rapat AlterLaw, membahas soal banyak hal dengan kawan-kawan yang kompak di bidang hukum yang kebetulan kumpul di arena yang sama. Ngobrol mulai dari soal pemilihan anggota Komisi Yudisial, sikap soal KKR, kurangnya orang untuk komisi-komisi di bidang hukum sehingga perlu ada perubahan pendekatan dalam mendorong kandidat anggota Komisi Yudisial, kasus judicial review yang sedang ditangani LBH. Do I deserve the award?
Kamis pagi. Hari H, 7 April 2005 – hari penerimaan award. Agak kaget karena profil saya ditulis sangat personal. Momen penerimaan award. Kaget lagi, karena tidak seperti qq yang diwakili koleganya, Mbak Nur dan Pak Azyumardi diwakili oleh kerabatnya: anak dan istrinya. Kok seperti Academy Award? Bukannya ini karena achievement organisasi?
Masih Kamis pagi. Wwmembacakan biografi para penerima award. Profil Pak Azyumardi Azra, Mbak Nur, Mas Santoso. Saya? Ah betapa kecilnya saya! Tentu bukan dari segi umur, tapi betapa kecil yang saya kontribusikan untuk pembaruan hukum. Baru tujuh tahun! Kilatan lampu blitz, wartawan, ucapan selamat. Selamat, anda yang paling muda ya? Selamat ya menerima award! Dan berbagai “selamat” lainnya. Di mulut saya sudah otomatis keluar kata “terima kasih”, tapi di benak saya beribu perasaan berkecamuk. Pantaskah saya menerima penghargaan ini???
Kamis malam. Hampir tengah malam. Seharusnya saya kerja karena jam 9 pagi saya harus menyerahkan dokumen untuk pertemuan Kejaksaan dan jam 10 harus presentasi untuk Dubes Denmark, padahal presentasi belum selesai dibuat. Tapi saya tak tahan untuk pulang tanpa menulis ini. Ada dua hal yang sangat menganggu saya hari ini seperti serangga yang berkerumun di kepala.
Pertama, organisasi ini bukan saya dan saya bukan organisasi ini. Saya percaya bahwa semua yang ada di sini bisa seperti sekarang karena teamwork yang luar biasa dan kecerdasan dan ketekunan luar biasa dari banyak orang yang dikumpulkan jadi satu. Dan saya juga bisa menjadi seperti sekarang bukan karena saya sendiri, tetapi karena sering diskusi, saling kritik, dan saling “cela-celaan”. Banyak pemikiran saya yang lahir karena terinspirasi kawan-kawan. Banyak data yang sering saya lontarkan yang lahir dari upaya kawan-kawan dalam melakukan riset. Bukan, ini bukan soal saya.
Kedua, buat saya, award ini bukan hadiah, bukan sekadar penghargaan, tapi sebuah cambukan. Waktu masih kebingungan dan sumringah, saya pikir: ah, it’s not a big deal! Ini cuma penghargaan biasa. Toh saya “hanya” mendapat sebuah plakat dan buku yang bagus. Tapi kemudian saya pikir, mestinya saya bisa “mengambil sesuatu” dari sini. Award ini sesungguhnya adalah sebuah “pelajaran” di dalam dirinya sendiri. Bukan untuk berbangga, tapi justru untuk berefleksi. Apakah saya pantas menerima ini? Masih banyak orang yang bekerja luar biasa untuk pembaruan hukum. Alm Cak Munir, bw, dt, mas, dll yang luar biasa enerji, keberanian, dan pemikirannya. Terus berjuang puluhan tahun. Saya baru mulai! Saya kadang hampir frustasi. Saya kadang merasa “takut” pada ketidakpastian dan ketidakadilan di hadapan saya. Saya kadang gamang mengambil sikap. Saya merasa belum menyumbangkan apapun untuk pembaruan yang sesungguhnya. Pembaruan yang punya dampak pada orang-orang biasa di luar sana. Saya masih harus banyak belajar pada orang-orang itu.
Ah, memikirkan ini pun rasanya saya jadi malu. Bukan apa-apa, tapi saya jadi malu karena untuk “penghargaan” yang biasa saja dan tidak terlalu pantas saja sampai saya tulis sepanjang satu setengah halaman! Betapa jumawanya saya!
No comments:
Post a Comment