Seminggu belakangan ini, gue banyak berpikir lagi soal agama. Sebagiannya karena bulan puasa, sebagiannya lagi karena gue lagi sering ke aceh dan karena rencana perkawinan beda agama gue. Gue semakin merasakan betapa "agama manusia" justru membuat konflik di banyak tempat. Ya ya kita sudah tahu soal konflik di Irlandia, Palestina, dan tentunya isu terorisme Bush. Tapi yang membuat gue prihatin karena bersentuhan langsung dengan hidup gue adalah soal kemunafikan yang ada di sekitar gue. Betapa seringnya gue marah setiap bulan puasa beberapa tahun belakangan ini karena muncul gerakan-gerakan yang mengatasnamakan umat Islam dan berteriak "Allahu Akbar" dalam melakukan kekerasan! I was so furious to see the news lately, Allah is MY God, too, and they are using his name too conduct violence!
Gue sendiri masih bimbang soal agama yang gue percayai. Yang gue percayai adalah bahwa gue percaya pada satu Tuhan. Tuhan dalam pemahaman gue. Bukan Tuhan di mana kita bisa "meminta rezeki, jodoh, dll" Kita kan selalu diberi doktrin misalnya "jodoh di tangan Tuhan" dll. Gue tidak pernah percaya Tuhan memberikan sesuatu secara langsung, menentukan suatu jalan hidup yang saklek. Tuhan gue adalah sesuatu yang menciptakan "jalan" dan pilihan hidup. Tapi kemudian gue yang harus mengambil keputusan, menentukan pilihan, termasuk untuk berbuat baik atau tidak berbuat baik. Mungkin saja Tuhan itu sebuah "sistem". Mungkin dia bukan "zat". Apalagi membayangkan Tuhan seperti manusia. Seperti yang sering dikatakan ulama bahwa kita jangan mempersonifikasi Tuhan. Karena dia suatu hal yang "maha", bukan "sosok" seperti manusia. Ya memang, gue pernah ada di satu titik di mana gue merasa Islam memang suatu pilihan cara mempercayai Tuhan buat gue, walau gue percaya "Tuhan" universal. Kenapa? Mungkin karena yang gue tahu (walau mesti gue akui bahwa yang gue tahu masih dangkal sekali), Al Quran mengajarkan hal-hal seperti yang gue percayai. Soal keberadaan Tuhan yang begitu. Tapi masalahnya kemudian para perawi, para "ulama", para "imam", para "cendekiawan muslim", memberikan berbagai pemahaman. Sementara yang gue tahu (dan mesti gue akui lagi yang gue tahu ini juga sangat dangkal) kristen dan katolik punya konsep soal yesus yang nggak cocok dengan pemahaman gue soal Tuhan, walau ada satu etik kristiani yang agak mirip juga dengan pemikiran gue, tapi ya itulah masalahnya gue nggak tahu banyak sih. Yang gue tahu memang hanya Islam karena gue dibesarkan dengan Islam. Nah, inilah yang kemudian membuat gue berpikir ulang: gue bias dong. Gue Islam karena gue dilahirkan untuk menjadi Islam oleh orang tua dan keluarga besar gue. Bukankah bahkan perbedaan agama juga kemudian tidak diperbolehkan? Karena doktrin agama manusia itu harus diturunkan.
Ya agama memang bagaimanapun sebuah kebudayaan manusia yang HARUS ada. Karena manusia harus mencari suatu "jalan" untuk memahami alam dan memahami "hidup". Manusia juga perlu suatu pegangan dalam menjalani hidup. Kan karena itu pula sejak sebelum agama-agama samawi muncul juga sudah ada semacam agama" menyembah matahari, mengorbankan perempuan untuk kesuburan, dan lain-lain. Dalam titik-titik tertentu capaian kebudayaan dan pengetahuan manusia, ia akan selalu menemukan (atau berpaling?) pada sesuatu yang tidak nyata (tidak kasat mata) untuk memahami alam.
Dengan pemikiran seperti itu, apakah lantas gue jadi bisa mempercayai bahwa Islam adalah yang paling baik? Kemudian gue pikir ya, karena gue percaya Islam membawa kedamaian, mengandung sosialisme yang gue setujui konsepnya, dan mengandung cinta kasih pada kehidupan dan sesama manusia. Tapi. bukankah pemahaman ini gue dapat karena pemahaman gue yang given karena gue lahir HARUS sebagai muslim karena kedua orang tua gue yang muslim? Bukankah semua agama akan menjadi benar bagi ummatnya karena ketidakseimbangan dalam menerima pemahaman. Karena kepercayaan yang ditumbuhkan sejak kecil oleh lingkungan kita.
Gue nggak bilang Islam itu salah. Atau Kristen itu salah. Atau Katolik itu ngaco. Enggak. Karena gue sesungguhnya nggak tahu mana yang "benar" dan "salah". Bahkan: apakah ada "benar dan salah" sama sekali??
Yang bikin gue sakit jiwa sesungguhnya adalah perilaku para "ummat" beragama ini. Gue terganggu sekali ketika di Aceh syariat Islam diterapkan dengan acara pandang "klasik" yang patriarkis. Gue terganggu sekali ketika orang-orang di aceh bisa secara kasar menegur dan melecehkan perempuan yang tidak pakai jilbab (ya, gue ini salah satu korbannya) sementara ajaran yang mendasar sekali untuk "tidak korupsi" (=tidak mencuri) ada dan subur di dalam masyarakat. Hei, lihat Abdullah Puteh! Lihat DPRD nya yang korup! Lihat orang-orang yang siangnya berpura sholat dan beribadah padahal malamnya minum bir di karaoke di hotel Sultan! Munafik. Simbol-simbol seperti jilbab, Qanun, hukuman cambuk, dll, malah jadi lebih penting buat mereka daripada esensi perdamaian dan berbuat baiknya.
Gue terganggu sekali dan risih ketika gue masuk Aphrodite bulan ramadhan ini dan minuman beralkohol disajikan dalam mug dan patung-patung dewi telanjang ditutup dengan kain dan jilbab hahahahaha. Lucu kan?? Untuk apa?? Ditutupi. Takut denda. Takut FPI. Artis-artis di bulan ramadhan pakai jilbab dan ngomong agama. Selesai ramadhan ya pakai tanktop lagi! Munafik. Kenapa sih nggak jujur aja? Mungkin karena mau menghormati? seperti gue yang nggak pakai pakaian seksi ke kantor karena menghormati kawan-kawan seperti dafi dan sholikin yang disun-tempel-pipi sama Aryani aja berasa dosa. Seperti gue yg dengan sukarela pakai kerudung kalau jadi pembicara di Aceh karena kuatir lelaki-lelaki itu merasa terganggu oleh gue yang cantik hehehe. Ya bolehlah kalau ada artis pakai jilbab untuk menghormati, tapi jangan sok ngomong seakan diri paling islami gitu dong. Tapi bagaimana dengan aphrodite dan bar-bar yang ikutan "beramadhan"? Ya karena takut ya. Nah itu dia, takut sama FPI dan kelompok Islam yang melakukan kekerasan! Itu poin gue. Mereka berteriak menghancurkan kaca-kaca bar dan menggiring orang pacaran di taman dengan nama Allah!!!! Siapa mereka? Apa mereka Tuhan? Apa mereka merasa mewakili Tuhan? Merasa kebenaran versi mereka sebagai kebenaran mutlak. Gue bersedia betul menghormati orang-orang yang percaya mengenai konsep maksiat dan lain-lain itu, tapi caranya bukan dengan kekerasan! Bukan dengan merusak barang, mengancam, dan memukul. Semua pelayan, pemilik, dan pengunjung bar dan segala tempat yang katanya maksiat itu juga manusia biasa! Apa gue terlalu liberal? Terlalu percaya konsep kebebasan individu yang mutlak. Mungkin, saya sendiri juga masih dalam proses memikirkan soal kebebasan individu versus pranata dan norma, termasuk moral. Itu masih panjang. Tapi yang jelas, sekali lagi, saya sih terserah saja kalau mereka mau percaya soal konsep-konsep kemaksiatan itu. Tapi caranya bukan dengan kekerasan dan main hakim sendiri!!! Dan mengatasnamakan saya yang masih percaya sama Islam (karena dibesarkan sebagai Islam) dan jutaan umat islam lainnya!
Orang-orang cenderung menolak ketika membicarakan soal perbedaan agama. Nanti katanya bisa berantem karena mempertentangkan sesuatu yang merupakan keyakinan zakelijk. (Gue sendiri juga begitu di milis legiun hehe, tapi itu lebih karena kubu Islam konservatif terlalu dominan hehe). Tapi mungkin sebenarnya justru kita harus bicara soal perbedaan agama secara terbuka, asalkan wilayah pembicaraannya didasarkan pada esensi-esensi agama (paling tidak dalam pemahaman gue) mengenai perdamaian. Masalahnya, seringkali debat agama di milis atau komentar spontan, didasarkan pada bahasan yang tidak dalam dan stigma yang tumbuh dalam society tertentu.
Agama-agama manusia juga bikin jerih ketika agama juga dijadikan alasan untuk tidak bisa menyatukan cinta. Lembaga perkawinan diciptakan oleh agama-agama. Tujuannya untuk ketertiban hubungan antar-manusia dan, ujungnya, perdamaian dan ketentraman, gue setuju. Masalahnya kemudian ketidakdamaian dan ketidaktentraman juga terlahir dari lembaga yang sama. Orang-orang dilarang menikah karena berbeda agama padahal tujuannya tetap bisa tercapai untuk berkomitmen dan bersepakat untuk saling memberikan hak dan kewajiban tertentu. Hidup bareng dengan cinta dan komitmen bersama. Ya, tujuannya sama. Cuma soal yang namanya agama (ya kritik yang sama buat orang-orang yang juga mempersoalkan suku). To simplify my statement: Coba, apa yang salah kalau gue dan frank mau kawin? apa? bahwa anak kita nanti bingung milih agama apa? Lah gue sih malah mau anak gue berpikir kritis seperti gue mengenai konsep-konsep alam dan hidup. Kemudian dia yang akan menentukan cara mana yang mau dia ambil untuk memahami alam ini. Katanya, nanti anak itu kalau tidak punya agama nanti tersesat dalam hidupnya. Nah, siapa yang lebih tersesat: seorang anak yg sekolah di Al Azhar dr kecil seperti Dimas tapi sekarang jadi narkoba dan hidupnya kacau, atau seorang seperti Peter misalnya yang dibebaskan memilih agama tapi bisa memahami kehidupan dengan baik hingga sekarang jadi konsultan di UN berhidup relatif lurus dalam arti tidak berbuat jahat bagi orang lain dan malah membantu pengungsi dalam pekerjaannya?? Jadi, apa yang salah kalau gue dan frank mau kawin?? Selain bahwa "agama" kita (yg dikasih sama orang tua dan lingkungan) berbeda?
Agama-agama manusia. Penuh simbol. Tanpa memahami esensi kenapa agama timbul: memahami alam dan hidup dengan alam (berikut manusianya) dengan damai dan nyaman. Ya perlu norma. Tapi norma agama itu untuk hidup bersisian dengan nyaman. Buat apa ramai-ramai teriak soal jilbab kalau korupsi? Buat apa sok puasa dan sholat jumat kalau selingkuh? Buat apa pakai jilbab kalau mengganggu suami orang? Buat apa sholat ied kalau ada ibu-ibu hamil di bis yang penuh nggak mau ngasih tempat duduk? Ah agama-agama manusia. Saya masih nggak bisa habis pikir.
No comments:
Post a Comment