Bagir Manan...Bagir Manan...Bagir Manan. Gue lagi mengalami banyak pro kontra di otak mengenai bagir. Gue nggak pernah bisa punya prediksi apa betul dia bersalah atau tidak. Gue jelek soal prediksi politik dan investigasi. Yang jelas ketika Peter de Meij tanya apa gue setuju bagir mundur sementara untuk diperiksa. Gue bilang gue nggak setuju. Gue bilang: "Soal Bagir... saya nggak setuju dia turun dulu. Bukan apa-apa, lepas dari kemungkinan korupsi (saya nggak berani mengambil kesimpulan sampai sekarang
karena dari bbrp waktu lalu saya memang sempat dengar isu ketidakbersihan dia ini), saya kuatir kalau dia diberhentikan sementara, segala proses pembaruan di MA bisa ikutan terhenti atau agak menyimpang atau terhambat. Siapa sekarang yang bisa menggantikan dia di MA?? Paulus Effendie Lotulung? Wah, masih belum tuh! Lepas dari kemunduran semangat pembaruan Bagir (sudah baca pidato dia di Rakernas MA di Bali yang sangat defensif?), dia itu masih mau mendorong upaya-upaya pembaruan di MA. Sekarang saja sudah ada paling tidak 3 proyek besar di MA (EU, USAID, World Bank) yang membutuhkan Bagir untuk mengelolanya, karena yang lain simply masih tidak terlalu semangat reform. Kalaupun ada yg semangat reform, seperti Artidjo, posisinya bukan pengambil keputusan. Sementara staf sekretariat di MA masih saja punya budaya birokrasi dan korup, bahaya juga kalau langsung dilepas ke mereka, nanti uang-uang buat pembaruan itu malah habis tanpa guna..."
Tapi kemudian gue pikir lagi. Bukan, bukan lagi soal bagir mundur atau tidak. Tapi soal kondisi di peradilan secara umum. Betapa kasus probo ini bisa menjadi titik balik buat pembaruan peradilan. Betapa sulitnya untuk memulihkan keadaan. Sempat terpikir: apa ini upaya untuk makin menurunkan wibawa peradilan? Ah, pembela bagir banget gue kalau sampai bilang begitu! Bukan, bukan soal bagir. Ini Soal peradilan! Dan semua pekerjaan yang sudah kita lakukan. Kebongkar semua kok ya orang bagian kendaraan bisa bilang bisa mempengaruhi Ketua MA. Soal putusan palsu yang memang gue tahu udah banyak di pengadilan. Soal banyak orang berkeliaran bebas di THE SUPREME COURT bawa-bawa uang di tas. Ahhhh
Bagir belakangan memang sering gue pikirin. Waktu suatu waktu gue main ke rumahnya sama "the usual suspects". Dia agak defensif soal stafnya. Kemudian juga pidato dia di Rakernas MA di Bali. Sama, defensif. Ketika itu gue pikir dia mulai berubah, mungkin sebagiannya karena dia harus berhadapan dengan staf nya yang luar biasa tidak progresif dan korup. Kata Nisa: ya tapi dia tetap sangat pro-pembaruan sistem, dia hanya defensif karena agak kesal dengan orang-orang yang tidak mau melihat perubahan yang sebenarnya sudah dia lakukan. Ya betul, tapi kalau dia bisa sampai ke titik itu, maka artinya dia sudah terlampau jauh masuk ke dalam lingkar kekuasaan yang menyedot seperti pusaran air. Yang memang manusiawi, gue pun dalam negara kecil gue PSHK kadang hampir merasa begitu, merasa gue udah melakukan banyak hal UNTUK anak-anak dan seharusnya mereka berterima kasih. Padahal nggak bisa begitu sebagai pemimpin. Nah apalagi seorang Bagir. Tapi manusiawi bukan berarti bisa ditolerir. Dia adalah Ketua MA! Dia harus dihadapkan pada kenyataan soal tidak adanya keadilan di pengadilan buat orang yang nggak punya uang. Dia mesti dihadapkan pada kenyataan bahwa yang dia lakukan memang masih belum maksimal. Dia mesti di hadapkan pada kenyataan bahwa 240juta rakyat Indonesia memang nggak bisa melihat rincian pembaruan sistem di MA. Pikiran gue juga ke Bagir ketika dia ngomong secara terburu-buru soal hasil pilkada depok. Ah, memang begitu banyak soal pada dirinya. Karena begitu banyak soal pada pengadilan.
Gue nggak tau apa si Arbo juga pusing mikirin ini. Gue yakin iya. Maksud gue bukan "pusing" tapi "terusik" "terganggu" kepikiran karena jadi berefleksi: apa iya selama ini yang kita lakukan benar arahnya?? mungkin saja benar arahnya, tapi lantas pertanyaannya: kalau situasinya seperti ini, sampai kapan arah itu bisa kita capai???
This country have become so sickening! I often felt this, I often felt frustrated but then I always said that I have to move on, I have to be optimistic, because fixing this is what I've been working for. But I think I almost reach the nadir. I almost reach a point where I feel that maybe I've been doing nothing. Apakah yang kita lakukan selama ini ada gunanya?? Gue berharap gue bisa lebih optimis. Tapi orang-orang seperti probosutedjo yang merasa "diperas" untuk menyuap, orang-orang di pemerintah dan DPR yang cuma bisa cuap-cuap, jalan-jalan ke luar negeri sementara ada anak-anak kecil busung lapar, menaikkan BBM, terima suap, koruptor yang jadi ketua DPD, MUI yang membuat fatwa ngaco, FPI dan Koalisi2 "Ummat ISlam" Bullshit yang gebukin orang atas nama Islam, elite Aceh yang munafik, orang-orang biasa yang diam saja, SBY-JK yang bayar rakyatnya 100ribu perbulan supaya diam ketika BBM naik harganya, etc etc etc etc etc oooooooooooooh gue nggak kuat lagi ada di sini. Gue nggak tahu apa lagi yang bisa gue harapkan dari negeri ini. Mungkin cuma alamnya hahaha, itupun sudah mulai dirusak oleh perusahaan2 tambang, orang-orang yang vandal dan suka buang sampah dll. Udaranya aja polusi. Mau apapun harus nyogok, sampai2 mau bikin KTP sama SIM aja harus nyogok. Gue nggak tahu lagi sebenarnya apa gunanya gue ada di sini. Dari dulu gue suka bilang bahwa gue ada di sini untuk bekerja memperbaiki ini semua. Tapi belakangan ini semua makin nggak masuk akal. Mungkin awalnya gue masih percaya paling tidak sama society nya. Tapi society nya juga sakit! Sakit total. Pergi sekolah mungkin bisa jadi cara untuk menyembuhkan frustasi sedikit dan mulai susun strategi yang lebih baik lagi???? seperti mau kabur. mungkin. tapi saya sungguh sungguh letih.
No comments:
Post a Comment