Kemarin saya dilanda kejenuhan yang luar biasa. Di sebuah diskusi tentang DPD (acaranya RiDEP) di Santika, bersama beberapa anggota DPD, beberapa "pakar politik" dan beberapa orang yang "sok pakar" atau kepingin dianggap tahu mengenai politik (mungkin ini saya termasuk dalam kategori ini) tiba-tiba saya merasa semua ini tak ada gunanya. Tiba-tiba saya bertanya: "what the hell am I doing here??". Dan tiba-tiba saya benci setengah mati pada seorang "sok pakar" (agaknya saya ingin dia masuk ke kategori ini, walau dia sebenarnya memang pintar dan berpengetahuan juga... tapi cara dia bicara dan bagaimana dia agak show off membuat saya tidak bisa menganggap dia pakar) yang bicara terlalu banyak dan keluar konteks.
Setelah momen itu, sesorean saya merasa jenuh luar biasa, maksud saya, di luar kebiasaan. Sebab setelah itu saya harus negosiasi budget lagi dengan Evin untuk legislative drafting training utk staf DPR, DPD dan pemerintah, lantas harus cek progress disain assessment RTI sama anak-anak, lantas harus arrange meeting untuk alterlaw. Dan untuk yg terakhir agak kacau lagi.. aduh, saya sungguh kapok kerja sama dengan orang yang tidak bisa berkonsentrasi dan tidak punya konteks dalam bekerja seperti kawan saya yang satu ini. Mau ajak Frank dinner dan minum sedikit untuk melepas penat, ternyata dia sudah ada janji sama Jan.
Akhirnya apa yang gue lakukan? Main internet, beli domain name, dan tetap kerja anyhow! Ya saya tidak tahu lagi mesti bagaimana. Semakin saya mencoba membuang kejenuhan dan kepenatan, semakin banyak waktu yang terbuang yang pada akhirnya justru akan menambah masalah. Seperti saya bilang pada Frank tadi malam: it's like you want to run away but you cannot, because you already have too many responsibilities and commitments.
Saya juga tidak tahu apa penyebab sebenarnya. Dulu-dulu, kadang karena kekecewaan atas suatu hal. Termasuk ketika saya kecewa pada DPD karena menemukan kenyataan yang jauh dari bayangan dan harapan saya yang terlalu naif untuk dunia politik. Tapi yang satu ini saya sungguh tidak tahu penyebabnya. Mungkin saya hanya capek. Penat. Bisa jadi ini malah jadi saat yang tepat untuk sekolah, untuk lari dulu dari ini semua, memberi jarak, berkontemplasi mengenai banyak hal. Memang belakangan ini saya mengeluh sendiri, juga cerita ke Pak Dan, mengenai semakin kurangnya waktu saya untuk menulis, membaca, dan memikirkan hal secara mendalam. Kesibukan saya sebagai DE membuat saya kehilangan kemewahan sebagai peneliti yang dulu begitu saya puja.
Sekali waktu memang saya sempat berefleksi. Dan terpaksa berefleksi. Tapi kerja di sini seperti tercebur ke danau yang dalam dan keruh: saat saya masih ada di dalamnya mencoba untuk menata isinya sekaligus supaya tidak tenggelam, saya tidak akan bisa melihat isinya secara jenih. Email pak Dan di bawah bikin saya senang sekali dan "takut" pada saat yang bersamaan. Sama seperti ketika ada pemikiran-pemikiran yang muncul ketika selesai ketemu orang yang tanya ini-itu mengenai law reform di Indonesia. Persis seperti email Rachel bbrp hari lalu: "And please don't be overly self-critical--the job you are doing is important, and I must say that compared to the NGOs in Eastern Europe that I have seen, you are far, far ahead in terms of understanding and political savvy within your system."Yang selalu membuat jadi gundah adalah pertanyaan reflektif: apakah yang saya lakukan ini akan ada gunanya? Benarkah marah-marah sama DPR atau mengkritik MA akan membawa perubahan bagi orang-orang yang tidak bisa makan di pinggir jalan atau orang-orang yang diusir dari tanahnya di pelosok sana? Pak Dan agaknya memang terlalu romantis. Tapi biarlah saya melihatnya sebagai setitik rasa bangga di dalam diri yang lagi penat dan jenuh dan supaya bisa mendorong saya untuk kerja lebih keras lagi.
----- Original Message -----
From: "Daniel S. Lev"
Sent: Wednesday, July 27, 2005 3:18 AM
Dear B,
--deleted--
Menurut saya, B, anda memang seharusnya teruskan saja utk PhD. Tentu berarti harus ke luar selama tiga tahun, yg berarti tidak akan bisa langsung turut proses perubahan di Indonesia selama di luar negeri. It is a sacrifice of sorts, tetapi B perlu kesempatan utk belajar, berfikit, dan menulis sebagai seorang (yg sekarang masih muda) yg akan lama mencurahkan tenaga utk meluruskan proses hukum (dan politik) di Indonesia. Kesempatan belajar dan menulis, dan memperkembangkan ide-ide dlm suatu otak yg sudah sangat kuat, B, akan mempersiapkan anda utk pekerjaan yg cukup berat. Apakah sebagai mahaguru, atau penulis, atau konseptualis, atau aktivis, atau semuanya itu, anda bisa memperkuat diri dlm tiga tahun itu, dan disertasi itu akan berguna juga sebagai salah satu sumbangan pada pengertian pendekatan pada perubahan mendlm itu.
Saya nggak mau terlalu romantis ttg ini semua, tetap ada baiknya kalau membandingkan diri dgn para pimpinan nasionalis dulu yg memperjuangan kemerdekaan. Orang seperti Sartono, Besar Martokoesoemo, Moh. Roem, Ko Tjay Sing, Maria Ulfah Santoso, Ali Sastroamidjojo, Lukman Wiriadinata, dll, semuanya juga ke luar negeri, di Belanda, selam tiga-empat tahun sebelum pulang utk meneruskan pekerjaannya politik (dll juga). So don't worry about being away, B. Kadang-kadang malah perlu dipisahkan utk memperkuatkan diri lagi. And you need the intellectual rest and opportunity to think and write and then to teach.
Salam, B
Dan
No comments:
Post a Comment