Tuesday, June 17, 2008

Aku = kolonialis

Tadi malam saya begadang karena nggak bisa berhenti baca catatan harian Hasan di Tiro 1976-1979: The Price of Freedom. Saya "menemukannya" di internet, download aja kalau mau. Pascakonflik bapak-bapak bin mudah-mudahan udah males bongkar-bongkar ip address orang dan cek siapa yang download buku ini.

Begitu membuka 10 halaman pertama, saya jingkrak-jingkrak (literally! malam itu saya lompat-lompat keliling rumah) girang karena saya menemukan istilah untuk diri saya (selain syeitan): saya adalah "javanese-Indonesian colonialist"! Saya kira jingkrak-jingkrak itu (saya jadi teringat restoran Mbah Jingkrak yang namanya sudah ganti jadi "anglo") sebenarnya karena saya excited membaca catatan harian itu. Ya, serupa dengan pandangan Pram yang juga menyebut orang-orang "pusat" ini "jawa-Indonesia." Dan "kolonialis" pulak, seru! :-)

Memang selama puluhan tahun, mulai dari cara berpikir, skema pemerintahan (desa, melalui UU 5/1979), sampai dengan cara nyogok itu semuanya dibentuk berdasarkan cara-cara orang Jawa. Maaf buat yang orang Jawa. Saya tidak berbicara soal ras, tapi pemaksaan penggunaan kultur secara sistemik. Saya pun punya seperempat darah Jawa (tengah, buyut saya dari Purworedjo) dan seperempat darah Jawa Barat. Makanya saya=kolonialis! :-)

Tapi saya kepincut betul pada buku harian itu. Yang ditulis dalam bahasa Inggris yang baik, meski ada kesalahan cetak sedikit-sedikit. Tapi saya cukup kagum membaca perenungan dan pemikirannya. Termasuk ketika perayaan 17 Agustus. Dan ketika ia harus meninggalkan anaknya yang ketika itu masih berumur 6 tahun, seorang istri, dan bisnis yang cukup berhasil di Amerika Serikat, untuk sebuah kepercayaan atas sesuatu yang sesungguhnya absurd: bahwa dia ditakdirkan untuk menjadi pemimpin untuk masyarakat Aceh.

Kelihatan betul bahwa Hasan di Tiro adalah seorang intelektual yang memiliki akar tradisi dan pijakan yang kuat (mungkin sebenarnya: romantisme) pada sejarah keluarga dan masyarakat Aceh. Intelektualitasnya terlihat dari pemikiran-pemikirannya. Menarik bahwa salah satu momentum yang membuatnya mantap untuk masuk hutan di pedalaman Aceh dan meninggalkan hidupnya yang nyaman di New York adalah ketika secara tak sengaja matanya tertumbuk pada bukunya Nietzsche, "Thus Spoke Zarathustra." Dikutipkannya bagian yang menggugahnya saat itu:
I am a wanderer and a mountain climber.... And whatever may yet come to me as destiny and experience will include sane wandering and mountain climbing: in the end one experiences only oneself. The time is gone when mere accidents could still happen to me; and what could still come to me now that was not mine already? What returns, what finally comes home to me, is my own self and what of myself has long been in strange lands and scattered among all things and accidents. And one further thing I know: I stand before my final peak now and before that which has been saved up for me the longest. Alas, now I must face my hardest path! Alas, I have begun my loneliest walk! But whoever is of my kind cannot escape such an hour - the hour which says to him:"Only now are you going your way to greatness! Peak and abyss - they are now joined together... One must learn to look away from oneself in order to see much:this hardness is necessary to every climber of mountains. But you wanted to see the ground and background of all things; hence you must climb over yourself - upward, up until even your stars are under you!".. dan seterusnya.

Ya, pada sebuah toko buku di Fifth Avenue di New York tiba-tiba dia menemukan bagian dari sebuah buku yang membuatnya memutuskan untuk ke hutan.

Di hutan dia memobilisasi orang, menuliskan propaganda dan pemikiran, membangun sebuah angkatan perang yang mampu bertahan selama kira-kira 30 tahun. Luar biasa seseorang bisa mempunyai kekuatan semacam itu. Mungkin agak mirip dengan Che, meski tentu berbeda ideologi dan metode perjuangan. Tapi kharisma dan kekuatan untuk membangun itu semua buat saya selalu mengagumkan. Apalagi dengan catatan-catatan kemanusiaan yang dituliskan serta wisdom tentang menjadi seorang pemimpin yang mengenal dan menyayangi anak buahnya sebagai manusia.

Dan semakin mengagumkan ketika pada 2005 akhirnya dia mau menyetujui MoU Helsinki. Setelah perjuangan itu! Lepas dari segala spekulasi soal senjata yang masih disimpan dan segala macam, tapi seorang pejuang IRA yang sama-sama memberi pelatihan peacebuilding di Aceh ketika itu bercerita pada saya betapa luar biasanya sebuah angkatan perang yang bersedia menyerahkan senjata dan nama anggotanya dan mengubah pasukannya menjadi civilian group (meski masih banyak kritik dan tantangan, tentu saja, peacebuilding selalu lama dan penuh kerikil). Membaca catatan harian ini serta banyak artikel tentang perang di Aceh dan membandingkannya dengan cerita bagaimana Hasan di Tiro dan Malik Mahmud berunding di Helsinki dalam buku Farid Husain dan Hamid Awaludin dan ketika saya menarasikan transformasi gam ke partai aceh membuat saya takjub.

Sejak banyak menangani isu Aceh saya banyak baca soal perjuangan "negara Aceh-Sumatera ini". Sudah banyak penelitian soal mereka, enak, saya tinggal baca dan bikin catatan sedikit-sedikit :-). Sama seperti ketertarikan saya pada Irlandia (I LOVE Ireland, with the St. Patrick's day, shamrock, guinness, U2, the Cranberries, hill of slane, dublin etc etc), Che, Kuba, Zapatista, dan kemerdekaan Indonesia tentunya :-), saya kira saya tertarik pada resistensi dan perjuangan kemerdekaan. Kepercayaan yang begitu besar pada sebuah gagasan tentang kemerdekaan yang bisa menjadi enerji penggerak luar biasa sangat mengagumkan buat saya. Dan yang lebih mengagumkan adalah adanya orang-orang yang mampu menggerakkan orang-orang lainnya berdasarkan gagasan ini. Mereka adalah pemimpin sejati!

Pemimpin-pemimpin kecil adalah pemimpin untuk gagasan, tujuan, misalnya pada sebuah visi tentang pshk atau visi tentang peradilan yang lebih baik, atau visi tentang Indonesia tanpa Suharto pada 1997-1998. Tapi pemimpin memang akan selalu berbeda dengan "manajer". Don't you think so? Pemimpin adalah seseorang yang mampu mendorong perubahan untuk suatu gagasan. A "leader" could be a bad manager and a manager is not necessarily a "leader."

No comments: