Wednesday, June 18, 2008

Sobat

Saya punya teman baru yang sebenarnya tidak baru. Kami sudah saling mengenal agak lama. Dan yang jelas saya sering membaca tulisan-tulisannya meski belum berhasil mendapatkan novelnya yang paling baru.

Di sms dia sering menulis namanya dengan sebuah singkatan namanya yang mengingatkan saya pada kata “sobat”. Maka kita panggil saja dia “Sobat”.


Dia terkenal, tapi saya baru mengenalnya dia yang sebenarnya hanya baru-baru ini. Kami berada dalam suatu rombongan (“rombongan sirkus” istilah saya pada anak-anak kantor) yang pergi ke Amerika untuk suatu program. Dia terkenal dan saya sangat membenci lembaga yang sekarang dia pimpin. Maka saya tidak pernah benar-benar “berteman” dengan Sobat sampai kami berada dalam rombongan sirkus itu.


Tapi ternyata berbincang dengan dia sangat menarik. Kami bisa berbincang mengenai berbagai soal. Mulai dari etik protestan, weber, marx, revolusi, peradaban, wayang (yang saya tidak paham), sampai john wayne. Dan dia pun mendengar. Menyenangkan. Saya merindukan teman bicara seperti dia. Saya suka ketemu mas A karena mas A juga bisa bicara banyak dan mendengar. Ada kawan-kawan yang bicara banyak hal yang menarik namun tidak mendengar.


Mendengar dia berbicara, melihat dia berpikir, dan berdiskusi dengan dia membuat saya berpikir bahwa kami adalah manusia-manusia yang sejenis: kebanyakan berpikir dan berpikir melompat-lompat. Tapi dia jauh lebih baik karena dia bisa menuangkan pemikirannya dalam tulisan-tulisan yang bagus. Kolom mingguan di koran ternama, novel-novel, cerpen dan puisi. Bandingkan dengan saya dengan blog posting yang penuh cabang cerita dan tulisan yang seringkali logika alurnya bisa dipertanyakan :D


Saya ingin menulis tentang dia barangkali karena saya cemburu. Cemburu dalam arti kagum dan berkeinginan untuk bisa memiliki kemampuan yang (hampir) sama. Sama halnya dengan orang-orang di sekitar saya yang saya ceritakan di sini. Yang pasti orang-orang yang membuat saya menghabiskan waktu untuk menulis post di sini adalah orang-orang yang menarik.


Dia menarik karena bacaan dan daya ingatnya luar biasa. Dia bisa mengutip syair-syair penyair dunia ternama sampai perkataan orang-orang terkenal. Dan bisa menirukan gaya tertawa John Wayne di salah satu filmnya. Dia menarik karena kepribadiannya yang sangat sederhana walaupun dia sebenarnya luar biasa. Dia menarik karena bisa menulis dengan indah. Dan dia menarik karena dia mengaku punya rasa minder yang terus menerus dilawannya, sama seperti saya.


Dalam salah satu perbincangan dia punya konklusi, yang masih kami perdebatkan, bahwa yang seharusnya dilakukan adalah pembangunan peradaban. Bukan reformasi. Bukan revolusi yang luar biasa seperti Revolusi Oktober di Rusia. Ini menarik dan intriguing buat saya yang lagi kebanyakan mikir.


Sobat yang saya kirimi buku, saya cari novelnya. Sobat yang suka meniru tawa john wayne. Sobat yang suka curhat pada saya. Sobat yang suka bilang “paten” atau “mantap” atau menggali kata-kata aneh ketika berbincang dengan saya. Sobat yang mendorong saya kuliah dan jadi dosen di mana-mana supaya dia bisa diundang bicara ke luar negeri. Sobat yang berusaha keras mengajak saya berpikir soal hubungan hukum dan budaya. Sobat, dia sangat menarik. Mudah-mudahan dia terus menjadi Sobat – dan juga sobat saya.

No comments: