Wednesday, August 27, 2008

Curhat Insomnia

Belakangan ini saya uring-uringan dan sering tidak bisa tidur. Insomnia saya kembali. Barangkali karena dua minggu lagi saya pergi. Ada tiga hal penting yang akan saya tinggalkan. Pertama, kekasih-kekasih saya. Kedua, kehidupan, jaringan, dan hidup saya di sini. Ketiga, papa, mama, dan chandra (dan mas ari).

Papa, mama, chandra saya letakkan di nomor tiga, seakan saya tidak sedih meninggalkan mereka. Padahal sebenarnya saya sedih. Siang itu di taxi, setelah makan siang bersama sh, dr, dan rb, bohir-bohir itu, saya menitikkan air mata. Cengeng betul. Sepele alasannya, sembari makan, mereka tanya soal keluarga saya. Saya bilang keluarga saya biasa saja, boro-boro ada yang s3, paling top ya s1, apalagi yang sekolah di luar negeri. Saya bilang lagi (ah, cerewetnya saya!), papa cuma pegawai negeri lulusan d3 dan pns biasa yang sudah pensiun, mama cuma ibu rumah tangga lulusan sma. “wow, they must be proud of you”, kata rb. Well yeah, jawab saya, that’s the only thing I can do for them, to make them proud and happy, they are just ordinary people, they are not rich, they are not public figures, they don’t speak english. Saya senyum: sedih, tapi juga bangga pada mereka. Tidakkah mereka hebat, bisa membuat saya yang kalian beri award dan kalian beri uang saku buat sekolah? Mereka orang biasa, tidak kaya, bukan priyayi, bukan tokoh agama, tokoh adat, apalagi tokoh masyarakat, pendidikan juga standar saja. Namun justru karena itu saya bangga jadi anak mereka.

Tapi itu membuat saya jadi ingat mereka dalam perjalanan pulang. Di taxi, sendirian, saya menitikkan air mata. Saya tahu mereka bangga, tapi juga sedih luar biasa. Saya tahu dari mata papa. Dan mama nangis di telepon waktu saya ingatkan saya mau pergi. Lalu saya sok tegar dan bergurau, meski sebenernya juga dengan air di sudut-sudut mata saya.

Kadang saya merasa saya sok tahu dan takabur tentang mereka. Merasa bahwa mereka bangga dengan saya. Mungkin saja bangga, tapi sebenarnya belum tentu mereka “bahagia”. Bangga dan bahagia adalah dua hal yang berbeda. Saya dan mereka punya cara pandang yang berbeda. Saya berbeda. Berbeda dengan banyak orang di dekat kami. Saya tidak “beragama”, saya tidak kawin dengan orang seagama, saya belum punya anak, saya jarang ke acara keluarga besar kami. “Saya pikir” mereka bangga, tapi sangat mungkin saya salah. Karena cara berpikir saya berbeda, dunia saya berbeda.

Lalu hidup saya. Ya, hidup saya. Yang akan saya tinggalkan ini adalah sebuah kehidupan yang sangat menarik. Saya berkeputusan untuk pergi persis ketika saya berada dalam posisi yang mengasyikkan. Bisa jalan ke aceh sampai papua - kenya sampai london, bisa di grand indonesia dan main becekan di desa. Bisa bilang a, b, c ke pejabat-pejabat, bisa ngomong x, y, z di forum-forum, bisa ngoceh d, e, f di koran-koran. Tiba-tiba saya harus meninggalkan puluhan tawaran pekerjaan, puluhan pekerjaan menarik, dan ratusan kawan. Bledug!: ujug-ujug, semua harus saya tinggalkan. Tidakkah saya aneh? Ketika sebagian kawan cari popularitas, sebagiannya lagi ke partai, sebagian jadi konsultan berkantong tebal, sebagian membangun keluarga: saya pergi sekolah.

Lalu kekasih-kekasih saya. Ya, kekasih-kekasih saya.

Saya menghibur diri, menghibur diri, dan menghibur diri. Tapi mungkin sebenarnya saya gagal menghibur diri saya. Nomor dua, saya kira, adalah alasan utama kegundahan saya. Nomor satu dan tiga itu cuma karena cengeng, sok romantis, manja, dan jumawa.

Tapi keputusan selalu mengandung konsekuensi. Saya sudah berkeputusan meninggalkan "comfort zone" saya: tempat di mana saya hidup yang hanya tinggal menjalani dan membuat pilihan-pilihan kecil. Sebuah kenyamanan (dan karir) yang saya tinggalkan untuk menghadapi ketidakpastian. Ya, ketidakpastian: setelah ini saya mau apa? Tahun depan saya dapat uang sekolah dari mana, apa bisa saya dapat bea siswa tahun kedua, ketiga, dan seterusnya? Apa saya bisa membangun keluarga di sana? Apa frank akan bosan menemani saya sekolah? Bagaimana keluarga saya di sini? Apakah kalau saya pulang nanti kawan-kawan saya masih menjadi kawan-kawan saya? Apakah kalau saya pulang nanti pshk masih ada dan berjuang (bukan ada sekadar ada). Apakah keputusan saya benar? Soe Hok Gie bilang di pangrango: hidup adalah soal keberanian menghadapi tanda tanya, terima dan hadapilah! (Ah, saya juga akan merindukan pangrango! Seperti saya akan merindukan matahari sepanjang tahun, sawah hijau bertumpuk, dan bulir hujan besar-besar.)

*This blog is rarely being a diary. This is rubbish. Cuma karena lagi cengeng, maybe my pms :-)

1 comment:

Anonymous said...

I feel like crying reading your post. The part when you talk about your parents. How you 'think' that you have make them proud and yet may not make them 'happy'. I read your post and I understand. The bitter sweet feeling. The guilt. The love. Or maybe it just me 'thinking' that I understand you. Maybe it just me thinking that I saw all those feeling in your post. The same feeling that I see everyday in my mirror.
SI