Kalau badan dingin, kita bisa langsung pakai baju hangat atau tutup selimut rapat-rapat. Kalau kaki dingin, kita bisa langsung pakai kaus kaki. Tapi kalau idung yang dingin gimana?
Saya selalu punya dilema ini. Sejak belum pernah ke luar negeri tapi naik gunung tinggi-tinggi yang udaranya dingin sehingga idung ikut menjadi dingin. Waktu di Cireme gerombolan pendaki gunung sruntulan (pakai jeans dan bawa gitar! haha; itu namanya “galatuping” kalau kata cholid: gabungan lelaki tukang kemping) pakai koyo di pucuk idung. Tapi saya nggak suka karena idung hangat sebentar setelah itu terasa lebih dingin. Bisa juga ditutupi selimut ketika tidur, seperti kawan saya, tapi nanti nggak bisa napas dong. Dilema dilema.
Idung dingin mengingatkan saya pada pendakian-pendakian gunung. Kedinginan dalam hujan di kerinci yang pertama (sotoy banget cuma berdua ke kerinci di umur 17 dan unexperienced) bakar-bakaran karena dingin dan luka kena percikan bara api di hampir puncak slamet, idung berkoyo di cireme, dingin dan gotong nayi di salak, dingin yang indah di gede, dan lereng semeru. Semua pendakian yang menyenangkan itu.
Idung dingin juga mengingatkan saya pada dingin di Inggris: malam-malam seru di Warwick dengan anak-anak warwick dan tahun baru yang dingin di London sama kabrut-kabrut. Juga pada malam minus dua derajat di Wiston House itu.
Begitu lama saya tidak memiliki kemewahan untuk merenung dan menengok ke belakang. Hingga saya merasakan idung dingin ini.
Idung dingin sebenarnya adalah memori. Rasa yang mengingatkan saya pada suatu ketika, suatu konteks. Seperti bau. Seperti musik.
Pada suatu saat dimana kita berhenti.
Memandang ke belakang.
Dan memberi salam.
(Mesra tetapi sayu).
Masa lampau adalah seperti mimpi.
Terlupa dan berat menarik ke belakang.
(Soe Hok Gie)
No comments:
Post a Comment