Monday, September 25, 2006

Sendirian

Just take a seat they're always free
No surprise no mystery
In this theatre that I call my soul
I always play the starring role

[so lonely – the Police]

Saya seringkali merasa sendiri. Entah kenapa. Kadang saya menikmatinya. Kadang saya merenunginya. Seperti biasa warnanya biru. Seperti malam tadi dan hari ini. Di tengah banyaknya pekerjaan, di tengah keceriaan bicara sana sini untuk pekerjaan, saya merasa begitu sendiri. Saya semakin sadar tidak ada seorang pun yang bisa (boleh?) masuk secara total ke dalam hidup saya karena saya membuat tameng. Saya kira saya terlalu sombong –atau sebenarnya takut- untuk dimasuki dan kemudian disakiti. Dan sebaliknya, saya juga sadar, setiap orang juga hadir untuk dirinya sendiri. Tidak pernah ada satu manusia pun yang bisa membuka dirinya sepenuh hati untuk orang lainnya. Mungkin dia bisa terbuka, banyak cerita, extrovert, tapi pasti tetap ada kotak-kotak yang tertutup rapat dan disimpan. Mungkin kotak itu terbuka untuk bagian lain dari dirinya.

Saya punya teman yang sangat family-man, luar biasa. Pulang-pergi kantor dengan istri, bisa batal ke luar kota karena dilarang istri. Tapi toh, ada kotak-kotak kecil yang disimpannya dari istri, anak-anak, dan sahabatnya yang moralis. Tentang kisah kasihnya dengan TTM-nya. Ada lagi, teman lainnya yang juga punya istri dan anak. Tapi jatuh cinta pada perempuan lain yang juga bersuami. Repot. Bahkan, unik sekali, seorang politisi partai yang terkenal (atau paling tidak mengklaim dirinya) bersih betul dan bermoral, juga punya rahasia. Dia masih ada di dalam batas, nggak physical (cuma sms: saya kangen banget sama kamu, i like u so much, kamu sadar nggak sih saya suka banget sama kamu! etc), tapi di dalam hatinya dia sudah berpaling dan pastinya ini harus dia rahasiakan dari istrinya. Mungkin hp-nya harus dia simpan dalam lemari! :-) Perempuan? Sama juga. Ada teman perempuan, dengan dua anak, juga family-oriented, sering piknik bareng sama keluarga. Seakan keluarga yang sempurna. Bener? Nggak juga. Dia jatuh cinta pada lelaki lain teman kerjanya (sampai akhirnya gue yang pusing dicurhatin melulu karena cowoknya risih betul dia terlalu agresif hihi).

Ini bukan soal perselingkuhan. Bukan itu topiknya. Yang saya mau katakan adalah, selalu ada kotak-kotak kecil itu, yang disembunyikan. Kotak biru buat si A, kotak kuning buat si B, kotak hijau buat si C, dst. A bisa membuka kotak hijau juga, tapi tidak kotak kuning, dst. Nggak mungkin ada orang yang 100% terbuka. Juggling with secrets. You may call me a cynic, nggak apa-apa, karena saya memang sangat tidak percaya ada orang yang tidak punya rahasia. Tapi rahasia pun bukan topiknya. Topiknya adalah merasa sendiri.

Saya merasa sendiri. Karena saya juga tidak percaya orang-orang di sekitar saya tidak menyembunyikan sesuatu. Mungkin saya sebenarnya bukan lonely, tapi paranoid hihi. Tapi saya nggak peduli. “Ya nggak usah dipikirin,” begitu jawaban saya biasanya. Sampai beberapa teman bilang saya “dingin”. Kalau mau dibuat romantik mungkin begitu istilahnya. Tapi saya lebih suka melihatnya sebagai “realistis”. Saya realistis, nggak usah dibuat romantiklah. Malah capek nanti jadi paranoid, jadi su’udzon, jadi suka melabel dan “naker” orang, jadi punya mental intel :-). Lama-lama bisa gila. Dunia ini memang tidak waras, buat apa dipaksa dan disistemtiskan dan diromantiskan supaya bisa menjadi waras, normal? Iya nggak?

Feeling lonely ya biasa. Boleh dinikmati, boleh direnungi. Tinggal pasang lagu so lonely-nya the Police keras-keras.

No comments: