Monday, October 02, 2006

Jokja dari kaca mata baru

Celine: Memory is a wonderful thing, if you don't have to deal with the past.
Jesse: Can I put that on a bumper sticker?
Celine: No. You know what? If you wrote a book about our lives, that would be a good title!
[Before Sunset]

Di Jogja, setelah acara eksaminasi putusan MK soal KY. Constitutional Lawyers :-P jadi pada ngumpul di sini. Malam itu saya jadi jalan sama mereka. Dan saya ketemu sebuah relationship yang sangat jauh berbeda dengan yang saya tuliskan di bawah. Dan itu tidak hanya satu, ada dua, barangkali tiga, sama si “putri kartini”. Saya yang cynic, jadi “kaget” juga lihat partnership yang begitu nyaman (benarkah nyaman?). Sebenarnya saya tahu ini cukup lama juga, karena saya pernah ketemu di Melbourne sebelumnya, waktu ke sana sama Patra. Mungkinkah sinisme saya karena pengalaman hidup saya?

Anyway. Stop talking about this crap. Hakim atau Legislator? Begitu saya membuat judul makalah itu. Seperti biasa, bahan bacaan sudah segunung, gagasan udah dua gunung, tapi saya baru mulai kerja malam sebelum berangkat! Akibatnya? Seperti biasa: “preliminary draft, please do not quote without permission” hehehe. Kacau sekali hidup seperti ini. Begitu banyak ide, begitu banyak yang mau dibaca, begitu banyak yang mau ditulis, tapi begitu sedikitnya waktu. Begitu ada waktu, malah nge-blog! :-)

Saya senang sekali ada di sana. Ketemu “my kind”, tapi mereka tentunya lebih pinter-pinter daripada gw. Bicara asas-asas hukum, analisis conditionally inconstitutional, dan segala macamnya. Saya cuma agak kesal waktu mereka punya prejudice sama si Arbo. Lagi-lagi itu. Kenapa sih, nggak didengar dulu argumen seseorang ketimbang lebih dulu me-label dan menempatkan seseorang dalam label-label? Ini bukan karena saya dekat dengan dia. Tapi bahkan untuk orang-orang yang secara intelektual tidak saya sukai, saya akan dengar dulu dengan seksama, karena bahkan saya jadi bisa belajar lebih banyak.

Ke rumah Denny lihat perpustakaannya asik banget. Buku konstitusinya luar biasa banyak. Saya mau fotokopi beberapa. Setelah itu ngbrol gosip-gosip di lesehan di depan terang bulan. Frank mau saya ajak, tapi saya rasa dia akan bosan kalau ikut, buat “lay people” :-p, “lawyers talk” ini pasti membosankan sekali :-)

Yang jelas ke Jogja belakangan ini (karena frank lagi di Jogja) jadi menarik. Seperti waktu saya awal-awal bergaul sama frank dkk. Biasanya makan di pinggir jalan, tidur di hotel murah, naik kereta ekonomi bareng “itchy and scratchy” (hihi, ini waktu ke Semeru sama anak-anak isjapala, tapi dulu waktu di sisgahana mau naik slamet juga naek kereta kambing gini, juga waktu pendampingan di lebak sama anak-anak lbh). Gara-gara frank dan jeremy, saya jadi banyak tahu tempat-tempat baru (yang memang asik) di Jogja (juga di Bali, Semarang dsk, dan tempat-tempat lain), biasanya kuper, maklum, miskin dan sembarangan… hehe. Mulai dari viavia, hani’s bakery, beukenhof (in Kaliurang, it’s so amazing!!), parsley cafĂ©, etc.

Yang menarik lagi, saya berkunjung ke rumah teman dari temannya frank (nah lho). Namanya mbak indah. Suaminya orang inggris, yang lagi kerja untuk proyek pembangunan di Afganishtan. Rumahnya joglo asli yang dia dandani sendiri, di kaliurang. Rumahnya luar biasa. Dengan ukiran, gobyok yang bagus, tiang-tiangnya, furniture-nya, etc. Tradisional, tapi fasilitasnya modern. Tapi yang mendorong saya bercerita adalah gaya hidupnya. Dia kerja dari rumah untuk sebuah NGO anak. Dengan seperangkat komputer, printer, fax, telepon, modem. Di dalam sebuah kamar dengan tempat tidur dan furniture tradisional, jendela sangat lebar menghadap ke kebun. Sangat tidak percaya pada pemerintah dan luar biasa empowered dan well-connected. Gayanya cuek, agak tomboy, rambut panjang. Sangat percaya diri. Dia juga suka menulis, ada beberapa buku yang sudah dia publikasikan, biasanya tentang jender. Waktu pertama kali berkenalan dan salaman, dia bilang, "kayaknya kita sudah pernah bertemu." The truth is, I'm not sure. But I'll make sure we will meet again, mbak. Dia akan jadi teman yang sangat menarik. Saya janji bantu dia untuk bantu pelatihan perempuan di desa-desa.

I told Frank I want that life: " You see, this is how it should work: my husband works in Afganishtan or Iraq to get huge amount of money to support me to do any work I enjoy, like working with children and write a novels, articles, and research reports!" Hihi.
"No way, YOU should work in a big law firm like you used to do and earn money for me because I’ll do the cooking and I’ll take care of our nice house."

Oh, you wish!

No comments: