Ada seorang peserta dari internal yang bilang: "Tentu saja kita masih perlu latihan baris berbaris karena yang kita pelajari di situ tidak hanya baris berbaris tetapi disiplin dan kebersamaan. Itu untuk membentuk postur disiplin, berperilaku, dan berintegritas. Kalau ada satu yang salah, semua di hukum. Itu menumbuhkan esprit de corps. Bahkan mungkin kita perlu belajar di kopassus atau marinir. Kita ditekan sampai titik nol untuk memudahkan menerima pelajaran. Misalnya saja instansi x. Mereka mengirim siswanya kemarinir. Mereka dicuci otaknya selama sebulan. Itu bagus!"
Mendadak saya jadi teringat sisgahana. Di sebelah. Itu yang dikatakan oleh senior-senior saya yang dididik a la wanadri - a la kopassus. Buat siswa sampai ke titik nol, untuk menumbuhkan disiplin, kebersamaan, kebanggaan, dan nantinya juga siswa jadi lebih mudah menerima ilmu yang diberikan,diindoktrinasi. Is that true?
Ya, kalau yang mau diajarkan adalah budaya militerisme. Tapi apa itu relevan untuk mereka? Untuk sisgahana saja, kita yang senior-senior sudah mau mengubahnya. Sebagian bilang alasannya "market" karena penjelajahan alam sekarang laku dijual. Menurut saya bukan itu, tapi memang pendekatan itu sama sekali tidak relevan untuk institusi selain militer. Ya, tapi pencinta alam butuh displin yang tinggi dan siap menghadapi tantangan yang luar biasa di alam. Betul. Tapi bukankah kita menjelajah alam untuk menikmatinya? Bukan untuk menaklukannya. Kita harus tahu bagaimana menghadapi tantangan di alam: tahu bagaimana baca kompas, survival, packing yang bagus, dan lain-lain. Skill itu dibutuhkan karena tantangan alam yang tidak terduga. Tapi apa untuk itu semua kita harus ditampar-tampari dan digebuki? Dan apa untuk merasa begitu dekat satu angkatan kita harus dihukum ramai-ramai bila adayang melakukan kesalahan?
Nah, apalagi untuk instansi pemerintah penegak hukum seperti ini. Kultur apa yang mau dibangun? Dan parahnya, pola pikir ini benar-benar terpatri di kepala mereka. Sejarahnya, kata riset-riset yang saya baca, karena dulu bosnya memang selalu dari militer. Bangunan organisasinya memang jadi seperti militer. Padahal menurut saya mereka seharusnya seperti law firm yang berisi advokat-advokat yang piawai. Dalam kurikulum intelijen ada soal penyelidikan, penggalangan, pencegahan. Walah.
Tapi saya benar-benar tidak habis pikir dengan lembaga-lembaga yang suka melakukan pendekatan pendidikan semacam ini. Bukankah misalnya untuk menumbuhkan loyalitas ada banyak pendekatan modern lainnya seperti penerapan reward, kesejahteraan, dan lain-lain? Mau menumbuhkan disiplin? Disiplin yang seperti apa dulu? Militer memang harus disiplin karena dia kerja langsung mempertaruhkan nyawanya bila di medan perang dan memang tugasnya untuk bertempur, yang membutuhkan disiplin, nggak bisa malas dan lambat. Kalau lambat, dia mati atau teritori dicaplok musuh. Tapi apa disiplin seperti itu relevan dengan kerja-kerja di bidang hukum? Atau kerja di birokrasi sipil? Sama sekali tidak. Apa ada korelasinya bisa baris berbaris dengan skill untuk menyiapkan tuntutan yang bagus? Atau
dengan skill untuk investigasi?
Dan apa juga gunanya lembaga ini punya intel? Bukannya ini isinya mestinya lawyers handal?
Gilingan.
No comments:
Post a Comment