When was the first time you saw it?
You know, it was sort of like an accidental thing
There was like a mirror on the floor,
And i walked up and i was like, what, what was that?
I have to go home and do some research.
I didn't look at myself 'til probably in college.
I don't even say the word to my ob-gyn.
And i went to the library, i'm sneaking in the library,
Looking through the books, and you know,
Like i'm covering the book with like something else.
And then it's like,
"admire it, it's a beautiful flower,
You know, it's like roses."
I'm like, we're not looking at the same thing
I took photos of it.
And i had a polaroid camera
And i would go into the bathroom
And take a picture.
Are you embarrassed?
Yes.
All those things are kind of like secret.
You know?
And it's not for, you know,
It's like your own little joy.
I realized there was no context
in which women ever talk about their vaginas.
So, i just started casually saying to friends of mine,
What do you think about your vagina?
What do you think?
[Vagina Monologue]
You know, it was sort of like an accidental thing
There was like a mirror on the floor,
And i walked up and i was like, what, what was that?
I have to go home and do some research.
I didn't look at myself 'til probably in college.
I don't even say the word to my ob-gyn.
And i went to the library, i'm sneaking in the library,
Looking through the books, and you know,
Like i'm covering the book with like something else.
And then it's like,
"admire it, it's a beautiful flower,
You know, it's like roses."
I'm like, we're not looking at the same thing
I took photos of it.
And i had a polaroid camera
And i would go into the bathroom
And take a picture.
Are you embarrassed?
Yes.
All those things are kind of like secret.
You know?
And it's not for, you know,
It's like your own little joy.
I realized there was no context
in which women ever talk about their vaginas.
So, i just started casually saying to friends of mine,
What do you think about your vagina?
What do you think?
[Vagina Monologue]
Menjadi perempuan itu menarik. Ah, sudah lama saya mau menulis ini tapi tidak pernah sempat (menyempatkan diri). Waktu saya baru belajar feminisme (teori) lebih dari sepuluh tahun lalu, banyak hal yang menarik untuk direfleksikan. Kemudian tahu soal teori post-modern soal feminisme, kenyataan di lapangan, advokasi kebijakannya. Tapi yang paling menarik dan tidak ada duanya ya jadi perempuan itu sendiri.
Saya adalah perempuan yang beruntung. Beruntung untuk dibesarkan di keluarga yang begitu egaliter sehingga saya punya begitu banyak pilihan dan keberanian serta wawasan untuk memilih. Di antara pilihan saya adalah untuk melongok dan mencoba memahami perempuan-perempuan yang tidak beruntung. If Treespotter reads this, I’m sure he’d be dying to have the debate over a bottle of jose cuervo with me :-). But treespotter, when you talk about “gender” issues, you don’t only talk about women around you. And especially you do not talk about women like me who can easily “mis-use” my options (hehehe).
Kalau saya menulis soal perempuan, pasti akan sangat dangkal. Sebab satu blogger tidak akan cukup untuk bercerita soal perempuan. Bahkan untuk potongan-potongan cerita mengenai pengalaman hidup. Dan seberapapun saya mencoba mengeksplorasinya, tidak akan banyak yang bisa saya hasilkan. Karena seberapapun saya kadang merasa saya punya terlalu banyak beban di pundak saya bagi seluruh persoalan keluarga yang rumit, saya adalah perempuan yang beruntung. Yang punya pilihan. Pernah saya menulis di hari kedua setelah ulang tahun saya yang ke-29:
Di P people expect me to be allright but i am not really allright.. beberapa pekerjaan jadi tertunda, karena toh ini bukan sekedar menyelesaikan pekerjaan, tapi beban pikiran yang bikin berat bekerja. Apakah ini karena guenya yang mau jaadi super dan mau menangani segalanya dan berambisi membuat segalanya baik? Tadi gue sempet berpikir begitu... but for god sake, i wouldn’t have chosen to be in this situation if I had an option! Gue nggak mau ngeluh. Gue nggak mau cerita ini ke siapa-siapa karena gue nggak mau orang jadi kasihan sama gue.... gue juga merasa gue manja kalo gue ngeluh terus bahwa gue capek seperti minggu lalu.... gue coba aja jalanin dan berusaha melakukan apa yang gue bisa. Satu-satunya cara mengurangi beban adalah untuk tidak ambisius bahwa gue bisa menangani semuanya dengan sempurna. Gue harus terima bahwa ada beberapa pekerjaan yang nggak selesai dan ada saat2 di mana gue harus tidur dan istirahat sekadar buat menenangkan pikiran.Lantas? It was over exactly because I realised more and more that whatever I’ve gone through, it was only a tiny problem in this huge grey world. Justru berangkat dari refleksi seperti inilah saya jadi menyadari bahwa pilihan dan keberanian untuk menentukan pilihan itu harus saya manfaatkan bukan buat diri saya sendiri. Tapi buat orang-orang yang tidak beruntung itu. Bukankah alasan ini yang membuat saya juga memilih bekerja di tempat di mana saya bekerja sekarang?
Toh kalau dipikir-pikir problem gue jauh lebih enteng dibandingkan dengan orang-orang miskin yang digusur, perempuan yang diperkosa dan banyak persoalan sosial lainnya yang gak bisa ditangani oleh yang terkena musibah karena persoalan struktural dan relasi kekuasaan. Problem ini toh masih bisa gue tangani pelan-pelan sejauh ini. Painful, but it will be over.
Kadang ada gugatan di dalam diri saya sendiri mengenai kegemaran saya mengeplorasi keberadaan saya sebagai perempuan. Tapi apa itu mengeksplorasi? Saya cuma menikmati kalau kali pertama saya muncul saya dianggap remeh (kadang-kadang digoda atau dilecehkan) sebagai perempuan muda tapi kemudian yang meremehkan saya jadi kaget waktu saya mulai bicara [makanya saya selalu berusaha bicara ada isinya]. Salah siapa ada citra itu? Bahwa perempuan yang menarik (emang gw menarik?? hihi) pasti bodoh. Bahwa perempuan "boleh" digoda dan dilecehkan (jadi ingat bang fery yang hampir disomasi sama jaringan perempuan karena menggoda saya di sidang resmi dpr waktu uu pa). Sepanjang semuanya dalam batas kenikmatan membalas citra itu dan tidak lebih dari itu, saya kira tidak ada yang salah. Yang bisa bitchy kan bukan cuma perempuan. Sama saja. Lelaki, perempuan sama saja. Ada yang nakal, ada yang menggoda, ada yang jail, ada yang suka memanfaatkan, ada yang suka dimanfaatkan. Itu bukan karena jenis kelaminnya, tapi ya memang orangnya.
Udah deh. Stop nulis. Nggak nyaman. Terlalu banyak kecoak di kamar ini (saya lagi di makassar). Saya sudah membunuh 1 kecoak remaja dan 3 baby kecoak. Tapi yang lain masih banyak berseliweran. Saya harus waspada, mungkin baiknya saya tidak tidur malam ini [ini seperti di pesawat trigana air ke/dari wamena, tersiksa!]. Saya phobic pada kecoak, tapi ini bukan karena kelamin saya perempuan, tapi karena saya manusia yang takut kecoak. Sama seperti teman saya yang laki-laki, yang takut sama buaya :-). Lebih baik saya lanjutkan paper ecosoc saya.
No comments:
Post a Comment