Kemarin saya ulang tahun. Seperti biasanya saya senang tapi hanya karena saya bisa dapat perhatian lebih pada hari itu. Ada ucapan-ucapan selamat. Sebagai momentum. Tidak lebih. Sama seperti tahun baru, lebaran, ulang tahun orang-orang lain. Tidak terlalu istimewa, tapi jadi momentum untuk punya hubungan-hubungan kemanusiaan yang lebih hangat dan keep in touch dengan teman-teman lama yang biasanya komunikasinya terputus.
Beda dengan tahun lalu saat saya selesai operasi gigi dan banyak orang lupa dengan ultah saya, kali ini saya senang karena banyak yang ingat. Sms agak banyak, telepon, dan kado dari anak-anak kantor. Sweet banget, mungkin saya tidak mampu menunjukkannya secara ekspresif, tapi sesungguhnya saya terharu betul sama kado yang sederhana itu. Kata iqbal itu wajar karena saya “boss”, mungkin juga, tapi mudah-mudahan saya boleh ge-er sedikit dan merasa terharu dengan perhatian itu.
Yang paling mengesankan sebenarnya adalah ultah ke-30. Dua tahun lalu [astaga, tua banget!]. Mengesankan karena saya dan keluarga sedang mengalami cobaan berat, tapi karena itu ultah ke-30, papa, mama, dan chandra –tiga orang yang jadi motivasi hidup saya- mengirimkan nasi tumpeng ke kantor untuk saya, dengan ucapan sederhana yang bikin saya hampir menangis. Terharu karena papa bilang uangnya dari sedikit uang hasil seminar yang saya kasih ke mereka, padahal kita semua lagi kesusahan. Sekalian berefleksi, tahun ini semuanya memang menjadi lebih baik. Kita tinggalkan rumah gila itu pada tahun ini dan saya punya banyak peristiwa menarik dalam tahun ini. Termasuk tentu saja pernikahan saya.
Saya senang semuanya bisa berakhir tahun ini. Semua kesusahan itu, termasuk kisah dengan puisi-puisi itu. Having said that, saya dapat pesan ulang tahun yang menarik: kamu harus berdamai dengan diri kamu sendiri dan harus berdamai dengan masa lalu kamu. Ya memang betul. Berdamai dengan diri sendiri juga akan membuat saya bisa berdamai dengan orang-orang di sekitar saya. Untuk soal kerjaan saya merasa saya mulai banyak mencoba memahami persoalan orang. Begitu juga untuk pergaulan dengan orang-orang di sekitar saya. Cuma memang lingkaran yang agak di tengah masih saya tutup, entahlah sampai kapan.
Tidak ada yang istimewa dengan hari ulang tahun. Kecuali sebagai hari untuk “kehangatan” dan refleksi. Yang jelas, saya berterima kasih pada siapapun itu di atas (?) sana yang mengatur dan menyediakan kelokan-kelokan yang sudah saya pilih sebagai jalan hidup saya. Ada ucapan-ucapan yang agak flattering ;-) dan doa untuk kesehatan, panjang umur, rejeki, kesuksesan, dan lain-lain. Saya hanya bisa berucap: “amiiiin” dan berterima kasih, mudah-mudahan semua berjalan dengan baik. Tapi buat saya, doa saya hanya: supaya makin dewasa (tua kali! haha) makin bisa berguna untuk orang banyak (dan itu bukan berarti jabatan, posisi, ataupun gelar, sederhana: berguna – dalam kapasitas dan cara apapun, mulai dari materi, kata-kata, tegur sapa, dan senyuman, walau hanya untuk orang-orang di sekitar kita, mama, papa, chandra, anak-anak PSHK, tukang taksi, pak harjana satpam di puri casablanca, tukang ojek payung, anak-anak asuh saya) [kalau tidak buat apa hidup? Sekali berarti sudah itu mati, kaya chairil anwar] dan semakin “menunduk”, tidak sombong dan tenggelam dalam ketakaburan.
No comments:
Post a Comment