- Mudah-mudahan saya bisa, saya harus ke saya harus luar kota pas lebaran. Kapan persisnya mbak?
+ Sekitar minggu pertama lah, mungkin setelah tanggal 7 November
- Oh, kalau tanggal segitu saya insya allah bisa.
+ Mbak, sibuk nggak, saya sekalian mau tanya-tanya boleh ya?
- Boleh. Ada apa?
+ Mbak tau kan Pak *** mau mencalonkan diri jadi gubernur. Menurut mbak gimana, Bapak ada peluang nggak ya?
- Wah, saya belum bisa prediksi tuh. Sebab calon yang dari Partai *** kan masih ada beberapa orang, belum final kan?
+ Tapi apa kira-kira mbak akan mendukung Pak ***?
- [ketawa] wah itu saya belum tahu mbak, kan masih belum jelas siapa aja kandidatnya. Baru Februari ya?
+ Iya sih, tapi kalau dukungan dari LSM-LSM gimana sih mbak?
- [ketawa lagi] yah apalagi LSM-LSM, karena masih lama, kita belum memikirkan sampai ke soal pemilihan gubernur tuh, masih banyak hal lain yang jadi pemikiran kita saat ini. Kalau pun sudah mulai diobrolkan, nggak nyebut nama yang didukung karena masih banyak kemungkinan.
+ Tapi siapa tau udah mulai dibicarakan. Mungkin indikasi gitu?
- Enggak, belum. Gini lho, kita itu cenderung bicara soal kriteria daripada nama. Mungkin seperti kalau mbak inget, jaman kita dulu kampanye soal politisi busuk. Ada kriteria-kriterianya. Kita cenderung bicara ke situ. Harusnya gubernur jakarta itu yang bisa menyelesaikan masalah-masalah sosial di sini, kemiskinan, lingkungan, gimana itu jangan sampai main gusur sana sini, bikin macet. Siapa yang nggak korup. Dan lain-lain. Nanti kita lihat perkembangannya, siapa saja yang memenuhi kriteria itu. Tapi biasanya kita nggak mendukung orang, kita cenderung enggan masuk ke wilayah politik praktis.
+ Menurut mbak seharusnya bagaimana?
- [kesempatan nih] Ya itu tadi, gubernur jakarta harusnya fokus untuk menyelesaikan masalah yang sudah sejak lama tidak diselesaikan. Soal jurang kemiskinan, soal penggusuran, soal sampah, banjir terus, macet, dan lain-lain. Itu yang saya kira penting sekali.
+ Kalau LSM perempuan mbak?
- Ya sama aja. Kita juga akan melihat, siapa yang mendukung kebijakan untuk perempuan. Yang nggak asal menangkap PSK. Yang tidak bias jender. Tapi saya kira nggak akan ada dukungan untuk ke satu nama. Ya itu tadi, kita biasanya bicara soal kriteria.
+ O gitu ya. Mbak milih di jakarta kan?
- Iya.
+ Kalau mbak sendiri gimana? Mau nggak milih Pak ***? Mbak milih kan?
- Milih dong.
+ hehe, abis kan banyak juga tuh orang-orang LSM yang nggak mau milih.
- Golput maksudnya? Nggak lah. Buat saya pribadi, mungkin saja saya nggak milih kalau tidak ada kandidat yang sesuai dengan kriteria saya.
+ Apa mbak nanti bersedia mendukung pak ***?
- [senyum sendiri.. I thought so, you'd ask me this.] Wah untuk saya sih mbak, dengan kedudukan saya di pshk, saya memilih untuk tidak berpihak pada kandidat. Saya akan benar-benar hati-hati di kriteria, terutama yang berkaitan dengan hukum.
+ Tapi mbak nanti mau bantu-bantu pak *** kan? Mbak kan cukup dekat dengan beliau.
- Hh.. repot lah mbak... Mungkin saja saya pribadi mencoblos untuk pak *** kalau saya rasa dia pas dengan kriteria saya. Tapi untuk ikut mendukung dalam pemilihan, nggak mungkin dengan jabatan saya dan organisasi saya. Kita punya policy internal untuk itu [padahal sih enggak ada aturan tertulis, kesepakatan etika aja]
+ Oh gitu ya, ya udah. Tapi saya informasikan saja dulu ya mbak, soal halal bi halal itu. Kalau bisa nanti datang ya mbak.
- Kalau waktunya pas, pasti akan saya usahakan datang.
+ OK. Ma kasih mbak. Selamat sore.
- Sore.
Besoknya. SMS dari seorang kawan masuk.
"Kami mengundang kawan-kawan LSM untuk berdiskusi dan berbuka puasa bersama
dengan *** di kantor [sebuah NGO di jakarta], Jl. [alamatnya]"
Saya senyum sendiri. Kita mendadak jadi begitu penting kah? Elite baru ni yeee.haha. Memangnya apa/siapa sih anak NGO? Pentingkah mendekati kita? Ya orang yang cerdik pasti memang akan mendekati semua kelompok. Jangan GR ah. Toh semua memang harus didekati, FPI, polisi, tentara, ulama, gereja, anak jalanan, bikin pertandingan bola. Segala macam. Ya, tapi apa yang sebenarnya bisa diharapkan dari kita? Dan, yang paling penting, sebenarnya bagaimana mengelola kepentingan politik ini untuk agenda kita. Apa "cuma" kriteria dan
kampanye bisa punya dampak konkrit?
No comments:
Post a Comment