Kali pertama ke sana saya begitu terkesan dengan Kota Itu: dengan tentara di mana-mana dan ketakutan yang tergambar di muka orang-orang. Kali kedua saya datang karena bencana yang merobek hati saya (kita). Saya berjumpa dengan dia. Kali ketiga, keempat, dan seterusnya saya kehilangan dia. Setahun berlalu, saya tertunduk sedih di rex karena dia yang hilang. Tapi ketika saya menundukkan muka dengan rasa kehilangan, dia yang lain datang. Kali kesekian saya datang ke Kota Itu dan kali kesekian dia yang datang hadir di Jakarta. Kami begitu dekat.
Lalu yang di Jakarta harus ke Kota Itu. Dan yang di Jakarta bertemu dengan perempuan itu. Saya patah hati. Tapi saya punya mereka yang begitu dekat.
Setengah tahun lalu, semua itu. Dua minggu lalu saya kembali ke Kota Itu. Yang hilang datang lagi dan dia yang datang jadi menjauh. Sibuk, katanya, tapi tentu aku selalu ingat kamu. Terima kasih karena mau mengingat saya, karena saya juga mengingat kamu, seperti saya mengingat banyak yang lainnya dari Kota Itu. Yang datang, yang pergi, yang menjauh, yang mendekat, yang jelata, yang kaya.
Kota Itu selalu memberi saya cerita. Tentang cinta, tentang kesedihan, tentang kepalsuan, tentang kesetiaan, tentang penderitaan, tentang kemunafikan, tentang kasih, tentang kenangan, tentang keindahan, tentang pohon kelapa, tentang hijau gunung, tentang ombak laut, tentang kekaguman, tentang kerinduan. Tentang Kota Itu.
No comments:
Post a Comment