Monday, September 04, 2006

Old Timer?

Malam ini saya agak sedih. Sebenarnya mungkin biasa saja. Cuma satu cerita yang mendadak membuat saya agak pendiam. Hari ini kita bikin diskusi sambil ngopi. Seru juga. Tiba-tiba di tengah diskusi Irfan menyarankan supaya perbincangan kita ada yang menuliskan, kemudian dikirimkan ke media. Dia bersedia membantu mengedit, katanya. Ide bagus, kata anak-anak. Lia dan Anna mau menulis. Saya diam dan berbisik ke Ronald, "gue udah lama mendorong elo-elo untuk ini, bahkan memberikan topik, tapi selalu dicuekin". Berbisik sambil tertawa, Ronald juga tertawa.

Di rumah saya agak sedih. Mungkin juga karena banyak berita di TV yang bikin saya marah. Tapi saya kira sebagiannya lagi karena saya kecewa ketika mengingat betapa banyaknya dorongan saya ke anak-anak untuk menulis. Mulai dari menawarkan menyunting, memperbaiki tulisan mereka, memberi ide, mendorong diskusi untuk menulis, sampai memberikan judul. Sampai saya pernah membuatkan suntingan lengkap dengan komentar supaya anak-anak mulai belajar menulis teliti dan baik, walau tentunya saya pun mesti perlu banyak belajar (saya bahkan baru tahu bahwa kata "paska" yang selama ini saya gunakan berdasarkan kamus besar ternyata salah!). Tetapi semuanya tak berbuah. Ketika sekarang datang seorang Irfan mendorong teman-teman menulis, mendadak semua berpikir itu ide bagus.

Duh, pencemburu sekali saya! Tiba-tiba saya ingat Pak Dan, seseorang yang sudah tiada tapi tak berhenti menginspirasi saya. Saya ingat tulisan GM tentang Pak Dan: Dan tak pernah berbicara tentang dirinya sendiri. Itulah! Saya mendadak merasa malu karena saya begitu ingin dihargai dan didengar. Padahal bukankah tujuannya yang penting? Bagus kalau akhirnya sekarang teman-teman akhirnya mau menulis karena ada Irfan. Saya malu sama Dan, sama patung-patung di depan saya, serta setan-setan di dekat saya: betapa saya memikirkan diri sendiri!

Tetapi entah mengapa mendadak saya merasa tua dan ditinggalkan...

No comments: