Saturday, March 08, 2008

Princeton

Sial amat. Ini hari terakhir saya di Princeton: hujan dan luar biasa dingin. Sore ini saya cuma bisa minum kopi di Starbucks (!), pas di depan gerbang kampus yang indah ini. Saya hanya sempat membeli dua buah buku, lalu terpaksa berhenti di sini karena hujan terlalu deras.

[From: http://www.lamirageinn.com/images/a-princeton-university2.jpg]

Tapi menarik juga duduk sendirian di bangku tinggi di pinggir jendela, minum kopi sembari menatap kampus tua yang indah di depan saya di sela-sela rintik hujan yang selalu saya suka. Melihat orang lalu lalang, kotak-kotak penjual koran, kampus batu bata tua dengan menaranya, pohon meranggas, dan bangku kayu di depan saya.

Saya ke sini untuk workshop tentang Constitution Writing. Saya kira saya mengambil keputusan-keputusan yang tepat untuk 3 forum terakhir – keputusan yang agak sulit karena ada sekitar 6 seri acara dan banyak sekali acara-acara kecil pada saat yang bersamaan dan saya harus memilih dan berakrobat. Siap-siap membaca ini: 3 feb saya berangkat ke lombok-waingapu-bali sampai 24 feb (ya, 3 minggu), sehari di kantor dengan semua jadwal pertemuan dipadatkan untuk satu hari, 26 feb ke Hanoi sampai 1Maret. Malam sampai di rumah, 10 jam kemudian, 2 Maret pagi sekali saya berangkat lagi ke bandara untuk berangkat ke London, lalu ke acara conference di Sussex selama 3 hari, tanggal 5 nya, sehari sebelum conference di Sussex selesai, saya terbang dari Gatwick langsung ke Newark untuk ke sini, Princenton. Nanti malam, jumat jam 11 malam saya akan pulang, melewati dateline sehingga saya baru akan sampai di Jakarta Minggu pagi. Saya harus langsung ke brunch dalam rangka ulang tahunnya M (pasti akan luar biasa jetlagged, tapi nggak enak lah sama DZ). Senin akan jadi hari yang hectic lagi karena itu adalah salah satu dari hanya dua hari dalam 2 bulan ini di mana saya ada di Jakarta. Lantas malamnya saya harus ke Makassar sampai tgl. 17 Maret. Capek nggak bacanya? :-)

… dan masih ada kemungkinan saya harus langsung ke papua dari Makassar untuk 3 hari, kemudian pulang dan menginap semalam di rumah terus langsung ke Aceh untuk 3 hari. Papua mungkin masih bisa batal, mudah-mudahan :-). Saya ingin istirahat di Aceh, istirahat? Di Aceh? Mana mungkin? Hihi. Yah, let’s just say I want to be spoiled there ;-)

But anyway, sore ini saya merasa keputusan mengenai jadwal saya itu tepat semua. Saya pusing sendiri juggling on my schedule Januari lalu, dan Uki ikut pusing karena dia yang harus telepon sana sini, bantu urus visa, dan urus tiket sana sini (‘ma kasih Uki…. you’re the best!). Namun setelah semua upaya maksa-maksain jadwal dan persiapannya dilalui dan saya menjalaninya, saya menikmati sekali semua perjalanan ini. Saya harus membuat banyak paper dan presentasi untuk ini semua, tapi saya belajar luar biasa banyak.

Di sini, Princeton, refleksi saya kebanyakan soal kemampuan akademik saya dan masa depan saya. Di sini saya tidak harus menyiapkan paper. Awalnya saya bingung juga, unusual, saya selalu bikin paper dan power point untuk forum-forum yang saya ikuti (makanya tulisan saya banyak, saya membiasakan diri seperti ini karena dengan cara inilah saya jadi belajar terus dan nggak “basi” seperti beberapa “selebriti-akademisi” yang saya kenal). Tapi saya pikir, toh kalau mau bicara konstitusi Indonesia semuanya ada di kepala saya. Yang membuat deg-degan adalah karena saya tahu dari awal siapa saja yang akan ada di sini.

…and here I am, with my gurus. Pengalaman yang luar biasa. Saya.. diskusi dan ngobrol dengan Yash Ghai, dengan Kim, dengan orang-orang yang selama ini tulisannya selalu saya kagumi! Rasanya sama seperti waktu saya pertama ketemu Stephen Gill di LSA Meeting di Vancouver atau diskusi sama Mark Tushnet di World Bank Workshop di DC. Yah, kalau mau dibandingkan, rasanya sama waktu saya duduk di belakang Iwan Fals dan Tora Sudiro di pesawat kali ya, bedanya, saya nggak diskusi sama mereka berdua :-). Mungkin sama dengan ABG ketemu idolanya. Begitulah rasanya. Cuma jaim dooong hehe… sembari tetap menyatakan: “Glad to finally meet you in person, I have been reading your work and admire you.” Belakangan “si Yash” malah akrab karena dia jadi merasa pernah satu almamater (Warwick, walau dia pergi 2 tahun sebelum saya sekolah) …dan dia mau mengkopi PSHK untuk Nepal!

Saya jadi ingat tujuh tahun lalu waktu saya untuk pertama kalinya harus presentasi dalam international conference di ANU. Dan bagaimana pengalaman dan pengetahuan saya berkembang setelah itu. Lalu saya berpikir soal masa depan saya. Soal kehidupan yang akan saya jalani. Saat ini saya sangat menikmati hidup saya pasca-DE, yang lebih banyak difokuskan pada penelitian, menulis, dan memberi pelatihan, serta konsultansi untuk beberapa lembaga internasional. Saya sangat menikmatinya. Namun Agustus nanti saya harus meninggalkan ini semua. But maybe for better (yes?). Tanpa jaringan seperti ini dan sekolah lagi saya akan tetap berada di pinggiran lingkaran ini. Saya memang sudah ada di sini, tapi saya butuh advancement, kan?

Saya juga butuh lingkungan yang bisa membuat saya berkonsentrasi lebih baik dan banyak menulis di jurnal-jurnal internasional. Sudah lama saya berpikir: saya harus jadi bagian dari sedikit orang indonesia yang bicara dan menulis tentang Indonesia dalam bahasa Inggris. Bila tidak, saya akan makin sering berada pada posisi dongkol atas tulisan-tulisan yang dibuat oleh orang asing yang tidak akurat atau dengan data dan opini saya dari namun tanpa referensi yang memadai. Bukannya saya “nasionalis-sempit,” tapi sedih juga melihat banyaknya orang Indonesia cerdas yang tahu betul “kondisi lapangan” di Indonesia sementara kualitas tulisan berbahasa Inggris mengenai hukum Indonesia sangat minim karena Indonesianis di bidang hukum setelah Pak Dan sekarang rata-rata hanya kerja di belakang meja sehingga kualitas tulisannya rendah. Cukuplah SB dan TL menulis hal-hal tidak tepat mengenai hukum indonesia.

Saya harus menulis. Upen, Pak Dan, etc pernah meminta saya menulis di jurnal internasional. Tapi semuanya terbengkalai karena kerja-kerja di Jakarta. Waktu saya ngobrol dengan Christina Murray (I always think she’s cool, I knew her from 2001-2002 amendements), saya jadi sadar bahwa saya sudah luar biasa banyak menulis soal DPD dan amandemen misalnya (asli banyak, mungkin selain saya hanya Farli yang sudah menyadari hal ini, anak-anak yang lain mah mana peduli.. :-)), tapi semuanya dalam bahasa Indonesia. Sementara sama sekali belum ada referensi bagi dunia internasional yang komprehensif mengenai itu semua. Christina janji akan “memaksa” saya menulis dan mengoreksi tulisan saya. Mudah-mudahan kali ini saya berhasil.

Di forum ini saya merasa seperti di “rumah”. They are my kind! :-) makhluk-makhluk aneh sejenis saya. Yang bisa bicara begitu passionate tentang referendum, drafting, konstitusi, dan begitu banyak soal yang mungkin terdengar membosankan untuk sebagian orang. Semua yang ada di sini adalah constitutional lawyers atau political scientists yang mendalami soal konstitusi. Mereka pernah membantu membuatkan atau setidak-tidaknya memberi advis dalam pembentukan konstitusi di hampir seluruh dunia. Kenya, Afrika Selatan, Nepal, Fiji, Vanuatu, Thailand, Bolivia, you name it! Diskusinya luar biasa bermutu (tanpa bunga-bunga seperti beberapa kawan di Tim 9 yang suka bicara bunga lebih banyak daripada isinya :-)).

Terlalu banyak yang bisa saya tuliskan di sini, namun saya akan berhenti di sini saja. Saya luar biasa excited. Bukan hanya karena sel-sel kelabu otak saya dirangsang secara luar biasa 2 hari ini, tetapi juga bagian lagi di dalam benak saya berpikir: saya mau ke mana sebenernya? Mungkin seperti Yash dan Christina? Ngajar di kampus, menulis, dan konsultasi. Yah, sebenernya hampir persis dengan yang saya lakukan sekarang, hanya saja saya mengajar di pelatihan-pelatihan belaka dan bicara di berbagai forum sebagai akademisi-peneliti, tidak mengajar di kampus :-) oh well, if no campus in Indonesia wants me, I might as well be like Upen and Yash who has been teaching all around the world and framing constitutions and legal institutions alll around the world :-P boleh kan punya mimpi? :-)

Masih hujan, tapi saya harus kembali ke Nassau Inn karena belum packing. Yes, packing, flying for 20 hours home - back to reality...

No comments: