Monday, December 04, 2006

Status Perkawinan

Kenapa “status” begitu penting?
Sudah lama saya ingin menulis ini. Sebab saya begitu sering ditanya soal status di banyak forum dan pelatihan di mana saya harus berkenalan (nggak mungkin kan out of the blue ada orang tanya gue udah married apa belom…). Mbak statusnya apa mbak? Awalnya saya akan menjawab dengan jujur: belum kawin (itu dulu cuy…), karena saya memang suka dapat fans hihi. Lantas saya merasa itu sebenarnya adalah pelecehan (walau saya tetap senang punya penggemar hihi), sehingga saya sering menjawab: nggak relevan. Kalau kata Fiona waktu kami memberi seri pelatihan di lima kota tahun lalu, saya perempuan yang empowered karena saya bisa marah hanya karena ditanya seperti itu. Empowered atau tidak empowered, sebenarnya saya tidak terlalu peduli, hanya saya memang merasa itu tidak relevan dan pelecehan, dan seperti biasa saya harus mengatakan apa yang saya pikirkan. Kenapa pelecehan? Karena apakah tingkat penghargaan mereka terhadap saya jadi bisa berubah bila mengetahui apakah saya sudah menikah atau belum? Karena soal pernikahan adalah ruang pribadi, sama dengan agama, yang juga seharusnya tidak perlu masuk ktp.

Tapi status menikah juga menjadi “alat” yang baik untuk situasi tertentu. Misalnya waktu memfasilitasi atau bicara di hadapan ibu-ibu :-). Seperti biasa saya harus mencari kata kunci untuk masuk ke suatu komunitas yang sedang saya hadapi. Kadang akar palembang saya dan juga akar banten saya atau bahwa saya pernah kuliah di Inggris atau bahwa suami saya orang jerman atau bahwa karena itu saya juga berstatus “warga” eu atau bahwa saya pernah ke sana dan ke sini. Seperti pernah saya tulis di sini, orang-orang cenderung mencari-cari “kekitaan”. Dan fakta bahwa saya menikah juga pintu masuk yang baik untuk kemudian bicara banyak hal.

Untuk lelaki status pernikahan saya kadang jadi tidak terlalu penting hihi. Ada yang cuek aja. Ada juga yang kaget, “bener bip, kamu sudah menikah?” menyesalkan. Ya kalaupun memang belum, abang kan sudah menikah.. memangnya saya mau jadi istri kedua kamu wahai anggota partai pendukung poligami??

Buat saya pun sebenarnya “status” per se juga tidak penting. Bukan karena saya ‘nakal’, tapi sekali lagi, karena itu adalah wilayah privasi saya. Saya mau ke dpr, saya mau ke dprd, saya mau ke mana saja, dalam aktivitas saya, apalagi dalam pekerjaan, status pernikahan sama sekali tidak relevan. The fact that I have the “contract” of the marriage is an undeniable fact that counts in my personal life, but the marital status does not have anything to do with my work.

No comments: