Saturday, December 09, 2006

Do things with Passion

Belakangan ini saya mengalami beberapa pengalaman presentasi yang menakjubkan. Yang pertama tentu waktu di DC. It was extraordinary. A bilang begitu, aryani, ff, semuanya deh.. tapi ga tau deh apa si ala porta berpendapat begitu (dia penting soalnya saya butuh beasiswanya hehe). Juga waktu di world blank dc. Yang baru-baru ini adalah yang di banda aceh kemarin untuk acaranya unifem dan unfpa.

Banyak hal saya pelajari dari pengalaman. Presentasi, lobbying, berorganisasi, advokasi, dan lain-lain. Kebetulan minggu lalu di banda aceh juga ngobrol panjang sama mbak yenni soal berorganisasi yang learning by doing itu. Saya senang belajar dari banyak orang dan tentunya juga belajar dari diri saya sendiri dari kesalahan-kesalahan yang saya buat. Dan saya senang ketika kemudian saya diminta sharing, kadang-kadang oleh anak2 mahasiswa. Karena saya jadi dipaksa untuk berefleksi dan mensistematiskan apa yang saya alami.

Presentasi yang sukses disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, bila kita menguasai betul topiknya (termasuk kemudian punya banyak bahan). Kedua, menggemari sehingga bisa bicara dengan “passion”. Ketiga, bila kawan bicara sangat lemah.

Orang cenderung mencari yang ketiga. Saya sendiri punya pengalaman presentasi sukses karena dibantu oleh faktor yang ketiga itu, termasuk yang di usindo (fhw) dan yang di unifem (rbm). Walau menguntungkan, tapi ini tendensi yang buruk dan lebih baik dihilangkan dari faktor-faktor itu (saya hanya menuliskannya justru untuk mengkritiknya).

Kuncinya buat saya jadi selalu ada dua: passion dan knowledge. I always choose topics that I am passionate about. Saya makin selektif menerima undangan bicara. Dan saya selalu bikin materi, sedapat mungkin makalah, walau singkat (saya selalu beri judul “catatan pengantar diskusi”, sebagai disclaimer bahwa buat saya itu BUKAN makalah, for a makalah is something much more serious than that). Tapi seminimal mungkin power point. Dengan membuat makalah, saya jadi harus mencari bahan, itu satu. Kedua, saya jadi harus berpikir dan mensistematiskan segala hal yang beterbangan di otak saya. Toh buat saya menulis makalah dan berpikir memang merupakan suatu kenikmatan.

Passion memang selalu jadi kata kunci buat saya. Saya percaya apapun yang dilakukan dengan passion akan selalu memberikan hasil yang maksimal. Ketika jadi pemain musik kah, ketika membaca puisi, ketika menjadi sekretaris, menjadi lawyer, menjadi researcher, menjadi lobbyist - apa pun. The issue is then how to keep the passion and how to develop the passion into knowledge.

On other topic (maafkan bahasa saya yang kacau kumacau dan campur-campur serta cerita saya yang tidak sistematis)

Beberapa malam lalu ff bertanya: kenapa prioritas saya kerja, bukan keluarga? [oh dear…]. Saya setengah tidur menjawab asal-asalan: cos I like doing what I am doing. Kemudian kayaknya saya jatuh tertidur (Ancur banget ga sih gue sebagai istri?? Hihi) karena sore itu saya baru pulang dari aceh, terus kerja di kantor, dan besok paginya harus berangkat ke manila.

Kenapa ya? Saya selfish itu satu hal. Tapi hal lainnya adalah memang saya menikmati betul apa yang saya kerjakan.

Menulis buat saya adalah kenikmatan yang luar biasa (ini serius, nggak becanda), memfasilitasi buat saya sangat menyenangkan, jadi pembicara juga selalu jadi pengalaman yang luar biasa, juga ketika menuangkan ide ketika merancang aktivitas. Saya merasa di titik itulah jiwa-jiwa kreatif saya yang jarang-jarang ada (I don’t play music, don’t sing, not able to paint) jadi muncul dan saya bisa puas luar biasa. Saya menikmati ketika “sel-sel kelabu” di otak saya berputar dan otak saya penuh dengan banyak gagasan dan kadang potongan gagasan yang belum tersambung. Saya bisa tidak tidur tiga malam untuk menulis, secara sukarela dan happy.

Jadi ini adalah soal selfishness. Karena saya mau menyenangkan diri sendiri, nggak mau jadi bayang-bayang saja dan mau punya aktivitas, rencana, dan segalanya sendiri. Karena itulah menurut ff saya nggak kompatibel dengan pernikahan. Memang iya! Saya kadang masih suka bertanya kenapa saya akhirnya memutuskan untuk menikah.

Saya mulai ngurus rumah, jadi menteri keuangan kalau kata ff, tapi semuanya saya atur dengan begitu organisasional dan rasional. Sampai-sampai saya email laporan keuangan bulanan ke ff hihi dunno why I do that, I just think I should. Saya nggak suka masak, so? Ya udah ff is the cook of the house. Share semuanya fifty-fifty, ya oke, buat saya itu lebih fair. Bukan sok-sok kesetaraan gender, tapi I don’t see any other way to do it. Kalo kata beberapa teman saya terlalu rasional, sebagian lagi bilang saya “dingin”, sebagian lagi bilang saya in denial. Whatever! I am really not compatible with marriage life. Maybe this is something that I also have to learn by doing? ;-P

No comments: