Tuesday, December 19, 2006

Lobbyist

Kamis minggu lalu saya diminta untuk memberi pelatihan lobby untuk fasilitator perdamaian-nya ITP. Saya sudah jelaskan bahwa saya biasanya me-lobby untuk advokasi kebijakan dan belum punya pengalaman lobby untuk penyelesaian konflik. Tapi setelah dijelaskan modulnya, akhirnya saya ambil kesempatan itu.

Secara kebetulan belakangan ini saya menemukan banyak kesempatan di mana saya diminta share tentang lobby. Beberapa minggu lalu saya diwawancara sama mbak yaya karena untuk pelatihan legislatif perempuan aceh dia harus memberi materi ini dari aspek komunikasinya. Sementara dia sebenarnya tidak punya pengalaman lobby beneran. Lantas, si sam waktu itu ngajak ketemu juga karena tertarik waktu hasan bilang saya lobbyist. Saya cerita banyak ke sam sehingga pertemuan sembari ngopi malam itu seperti forum refleksi buat saya. Lalu cerita-cerita sama sinchan soal menjadi lobbyist dan politisi. Termasuk untuk menjadi semakin dalam mengetahui latar belakang seseorang. Bahkan kalau perlu memajang foto-foto target lobby (dalam skala kecil, saya punya semua info anggota dpr dan dpd di laptop saya dan sangat terbiasa background checking ke mana-mana –lewat google, telepon orang, dan lain-lain- sebelum bertemu siapapun) dan menghafal semua latar belakangnya.. sebuah tantangan besar bagi saya yang pelupa. Kemudian pelatihan ini. Sebelumnya saya juga pernah memberi pelatihan lobby untuk jaringan perempuan, dan juga materi soal materi tertulis untuk advokasi di kementerian pp. Juga sesi mengenai “lobbying for legislative change” di acara cetro. Tapi yang satu ini lebih menarik.

Banyak definisi lobbying menurut wikipedia. Juga sudah banyak buku referensi yang saya beli walau belum sempat dibaca tuntas. Tapi kali itu, saya benar-benar lupa bahwa saya harus memberi pelatihan keesokan harinya, sehingga saya pergi dinner dan santai-santai, sampai jam 12 malam saya cek agenda saya dan sadar bahwa jam 8 pagi saya harus ke bogor untuk memberi pelatihan ini! Maka saya segera mulai membuat makalah dan power point presentation. Itupun saya baru mulai jam 3 pagi karena sebelumnya saya menulis dulu untuk sinar harapan (gara-gara erik dan sampai sekarang belum dipublikasikan! Grrrr!). Akibatnya, saya tidak membawa bahan apapun dan belum siap apapun. Maka yang saya lakukan hanyalah berefleksi dan mengolahnya menjadi suatu tulisan. Namun hasilnya jadi sungguh menarik!

Ketika menulis saya menjadi sadar bahwa yang saya lakukan waktu advokasi uu pa sesungguhnya adalah advokasi untuk penyelesaian konflik. Sungguh saya baru sadar. Itu bukan advokasi kebijakan biasa seperti waktu saya advokasi bikameral atau uu kewarganegaraan atau uu politik, dan lain-lainnya.

Anyway, tanpa referensi (kecuali sepotong tulisan yang pernah saya tulis soal bukunya bend an derrick), saya menulis sampai 12 halaman! Luar biasa kan untuk kerja murni 3 jam (biasanya walau hanya menulis dalam 1 atau 2 jam, saya berpikir dan berdiskusi sejak beberapa hari sebelumnya) dan tanpa referensi. Saya membuat langkah-langkah lobbying dan kemudian mengkontekskannya untuk situasi konflik. Saya ingin menulis lebih banyak lagi, tapi saya sudah set alarm hp saya untuk mandi jam 6 pagi karena saya harus sampai di bogor jam 8 pagi. Power point presentation pun saya kerjakan separo sampai jam 6.30 dan akhirnya saya teruskan di taxi dari bogor ke pramesti, setelah sebelumnya sepanjang jalan tol saya tidur karena terlalu lelah.

Presentasi, saya makin suka presentasi. Saya sungguh siap kali itu, walau saya cuma tidur tidak sampai satu jam di taxi. Sebab saya begitu passionate tentang topiknya. Dan karena saya kembali melakukannya dengan passion, saya puas sekali. Saya memberikan presentasi power point dengan banyak cerita dan contoh kasus. Menampung pertanyaan. Semua dengan rasa percaya diri yang luar biasa. Saya juga cerita keinginan saya untuk menjadi lobbyist yang makin professional dan upaya saya untuk mengatasi kelemahan saya soal daya ingat untuk kerja lobby.

Saya jadi makin percaya bahwa passion membuat semuanya mungkin justru dalam pelatihan ini. kenapa? Karena dory yang pelupa ini ketika mencontohkan (with passionate style of talking) tiba-tiba bisa ingat bahwa saya pernah bertemu atau somehow have some connections dengan peserta! Ada yang dari Tual, ada yang dari palu.. hanya dengan menebak! (with passion! hehe).

Saya juga cerita mengenai pentingnya mencari “kekitaan” dan banyak mencontohkannya dengan cerita-cerita yang juga sering saya ceritakan di blog ini. Juga tentang tantangan sekaligus keuntungan menjadi lobbyist perempuan. Bahkan dengan menunjuk hidung para peserta lelaki sambil senyum manis bahwa saya tahu mereka semua punya pikiran tertentu waktu saya memasuki ruangan pelatihan hihihi. Ya karena saya sadar terlalu banyak foto diambil, seperti biasa kalau pelatihan atau seminar (bukannya ge-er, karena saya memang sengaja dandan untuk semua acara yang saya ikuti). Semua kaget, nyengir-nyengir, ada yang malu, ada yang ketawa. Nggak ada yang jatuh tertidur dalam sesi saya.

Semuanya adalah refleksi. Saya begitu menyenangi pelatihan kali itu karena acara itu (berikut proses menulis dan presentasinya) sesungguhnya adalah ajang refleksi saya. Juga ketika menjawab pertanyaan mereka yang susah-susah dan sangat konkrit dan mengejutkannya karena saya bisa menjawab hampir semua persoalan yang mereka hadapi! Karena ternyata hampir semuanya sudah saya hadapi, meski dalam konteks yang berbeda. Walau tentu saja saya selalu tekankan bahwa yang saya ceritakan hanyalah referensi yang bisa digunakan, tapi imajinasi mereka dan konteks daerah mereka akan membuatnya berbeda.

Ada sebuah pertanyaan yang menarik. Bagaimana sebenarnya kiatnya untuk memilih lobbyist di situasi konflik? Bagaimana bersikap di tengah dua komunitas yang punya konflik horizontal? Lalu saya jadi sadar bahwa kesuksesan saya untuk lobby uupa adalah justru karena saya bukan orang aceh. Saya "harmless" buat siapapun, justru karena saya bukan siapa-siapa. Saya jadi makin sadar bahwa saya harus memelihara ke-bukan-siapa-siapa-an ini. Karena saya kira saya juga berhasil menjadi mediator di banyak “konflik” teman-teman dan menghubungkan satu kelompok dengan kelompok lainnya karena sikap tenang dan “tidak mau” menjadi sombong. Makanya saya selalu takut terpeleset jadi sombong atau takabur.

Satu lagi yang saya tekankan adalah untuk bisa menjaga rahasia [bayangkan, saya sampaikan soal pentingnya menjaga rahasia kepada dua orang kawan after four glasses of absolut, 1 b52, and 1 shot of tequila! Some people said that maybe I cannot get drunk at all, but I told them “of course I can get drunk, I just know my limit.” ;-)] Kata treespotter bukan “bisa menjaga rahasia” tapi juga “tahu kapan mesti membuka rahasia” hehehe. No lah. Yang membuat saya dekat dengan kawan dari finlandia itu kan justru karena saya merasa saya harus menjadi seperti dia: siapa-siapa yang bukan siapa-siapa. Tentu saja tidak mungkin sok-sokan menjadi seperti “dalang” di belakang layar, enggak lah, itu namanya malah sudah jadi sombong dan lobby nggak akan berhasil. Hanya jangan suka ember, nggosip, merasa orang akan lebih memperhatikan kita bila kita “tahu sesuatu yang orang lain tidak tahu” (ini kelemahan kawan aw). Itulah. Saya kira pas juga dari dulu saya selalu jadi orang yang jarang bicara, nggak suka nongkrong untuk nggosip (saya memilih naik gunung atau berenang dalam diam dan refleksi daripada nggosip di mall), dan suka menjadi pendengar yang baik. [Do you think being a lobbyist is also a talent?]

Yang jelas, closing statement saya adalah bahwa saya selalu membedakan "public interest lobbyist" dan "professional lobbyist". Tentu buat mereka konteksnya memang konflik bukan untuk menjadi professional lobbyist. Tapi buat saya ini seperti menyatakan sesuatu buat saya sendiri. Karena semakin banyak saya berefleksi soal advokasi kebijakan lobbying dan anak-anak puri, semakin saya merasa ada missing link yang harus saya buat nyambung, saya pernah menuliskannya di sini. Semua yang kita lakukan di puri harus selalu connected dengan "orang-orang biasa". Soal ini telah menjadi kegelisahan saya sejak lama, namun belakangan ini kegelisahan ini semakin menjadi. Saya curhat ke mbak binny, juga ke mas budi: soalnya adalah bahwa saya, dan juga banyak anak ngo baru di jakarta, adalah anak2 ngo yang tidak lahir dari aktivitas di tingkat komunitas. Dan kami lahir di tengah jaman yang sudah berubah. Tidak lagi takut diculik karena bicara keras (paling hp disadap ;-)), tidak lagi takut diteror. Sehingga tak mudah lagi untuk merasakan passion untuk kerja di sini. Bagi banyak kawan saya ini seperti "business as usual", dan bisa jadi lobby juga bisa melenceng bila akar tak kuat. Makanya saya sempat putar 3 film dokumenter segala ketika makan siang senen lalu. Saya ingin kawan-kawan saya di puri punya passion yang sama, yang bahkan bagi saya pun kadang luntur juga sampai saya harus men-charge-nya kembali.

Udah ah, harus kerja.

No comments: