Wednesday, March 14, 2007

Pak Koes Pergi

Saya merasakan kehilangan lagi. Pak Koes pergi. Setelah Pak Dan, sekarang Pak Koes pergi. Dan kepergiannya mengagetkan kita semua karena dia penyebabnya adalah kecelakaan pesawat garuda jakarta-jogja. Malam itu saya menangis lagi, seperti waktu saya kehilangan Pak Dan.

13 Maret 2007 acara in memoriam dilangsungkan. Ketika teman-teman, murid-murid, dan kerabat Pak Koes berbicara tentang dirinya malam itu, saya makin sadar betapa luar biasanya orang tua kita yang satu itu dan betapa inginnya saya untuk bisa belajar dari Pak Koes dalam banyak hal, terutama kesederhanaan, kejujuran, keuletan, dan kerajinannya.

Ada kata-kata Pak Emil Salim dalam “sekapur sirih”nya malam tadi yang saya berusaha ingat-ingat, seperti ini kira-kira:

"Saya tahu Bung Koes tidak akan senang ditangisi kepergiannya, walaupun saya juga menangis waktu pertama kali mendengar kepergiannya. Kenapa? Karena Bung Koes selalu bilang bahwa soal pribadinya tidak layak untuk diperhatikan, yang perlu diperhatikan adalah persoalan publik. Maka saya yakin Bung Koes akan lebih senang kalau kita meneruskan perjuangannya daripada menangisi kepergiannya. Meneruskan perjuangannya dalam empat hal: kesatu, dengan sosok Bung Koes sebagai pendidik, mendorong pendidikan untuk banyak orang, kedua, mendorong penegakkan hukum, terutama hukum lingkungan, ketiga, mendorong kesenian, dan keempat, selalu menjadi pejuang.”

Pak Koes ternyata pernah mengajar SMA di Kupang selama dua tahun (tahun 1950-an) dengan mengorbankan kuliahnya, karena beliau terpanggil melihat kondisi NTT sebagai provinsi termiskin. Pak Koes juga sering “ditodong” membiayai mahasiswa-mahasiswanya untuk kuliah, walaupun “diceramahi” dulu, pada akhirnya dia akan membayari. Pak Koes juga yang melindungi demonstran-demonstran mahasiswa di UGM. Pak Koes waktu di Belanda sebagai atase pendidikan sering mengundang mahasiswa dan lain-lain untuk makan-makan makanan Indonesia di rumahnya, waktu anaknya mengingatkan untuk minta ganti sama Negara (karena ada jatahnya), beliau bilang “Masa’ kita ngasih makan teman minta ganti sama Negara? Mereka semua kan teman kita.” Luar biasa. Itu cuma potongan-potongan cerita dari banyak cerita lainnya.

Pak Koes pergi. Seperti Pak Dan yang sudah pergi. Saya “cemburu” pada mereka. Karena mereka begitu banyak meninggalkan teladan untuk orang-orang di sekitarnya dan karena mereka bisa begitu berguna untuk orang-orang di sekitarnya. Walau sudah pergi, mereka tetap jadi guru buat banyak orang. Dan mereka tetap guru untuk saya, sampai saat ini, mungkin sampai kapanpun karena terlalu banyak kelemahan saya.

No comments: