Wednesday, March 28, 2007

Duit Siapa?

Ada kawan yang menurut saya agak naif. Dia mempersoalkan sebuah lembaga donor yang memang jelas-jelas dimiliki oleh seseorang yang kontroversial, sebagiannya bagi orang Islam karena dia yahudi dan sebagiannya lagi karena dia dituduh sebagai spekulan yang mendorong kejatuhan ekonomi asia (pasti terang benderang ini siapa :-)).

Lebih dari setahun yang lalu (mungkin dua tahun lalu) topik ini dijadikan topik diskusi rutin di kantor. Apa saja memang bisa dijadikan topik. Kebetulan waktu itu beredar sebuah email soal daftar produk yang mendapat award dari pemerintah Israel. Pesannya: boykot produk mereka karena mereka menindas palestina. Debatnya jadi agak panjang waktu itu. Karena yang setuju boykot ngotot bertahan walau lemah argumen. Dan yang tidak setuju boykot bersikeras meski lawan bergeming.

Juga saat ini. Fuih, memang repot kalau soalnya adalah “ideologi”. Tapi dalam dunia yang seperti ini, dalam sebuah dunia yang bespectacled, dalam sebuah sistem besar yang memungkinkan segalanya dan dalam “geger” ideologi, akuarium gagasan yang saling bertubrukan, bertolakan, berhimpitan, dan jungkir balik, apa bisa kita bicara soal “ideologi” secara murni? Lagipula, “ideologi” itu apa sebenarnya? Apa bisa kita eksis sebagai manusia sosial dengan menolak ideologi?

Tidak mungkin. Saya menolak pemiskinan, marjinalisasi, atau neolib atau hantu belau, tapi lihat: saya mengetik post ini dengan sebuah toshiba dengan software microsoft word, lantas mengunggahnya (upload) pada sebuah blog yang disediakan jaringan perusahaan teknologi informasi terbesar di dunia. Sama saja, blog paling kiri pun atau website kiriabisdotkom atau palingkiridotnet atau sosialistotaldotordotide atau jambuklutuk, coba diperiksa dulu: dengan apa para penulisnya bekerja dan menjalani hari-harinya? Apa dia masih suka minum coca cola? Atau danone’s aqua? Atau naik mobil ford? Atau pakai bedak revlon? Atau merokok marlboro? Atau mengenakan celana dalam victoria’s secret (mahal kaleee hehe).

Apa artinya saya (atau siapapun itu yang setuju dengan saya) melunak? Bukan cuy.

Pertama, karena saya memercayai ada jalan lain untuk menyatakan penolakan, yakni beraksi konkrit. Apa artinya saya mengalah pada sistem besar ini? Bukan juga cuy. Saya cuma berpikir strategis. Strategis bukan dalam arti saya mau aji mumpung ambil uang donor manapun. Bukan. Toh saya dan teman-teman di sini juga punya pagar-pagar untuk menerima dana. Strategis dalam arti melihat mana dari tindakan yang bisa kita pilih yang punya manfaat yang lebih baik. Buat saya, walau saya tidak membeli produk orang Israel atau orang planet manapun yang tindakannya tidak saya setujui (buat saya ini bukan sentimen agama, tapi soal pelanggaran HAM yang luar biasa) tidak akan membuat perubahan apapun buat mereka dan buat menghancurkan neoliberalisme dan imperialisme. Yang lebih berarti adalah untuk bergerak dalam bentuk-bentuk lain: bisa dengan pernyataan, demonstrasi, pendampingan, mendorong pemikiran alternatif, dan banyak hal lainnya. Sistem kapitalistik ini sudah berjalan dalam siklusnya, kalau mau membongkar, bongkar sistemnya, tapi itu utopia, paling tidak sampai saat ini (hehehe... apa masih bisa berharap?).

Kedua, saya menolak untuk melihat dunia ini hanya dalam warna hitam dan putih. Satu hal saja misalnya, boykot juga bisa berarti mengganggu pasar persaingan. Katakanlah suatu perusahaan milik orang Israel atau yang menyumbang pada penindasan palestina kalah. Memangnya yang akan menggantikan pasti perusahaan yang bersih, putih, tanpa noda darah? Get real ah! Lagipula, naif kalau mau bilang bahwa ada sekelompok atau beberapa kelompok duit yang beredar di dunia ini (apalagi di dalam dunia relasi donor-penerima dana) yang “bersih” dari darah. Bukankah uang tidak mengandung ideologi dan tidak mengandung nilai di dalam dirinya sendiri? Uang itu bespectacled. Dia hanya berputar, bercampur, bertukar - kadang hanya melalui udara atau kabel.

Ketiga, kalau mau bicara “aktor”, apa bisa jaring laba-laba tarantula besar ini mau dipilah dan dipilih untuk “dihancurkan”? Ini agak sama sebenarnya dengan yang kedua: jangan pakai kaca mata kuda. Mau bicara siapa yang menindas palestina? Coba sebutkan apa kurang sompretnya UN yang sering diam nggak jelas dan bikin gemas meski suatu bangsa sudah habis ditindas? Dan apa kurang brengsyeknya negara-negara eropa? Dan apa pemerintah Indonesia sendiri pernah menyatakan sesuatu? Mau bicara soal siapa yang membuat ekonomi Indonesia jatuh? Apa iya orang itu bersalah dan suharto bagai gading tak berbelah? Apa iya orang itu berspekulasi di pasar uang sedemikian rupa sementara fondasi ekonomi Indonesia sudah sempurna kuatnya dan hanya karena orang itu kita jatuh?

Itulah sulitnya kalau ada sesuatu yang diyakini dengan membabi buta (ada apa dengan babi yang buta ya? nabrak-nabrak kali). Dinikmati, seperti candu. Sebenarnya untuk diri sendiri atau orang banyak? Semuanya harus dibolak balik, dikunyah-kunyah, dibuat jungkir balik, ditanya, diperiksa lagi, diamati, dipelajari. Jangan langsung ditelan dan dicandu.

No comments: