Pada suatu waktu ketika ngopi (good coffee, good life :-)) di lampineung saya dikenalkan dengan seorang akademisi yang gelisah. Dia menarik. Bukan karena nama depannya juga b lho :-), tapi karena pandangannya mengenai akademisi.
Tempo hari saya memang ngopi agak lama karena bikin janji dengan banyak kawan. Dia datang, kita semua bicara soal seminar yang baru lalu di banda aceh. Ini seminar yang hampir saja saya ikuti karena ada rencana rendezvous ;-) tapi karena saya terlalu asyik liburan di Bali :-), I missed the deadline for the abstract. Untunglah, seminar dipindah ke banda aceh, saya nggak jadi menyesal. Tapi waktu kumpul untukYIPI, juha, robert, dan hampir semua pendiri yipi kecuali saya berangkat untuk melihat seminar itu. Saya jadi menyesal: I should have been there, presenting a paper. Tapi ternyata kawan-kawan di sini berbicara berbeda soal seminar itu.
Mereka protes. Karena banyak soal lah, terlalu panjang kalau diceritakan di sini. Tetapi memang lucu ada sebuah conference yang membicarakan tentang sebuah daerah, dilaksanakan di daerah itu, namun orang-orang di daerah itu diposisikan hanya sebagai peserta (not even a paper presenter). Penyelenggaranya adalah sebuah lembaga di luar negeri. Dan dananya sebagian dari lembaga yang seharusnya mendukung pembangunan di daerah itu. They just see aceh as an object. Tentu saja, sangat mungkin segala kritik ini lahir karena ada soal juga dengan cara pandang kawan-kawan di sini. Tapi stop bicara soal si seminar, karena yang saya mau ceritakan adalah kegelisahan bang b yang menurut saya sangat menarik dan membuat saya jadi ingin berkaca.
Bang b menyatakan pemikirannya soal akademisi. Dia sendiri akademisi, yang kata kawan-kawan (saya belum pernah dalam satu forum dengan dia) memang bagus (dari diskusi singkat itu, saya setuju). Dia merasa banyak akademisi yang hanya menjadikan masyarakat sebagai objek studi. Suatu komunitas adat mungkin sudah menghasilkan banyak doktor. Tapi apa para akademisi itu membawa dampak positif buat komunitas itu? Betul bahwa akan ada rekaman dan analisis yang secara tidak langsung mungkin akan berdampak pada mereka, paling tidak pada eksistensi komunitasnya. “Tapi dampaknya apa?” dia bilang, “setelah diwawancara, mungkin ada sedikit kenang-kenangan, ya mungkin masuk media, tapi lantas apa?” Kalau mungkin setelah itu ada program pemberdayaan ekonomi rakyat, misalnya, atau pendampingan untuk perbaikan kualitas hidup mereka, barulah para akademisi itu bisa dianggap berkontribusi positif terhadap mereka.
Bang b bilang bahwa dia pun sering gelisah. Dan sering menjadi dilema karena sebagai akademisi dia juga punya kesadaran akan pentingnya rekaman dan analisis keilmuan. Paling tidak untuk murid-muridnya. Tapi dia sering malu karena merasa tidak menyumbang untuk kehidupan yang lebih baik buat mereka. Dengan kegelisahan yang sama dia melihat konferensi itu. Dia merasa semua doktor dan profesor hebat, bule-bule, profesor dari negara tetangga yang tidak demokratik itu, bicara panjang soal Aceh. Tapi banyak yang bahkan belum pernah bicara dengan orang aceh, sebagian studi literatur saja. Dan mereka tidak mendorong pemberdayaan akademisi dan aktivis di sini dengan melibatkan mereka sebagai pembicara. Lantas tindak lanjutnya, ada rencana membuat institusi penelitian tentang aceh. Bang b agak kesal, merasa mereka menjadikan aceh objek semata, untuk mendapatkan kredit, mendapatkan dana penelitian, bahan untuk jurnal. Tapi manfaatnya buat aceh, menurut dia, masih bisa dipertanyakan.
Saya diam. Mendengar. Termenung. Berpikir. Saya ada di mana? Saya ikut gelisah. Siapa objek studi saya? Siapa objek kerja saya? Apa mereka subjek atau objek untuk saya? Apa dampak kerja saya dan tulisan-tulisan yang saya buat sampai subuh? Saya diam. Saya merasa seperti baru bangun tidur karena disiram air dingin sama bang b. Astaga, saya hampir lupa pada kegelisahan-kegelisahan lama saya yang sering saya ceritakan di sini juga. Ke mana mereka? Saya harus bergerak lagi.
No comments:
Post a Comment