Tuesday, March 06, 2007
Advokat dan Akademisi
Pilih mana: rapat dengan advokat praktek atau dengan akademisi? Tergantung orangnya! Itu jawaban paling enak hehe. Saya merasakan keduanya pada saat yang hampir bersamaan. Di dua state auxiliary agencies yang lagi mengurus uu soal mereka yang “diobrak abrik” MK.
Yang satu mengadakan “expert meeting”. Isinya “pakar-pakar” hukum tata negara: ada dekan-dekan beberapa fakultas hukum dan pakar-pakar yang opininya sering nongol di media massa. Bahkan ada mantan anggota komisi konstitusi. Beberapa orang bicara “pas” – mengena pada substansi dan berbobot. Sebagian lagi ngomong ngalor ngidul. Malah ada yang agak senior menyatakan hal-hal yang mestinya anak s1 fakultas hukum pun tahu bahwa itu salah. Bicara mulai dari teori demokrasi, filsafat, sampai interpretasi konstitusi.
Lantas lembaga yang satu lagi mengadakan diskusi kecil di antara teman-teman. Bukan pakar, bukan ahli. Mereka hanya advokat praktek, yang peduli pada kondisi negeri ini. Plus anak-anak muda seperti saya yang biasa saja (bukan “pakar”) hanya suka menelaah dan berdiskusi dan pastinya punya kepedulian yang sama. Semua diskusi seru, menarik, tanpa harus “genit” mengutip sana sini soal filosofi, segala macam landasan yuridis, dan menggunakan bahasa hukum yang canggih dan “kebelanda-belandaan”. Konkrit saja bicara soal kemungkinan celah pada praktek dan cara mencapai tujuan pembaruan. Lebih dinamis dan terbuka.
Kalau boleh memilih saya pilih yang kedua, yah mungkin ditambah dua orang yang ikut di yang pertama (DI dan SI). Tapi yang jelas di tengah segala upaya pembaruan yang berjalan lambat dan dibajak sana sini ini, saya sudah capek diskusi dengan orang-orang yang “genit” dan tak berpijak di bumi. Saya seperti ketika saya mencibir di balik kerudung saya ketika pembicara di sebelah saya bicara soal “landasan filosofis, sosiologis, dan yuridis” dalam pembentukan Qanun di Aceh.
Tapi umur pun tidak menjamin lho! :) Saya pernah juga diskusi “pakar” di Jogja dan menghadapi “kegenitan” yang sama dari seorang muda yang memang cerdas sekali.
Duh, stop omong kosong lah.
No comments:
Post a Comment