Monday, January 22, 2007

Kunjungan Cinta

Kamis malam lalu, saya nonton “Kunjungan Cinta” dari teater koma di TIM. Aslinya naskahnya berjudul “Der Besuch der alten Dame” dari Friedrich Dürrenmatt (Swiss). Saya bukan kritikus seni dan sebenarnya tidak juga terlalu sering nonton play atau teater. Hanya penikmat. Dan kadang-kadang dulu nonton di Warwick Arts Centre (arts centre terbesar di midlands, kebetulan cuma 2 menit jalan kaki dari flat saya di warwick) atau di London. Apalagi di sana “student” bisa dapat macam-macam diskon, termasuk untuk nonton pertunjukkan, mulai dari konser musik klasik sampai play.

Juga, dulu waktu remaja “belia” :-) saya pernah ikut sanggar teater, jadi agak ngerti ‘dikit mulai dari soal naskah, vokal, blocking, sampai soal soal ngangkat-ngangkat properti di tengah-tengah babak. Di bulungan, saya sudah nggak ikut teater karena ada mantan pacar dulu yang anak teater dan ada senior anak teater yang suka saya “ccp” (curi-curi pandang, ini istilah agak jadul ya hehe), jadi gimana yah... hehe. Lagipula, waktu “pelantikan”nya barengan sama sisgahana, jadi saya memilih sisgahana. Tapi begitu lulus sma, kalau pas lagi nongkrong di bulungan anak-anak siluet pas lagi menyiapkan pentas kadang-kadang ikut lihat-lihat juga, cuma nggak mampu jadi panitia karena sudah nggak mampu bagi waktu. Saya cuma “suporter” siluet :-). Nah, saya jadi suka nonton teater atau play karena ada beberapa detail yang jadi menarik buat saya. Biasanya ya cuma jadi catatan pribadi supaya otak ke asah sedikit. Seperti dulu waktu ke Edinburgh Festival Fringe.


Naskah ini bagus (ceileee... standar banget pernyataan loe! :D ga perlu elo yang bilang bagus juga memang naskah ini udah dapat “Drama Critics Circle Award” dan “Schiller Award”! hihihi). Sayangnya, sadurannya naskahnya membuat dia jadi “teater koma banget”. Maksudnya? Dia jadi terlalu “ngepop”.


Ada beberapa bagian yang menurut saya terlalu dipaksakan untuk memasukkan kritik khas teater koma dan juga adegan lucu-lucuan yang juga khas teater koma. Misalnya saja, adegan panjang di mana keluarga Alipredi naik mobil baru. Intinya nggak ada, kecuali agar pemeran keluarga Alipredi bisa melucu (dan memang lucu), dan khususnya Butet yang jadi Ilak Alipredi bisa mengkritik (dan memang mengkritik). Tapi eksplorasi pada kondisi di keluarga Alipredi tidak dilakukan. Begitu juga, menurut saya adanya pers sewaktu rapat terakhir hampir tidak ada gunanya kecuali melambangkan adanya kepalsuan dalam pengambilan keputusan soal Ilak Alipredi. Okelah soal kepalsuan, tapi ada kehadiran reporter perempuan yang sangat mengganggu. Bukan reporter perempuan yang berlogat perancis, tapi yang memberikan “laporan pandangan mata” secara berlebih-lebihan menjelang Ilak Alipredi dibunuh. Kalau soal kelompok pohon, walau ada bagian-bagian yang kelihatan memang untuk melucu, saya kira masih punya kontribusi pada alur cerita dan permainan perannya juga menarik. Melucu jadi bukan dosa di sini.


Kemegahan dekorasi dan warna “kolosal” khas tater koma tentu saja muncul di mana-mana. Saya tidak mau komplain soal ini. Cuma jadi sayang karena di beberapa tempat kurang mendapat eksplorasi emosi sementara kelucuan dan warna “pop” mendapat tempat lebih. Apa mungkin ini karena “pasar”? “Katanya” (entah kata siapa, saya nggak punya data polling atau apapun untuk ini) penonton Indonesia memang masih lebih memilih drama populer ketimbang teater yang lebih “nyeni”. Padahal kalau tidak ada penonton ya tidak bisa hidup.


Satu catatan lagi adalah soal digunakannya microphone (saya sempat berdebat sama frank waktu membicarakan teater di Indonesia dan play di tempat lain karena saya membela teater di Indonesia hehe.. padahal yang dibela juga dodol). Saya tidak tahu kenapa, tapi kebanyakan pemain teater yang pernah saya tonton di Jakarta selalu mengandalkan mike. Padahal vokal mereka juga bukannya tidak bagus. Kuat. Dan beberapa punya karakter: Ratna Riantiarno yang jadi Klara Zakanasian, Sari Madjid yang jadi Matilda Blumar, Butet apalagi. Tapi pada beberapa adegan, ada yang sampai mike-nya sedikit berdengung! Entahlah. Penjelasan sederhana mas abdul adalah karena mereka tidak percaya diri. Masa' sih? Atau akustik tempat-tempat teater di Jakarta yang jelek. Pembelaan hendro dan kotel di siluet sih begitu. Tapi saya kira jadinya memang sayang. Karena terlalu mengandalkan mike yang tergantung di beberapa tempat, vokal aktor kolektif seperti kelompok pohon-pohon, yang bagus itu, jadi tidak berimbang dengan vokal beberapa aktor di beberapa bagian. Jadi terasa artifisial. Dan, buat saya, jadi mengurangi nilai "teatrikal" nya (whatever that means hihi).

Tapi yang paling bikin kesal adalah penonton yang entah apa alasan sebenarnya untuk menonton. Yang jelas, sebagian sepertinya memang bukan penikmat tontotan macam ini. Sebab, ada yang bawa anak-anak yang di tengah tontotan suka bertanya ini-itu dan mengganggu penonton di sebelahnya. Banyak sekali yang tidak mematikan HP! Dan di sebelah saya bahkan ada yang ngobrol di HP sembari nonton!!!!! Malah menjelaskan harga-harga tiket dlsb! Bayangkan! Kalau memang lupa mematikan HP, cukup bilang “maaf, gw lagi nonton teater, nanti ya gw telepon lagi”. Ini malah menjelaskan apa judulnya, di mana dan berapa harga2 tiket, walau dia berbisik, tapi ya tetap terdengar lah! Dan ada juga yang di barisan VIP, di depan, di tengah para pemeran yang sedang bermain serius dan seluruh perhatian penonton terpusat ke situ, mendadak ada yang lari ke pinggir untuk menerima telepon dan pinggir itu persis di pojok kanan di mana blocking aktor sedang berlangsung dan itu juga jalur tempat pemain keluar-masuk panggung! Gila ya!

Saya jadi agak bingung, apa sebenarnya tujuan orang-orang itu nonton. Mungkin biar dibilang “ngerti seni”: “aku nonton teater koma yang terkenal itu, maka aku ngerti seni” :-).

No comments: