Thursday, January 18, 2007

Garis Tipis

Akhirnya undangan yang sudah saya duga itu datang juga. Undangan untuk menjadi bagian dari tim kampanye pak calon gubernur. Saya punya dua argumen untuk kawan pengundang saya. Pertama, saya akan menempatkan lembaga tempat saya bekerja dalam posisi yang tidak lagi netral. Kedua, sudah luar biasa sulit buat saya untuk membagi waktu untuk pekerjaan yang serius itu.

Keduanya adalah pernyataan yang jujur. Tapi yang tidak saya elaborasi di hadapan kawan itu adalah pemikiran bahwa saya tidak mau melewati garis pembatas tipis antara menjadi “pengamat hukum dan politik” dan “politisi”. Garisnya begitu tipis. Dan menyeberang batas selalu menjadi godaan yang menarik. Apalagi karena saya adalah lobbyist. Dan karena saya lobbyist seringkali mereka menduga saya mempunyai kepentingan politik pribadi. Tentu saja saya punya kepentingan politik pribadi, tapi bukan untuk kekuasaan saya pribadi. Saya bermain-main di wilayah embarkasi ini karena saya punya kepentingan lobby untuk hal-hal yang saya percayai sebagai hal-hal yang punya manfaat yang lebih luas. Walau tentu bisa bias kalau tidak dikoneksikan ke “bawah”, tapi paling tidak saya berpegang pada prinsip-prinsip yang saya percayai. Karena saya sering bermain di sini saya seperti “testing the water”.

Tentu saja godaannya kadang begitu kuat karena kadang untuk bisa mempengaruhi kebijakan secara efektif kita harus langsung masuk ke wilayah politik. Tapi membuat pengaruh menjadi efektif saya kira bisa ditempuh dengan banyak cara. Saya percaya partai politik bagaimanapun diperlukan dan semestinya menjadi saluran perjuangan politik. Hanya saja, sampai di mana kita mau bermain dengan partai politik itulah titik pentingnya.

Saya merasa saya tidak punya “bakat” (mungkin lebih tepat ketahanan tubuh dan pikiran :)) sebagai politisi. Saya tidak suka mengoceh dan berjargon, paling tidak sampai saat ini. Saya lebih suka berpikir dan menulis. Saya ingin tetap berada di wilayah ini.

....ahh… saya luar biasa rindu pada Pak Dan. Percaya atau tidak, saya masih menitikkan air mata setiap teringat pak Dan. Saya merindukannya di saat-saat seperti ini, di mana saya bisa cerita soal politik dan pemikiran saya, soal kegundahan saya, soal kemarahan saya, dan lainnya. Juga waktu abstrak saya untuk LSA conference di Berlin diterima. Pagi itu setelah abstrak saya diterima, di kamar kerja di kantor saya menangis agak lama karena saya kangen Pak Dan. Saya menulis surat tak terkirimkan untuk dia. Dia akan luar biasa senang, encouraging, dan memberi begitu banyak ide kalau saya bercerita soal-soal ini ke dia. Saya kangen Pak Dan. Sungguh.

No comments: