Monday, November 09, 2009

My Baby

Entah ini bagus atau tidak, tapi semua ini terjadi -segala emosi yang luar biasa turun naik gara-gara cicak-buaya dan dorongan besar untuk menulis- di tengah kesibukan saya yang betul-betul gila-gilaan untuk mengejar general exam sebelum melahirkan. Plus tentunya kondisi hamil saya yang -nggak bisa dipungkiri- cukup mempengaruhi konsentrasi dan "kekuatan begadang" :-) saya (rada repot karena saya doyan begadang untuk kerja, bisa up to 3 hari nggak tidur).

Saya nggak mau mengeluh. Tapi bolehlah sekali-sekali saya curhat dan tidak berpura-pura jadi superwoman. Bayangkan saya harus membuat prospektus disertasi dengan ibu supervisor yang ketat sekali dan punya ekspektasi tinggi pada exercise intelektual saya. Prospektus disertasi saya sudah 70-an halaman dengan literature review yang menurut saya sudah cukup extensive, ternyata masih kurang di mata dia. Duh, patah hati betul, saya sudah rada bangga dengan progress saya, ternyata dikritik habis sama dia. Dia memang terkenal "kejam", ada sekotak tissue di kantornya yang biasanya dipakai untuk mengusap air mata murid-muridnya yang habis dikritik pedas. Saya belum pernah pakai tissue itu :-). Saya mahfum itu adalah cara dia untuk memecut murid-muridnya. Menurut saya sebagai supervisor dia excellent, I actually like her style :-). Dan saya sudah mulai terbiasa patah hati dikritik. Awalnya memang bikin frustasi. Ketika baru selesai dikritik waktu mau merevisi draf rasanya jadi nggak mood, patah hati, bete, dll. Tapi sekarang sudah bisa saya kalahkan, kalau tenggelam dalam perasaan nggak selesai2 ini sekolah :-). Saya sekarang malah bikin satu file sendiri untuk feedback notes dan setiap perubahan pemikiran saya dari diskusi. This helps a lot.

She really wants me to set higher standard for the other students. Dia sudah bilang di kelas waktu saya presentasi (seru banget presentasi nggak boleh pakai power point atau semacamnya. Nice challenge for someone who loves presentation like me!), tapi rupanya dia senang mendorong saya untuk naik lebih jauh lagi. She knows exactly that I can be easily pushed beyond my limit because I am an ambitious woman. Dan "ambisi" inspirators saya macam pak B membuat saya makin gila bahkan ketika baru mulai memilih topik.

Ini semua dikerjakan di tengah kesendirian hidup saya yang pernah saya ceritakan: belanja sendiri, masak sendiri, ngurus diri sendiri (sedih juga, kalau dipikir-pikir, dari 40 minggu kehamilan ini, FF ada di samping saya cuma kira-kira 12 minggu). Tiap hari saya tidur di atas jam 1 malam dan bangun jam 7.30 pagi untuk kerja. Tentu tak semua jam efektif. Ada jam-jam di mana saya harus masak atau jalan-jalan sedikit atau buka facebook/detik/Kompas supaya pikiran agak segar sedikit. Kalau lagi ada writer's block bisa 3 hari saya nggak menulis apa-apa dan akibatnya saya frustasi betul. Apalagi 1 desember semakin mendekat dan saya sangat ambisius untuk general exam sebelum 1 desember (itu tanggal saya akan pulang karena setelah minggu kedua Desember saya tidak boleh terbang lagi karena hamilnya sudah 36 minggu). Jadi saya amat sangat stress di tengah pengerjaan prospektus itu.

Kawans PhD students lain biasanya baru general exam setelah tahun kedua atau ketiga, kecuali beberapa kasus khusus yang rada "politis". Dari angkatan saya, sebelum saya, dan sebelum saya satu lagi, saya justru yang pertama general exam. I put so much pressure on my own shoulder. Beberapa kawan bilang saya hebat that I can put so much pressure on myself during my pregnancy, saya bilang saya sama sekali nggak hebat, saya cuma terlalu ambisius. Seriously. Saya selalu percaya yang dikatakan FF, menjadi PhD bukan persoalan pintar atau bodoh, tetapi persoalan sejauh mana kita bisa "mengalahkan" sistem dan diri sendiri.

Tapi siapa bilang ini tanpa halangan? Entah berapa siang saya tertidur ketika baca buku baru lima halaman padahal literature review belum kelar. Atau sakit punggung gara-gara kebanyakan duduk di depan komputer. Dan di tengah ini semua pun saya masih menulis banyak kolom op-eds dan blog, karena pemikiran saya yang ngalor ngidul juga perlu penyaluran. Maka si baby pun sering saya bawa begadang sampai jam 3 atau jam 4 pagi. Saya hanya berharap dia kuat. Saya selalu berusaha makan yang benar, tetap banyak jalan (meski sudah cepat ngos-ngosan dan sakit punggung) dan yoga minimal seminggu sekali (selain buat "olahraga" juga supaya nggak stress gara-gara exam dan sibuaya brengsek ini).

Kalau dia nendangnya lagi kuat banget dan rada menganggu, saya baca buku yang lagi saya baca keras-keras untuk dia. Kadang-kadang saya nyanyi-nyanyi sendiri :-). Dan ngomong sama dia sambil masak atau waktu bangun dan mau tidur. Sebab saya baca di buku-buku dan internet, ini bagus biar dia mulai mengenal suara saya dan to create a bond. Atau kalau lagi bingung dengan thesis saya dan bikin mind map, saya ngoceh sendiri tapi addressing it to her, like having a silent discussion partner in my own womb. Saya bilang sama FF mungkin pas dia lahir dia udah bisa menerangkan soal rule of law dan civil society ke orang-orang hehe.

Tapi rasanya semuanya terbayar ketika minggu lalu saya ultrasound lagi untuk kedua kalinya dan dia yang sudah 30 minggu wajahnya sudah berbentuk. Saya melihat wajahnya yang imut-imut (maklum anak sendiri boleh dong muji-muji... hehe). Saya menangis terharu pagi itu. Di tengah kesuntukan saya soal Indonesia, passion saya soal gerakan sosial, malamnya saya dapat kepastian general exam tanggal 23 November... dan pagi itu saya menatap wajahnya. Saya langsung telepon FF dari klinik dengan berlinangan air mata, meski itu tengah malam di Jakarta: I saw her face! She is healthy and cute! I love you so much, baby, whatever you will become, whoever you will become. You will be showered with our loves...


This is her! Smiling :-) 
3D picture taken on 3 Nov 2009 at 09:44:27am Seattle time

1 comment:

gepede76 said...

Meski masih di dalam peyut aja ngliatnya udah ngilangin semua pegel dan capek ya Bip.

Imagine ngeliatnya live version :) Semoga kita cepet ketemu ya little girl, ada Chia,Athar,Rai, Sharla, Devin, Sybrant, Fikhar, Raeka, Nadira, Nabila, Sarah...semuanya nungguin di Koalisi Krucils Puri!