Saya punya banyak jaringan “baru” belakangan ini. Mungkin tidak baru juga, tapi saya memang sedang merasa perlu lebih banyak memelihara dan mengembangkan jaringan. Dulu saya terlalu sibuk dengan diri saya sendiri. Dan dengan pekerjaan di depan komputer. Berpikir bahwa bertemu kawan hanya menghabiskan waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk menulis dan kerja di depan komputer. Terlalu terkurung dalam tempurung. Benar dan salah.
Lobby-lobby yang saya lakukan belakangan ini serta masuknya saya di dunia politik yang “lucu” membuat saya semakin menyadari pentingnya networking. Yang saya maksud bukan cuma politik di dpr dan dpd. Tapi juga politik dalam arti luas. Politik ornop, politik perdagangan :-), politik consultancy world, politik donor, dan lain-lain. Seperti anak kecil yang baru lihat dunia, baru tahun-tahun belakangan ini saya menyadari soal networking ini. Mulai “main” sama temen-temen “sebelah sana” lagi, mulai bangun jaringan di “sebelah sono”. Naif banget ya dulu? Atau bukan naif, tapi dulu saya tidak terlalu peduli dan punya orientasi yang berbeda. Sekarang semakin banyak masuk wilayah politik tadi, semakin merasakan politik di mana-mana. Mungkin juga karena laki gue political scientist :-p.
Dua minggu terakhir saya jalan sama kawan-kawan yang menarik: kawan wartawan, kawan dpd, kawan kanan, kawan kiri, kawan aktivis perempuan, kawan aceh, kawan anti-korupsi, kawan kuliah. Tadi malam ultah si laptop menarik. Saya jumpa lagi beberapa kawan lama dan si indian yang sangat menarik karena saya tidak kenal dan dia terlalu cuek menghadapi saya (nggak bisa terima banget sih queen bee nya nggak mempan??). Kabrut-kabrut mabuk, pitcher-pitcher bir, botol-botol jose cuervo, dan botol-botol absolut.
Dua minggu lalu juga menarik. Jalan sama sinchan, w. Nonton bola bareng. Nyoba blow up di banana café. Bujukannya w. Tapi malam itu sangat menarik. Jerman menang, sms sama kodok 2 untuk taruhan pasal ham di loga hehe.
Minggu lalu ngopi sama kang a, dan dikenalin sama seorang kawan dan kawannya dan kawan itu saya kenalkan ke mbak w dan mbak w mau coba ambil dia jadi pi-ar di ma dan ika mengenalkan kita berdua ke dokter yuli dan sekarang dokter yuli jadi dokter saya untuk ngurusin badan! Is that an interesting networking or what?? :-)
Kang a pertama me-lobby saya untuk dibuatkan profil di koran tempat dia kerja. Dan saya selalu menolak profil, kecuali bila itu wawancara tentang kantor. Karena saya mau tampil untuk menyuarakan opini kami, bukan mau gaya-gayaan. Dua kali saya “terjebak” dan saya marah bukan main sama wartawannya. Itu hanya akan memupuk benih-benih vanity dalam diri saya, seperti kata devil’s advocate: vanity is my favourite sin (I wrote this here). Kemudian kang a menawarkan untuk membukukan diary saya, terutama sejak masa kuliah. Gila, nggak mungkin saya mau! Profil aja nggak mau apalagi diary! Ada dua hal yang membuat saya suka menulis diary (dan blog). Mmhh agaknya saya pernah menulis soal ini juga dan jangan-jangan alasannya beda :-). Pertama, saya selalu butuh cerita. Mungkin karena saya punya banyak letupan dan pemikiran-pemikiran acak adul dalam diri saya. Kadang orang di sekitar saya tidak cukup atau tidak ada. Atau kadang saya tidak percaya diri untuk bercerita ke orang lain karena beberapa pemikiran saya mungkin akan terasa aneh. Atau saya tahu bahwa ada beberapa hal yang tidak bisa saya kemukakan ke orang lain - kotak yang tidak bisa saya buka. Kedua, saya suka juga membaca tulisan saya sendiri karena membacanya menjadi seperti membaca novel. Dan selalu menarik untuk melihat pemikiran-pemikiran saya yang lama. Saya suka bila kemudian saya tertawa sendiri melihat betapa bodohnya saya atau betapa liciknya saya atau betapa beruntungnya saya, ketika apa yang ada di otak saya spontan saya tulis. Alasan kedua itulah yang membuat saya menolak ada publikasi diary saya. Saya dulu naif sekali waktu banyak menulis soal 97-98.
Net yang satu lagi juga menarik. Saya terlibat dengan orang-orang hebat dari jaringan yang katanya hebat yang katanya sih pijakan buat banyak orang politik buat naik. Saya sih nggak terlalu peduli pada peran jaringan itu dalam dunia politik praktis. Toh saya tidak mau jadi anggota parlemen atawa pejabat. Tujuan saya masuk ke situ hanya untuk berjaringan dan mengenal banyak orang. Saya suka sekali berteman dan karenanya senang sekali punya banyak kenalan baru dan juga lama.
Btw, jangan suka lihat tanggal saya posting di blog karena saya punya kebiasaan buruk untuk seorang blogger: lama tidak menulis karena terlalu sibuk dan tiba-tiba semua muncul di kepala dan langsung menulis seabreg-abreg.
No comments:
Post a Comment