
Turun naiknya emosi membuat semuanya juga jadi terasa berat. Hal kecil bikin pusing. Sementara kerjaan nggak bisa berhenti. LoGA people are demanding. DPR people are demanding. Semua orang rasanya jadi begitu demanding. Kalau ada kesalahan kecil, tau-tau saya bisa meledak atau paling tidak bicara panjang lebar nggak pake titik koma dan intonasi agak naik ke sasaran saya, termasuk kamerads muda saya yang kadang-kadang nggak bisa dibilangin. Untunglah saya belum jadi seperti dua aktivis perempuan yang suka melengking-lengking itu :-). Tapi saya sekarang jadi semakin paham akan tekanan yang mereka hadapi. Makanya kadang saya suka sembunyi, sebelum saya marah pada semua orang di sekitar saya. Orang Telkomsel saya marahi, pegawai hotel saya marahi, satpam, dan lain-lain. Kenapa saya jadi begitu pemarah belakangan ini?
Kadang muka juga berkerut karena sedih atau kesal. Saya jadi ingat waktu beberapa waktu lalu saya memajang lukisan perempuan menangis di wall paper saya, waktu lagi kesal sama abang (ah forget abang!). Teman-teman Aceh yang lagi main ke kantor siap-siap ditemenin jalan-jalan bilang: lho bubibip kok pasang muka orang nangis? Saya bilang karena saya lagi sedih. Lantas tahu-tahu mereka bilang: ah nggak mungkin lah bubibip sedih, bubibip kan selalu senyum dan tertawa dan membuat orang-orang di sekitar loe happy. Saya kaget juga. Senyum lagi. Tapi saya jadi membatin: enggak, itu nggak benar. Saya pernah punya segunung kesedihan yang tak terkira. Dan saya bisa mengandung amarah dan kesedihan yang luar biasa. Memang di banyak tempat dan banyak momentum saya sering pede aja, senyum, mengeluarkan segala jurus pi-ar nyindir sambil senyum walau lagi ngomong sama pejabat korup yang saya benci setengah mati. Tapi saya merasa dua minggu ini saya kehilangan segala jurus saya. Sebab Rumah B pun demanding. Bayangkan di tengah bikin paper untuk bicara soal hukum dan logika di fakultas filsafat saya diajak berantem. Rumah A juga: mobil tabrakan, mas Ari yang masuk rumah sakit kena demam berdarah. Di forum resmi seperti acara adkasi tadi sore saya masih bisa senyum-senyum sambil mengkritik pak bomer seperti biasa. Tapi kebanyakan belakangan ini saya menghindar dari kumpul-kumpul informal dengan bukan-teman yang bikin saya letih luar biasa.
Saya capek sekali. Saya menggagalkan dua tulisan menarik untuk dua buah buku! Saya belum bikin dua proposal baru. Saya belum ngasih tulisan untuk website kita. Saya belum menyelesaikan kompilasi dim loga. Saya masih harus cari kebaya, saya masih harus bergulat dengan dokumen tetek bengek kawinan bodoh ini, masih harus pilih makanan, masih harus pilih bunga untuk dekorasi, masih harus siap-siap menghadapi calon mertua yang tidak terlalu happy punya calon mantu orang asia dan muslim. Masih harus menjawabi segala sms dan telepon pertanyaan soal LoGA dan segala aktivitas advokasi lainnya. Masih harus jawab telepon wartawan yang kadang dodol maksa wawancara. Masih harus bikin satu paper untuk seminar di kementerian pemberdayaan perempuan dan satu paper buat pembaruan DPR untuk bahan ngomong seorang MP ganteng yang lagi butuh masukan. Dan masih harus siapin argumen untuk negosiasi budget demi kamerads - cari duit.

Ya.. ya… think positive… nanti happy, nanti jalan-jalan bulan madu, senang lihat papa-mama yang happy lihat anak perempuan satu-satunya yang makin tua akhirnya menikah, nanti happy lihat LoGa, semuanya ada artinya buat banyak orang. Dan banyak potensi happy lainnya. Tapi saya sungguh nggak bisa melihat itu semua sekarang. Sorry. Saya akan mencoba berpikir positif. Writing helps kan? (I’m trying to smile, really)
No comments:
Post a Comment