Wednesday, June 07, 2006

Mimpi Menulis

Kadang-kadang saya merasa seperti seseorang yang labil. Begitu banyaknya keinginan di kepala saya. Seperti saat ini. Saya punya keinginan kuat untuk menjadi penulis. Bukan hanya penulis blog seperti ini, atau penulis artikel serius. Tapi penulis sastra. Jangan ketawa!

Saya sejauh ini hanya mampu menulis cerpen-cerpen picisan yang norak sekali. Sungguh, betul-betul tidak ada “rasa seni”nya :-). Ya saya punya banyak puisi, yang saya buat sejak saya SD. Tapi saya kira juga tidak ada yang bagus :-). Ya banyak yang unik, tapi saya kira tidak bisa dianggap “karya sastra” :-). Malu sekali. Tapi saya punya banyak sekali catatan harian. Saya menulis catatan harian sejak kelas III SD. Kenapa saya ingat betul masa itu? Karena sejak kelas II saya selalu ingin memiliki catatan harian, hanya saya ingin membuatnya di buku yang cantik.

Saya sendiri tidak tahu kenapa saya punya keinginan itu secara “mandiri”. Sebab mama bukan tipe orang yang suka baca buku, apalagi menulis. Paling dia hanya baca majalah dan koran. Papa juga begitu. Sulit bagi saya untuk melacaknya dalam memori otak saya yang terbatas ini. Bisa jadi karena saya pernah tidak sengaja baca buku harian Tante Dessy. Bisa juga karena saya seseorang yang pada dasarnya pemalu, sulit untuk mengekspresikan diri secara verbal, tapi otak saya sering melayang ke mana-mana, sibuk dengan pikiran dan ide-ide sendiri yang kadang agak aneh. Dan yang jelas, saya suka sekali baca. Saya bisa baca sejak umur 4 tahun (karena sering mengintip papa mengajari Enjum famili saya baca-tulis di rumah) dan sejak saat itu saya baca apa saja, apalagi karena papa dan mama juga jadi rajin beli majalah dan buku cerita buat saya. Jadi mungkin pikiran anak-anak saya sudah berkelana sendiri dan merasa bisa berekspresi bebas melalui tulisan.

Maka pada suatu hari saya membeli sebuah buku mini sanrio, warna ungu pastel. Manis sekali. Saya ingat betul begitu lama saya memilihnya. Rupanya memang sedari kecil saya sulit memilih :-). Buku harian itu ada kunci gemboknya. Saya ingat betul, cerita pertama yang saya tulis adalah cerita mengenai perjalanan saya ke mayestik, jalan kaki (!), untuk membelikan papa hadiah ulang tahun. Sebuah ikat pinggang murahan di emperan tangga pasar mayestik. Saya dan mas Ari menabung cukup lama untuk itu. Kalau tidak salah harganya delapan ribu rupiah. Saya bangga sekali. Bangga bahwa saya berhasil menabung untuk hadiah ulang tahun papa. Dan bangga bahwa saya bisa jalan kaki ke mayestik, saya merasa kuat. Buku kecil ungu pastel itu masih saya simpan. Mudah-mudahan tidak hilang waktu kami pindah ke bintaro.

Lantas saya punya banyak buku harian lanjutan. Banyak sekali. Setiap habis satu buku, saya akan beli buku baru. Tidak semuanya manis dan berwarna pastel. Sebagian lagi buku biasa saja, bahkan notes bekas. Dan saya pun tidak rajin menulis. Hanya pada saat-saat tertentu. Paling banyak ya waktu saya jatuh cinta pada seseorang hehe. Persis seperti tingkat produktivitas saya dalam menulis puisi.

Kelas IV SD saya punya buku khusus untuk kumpulan puisi. Pada masa-masa itu saya suka sekali dengan chairil anwar. Saya punya dua bukunya, kalau tidak salah salah satunya berjudul “yang terempas dan yang putus". Waktu itu saya hafal hampir semua puisi chairil anwar: “beta pattiradjawane, yang dijaga datu-datu, cuma satu....”. Waktu itu saya juga suka sastra lama tiga serangkai, pujangga baru, belenggu, ateis, dan lain-lain. Tentu tak ada pelajaran mengenai Pram :-). Agaknya waktu pelajaran mengenai sastra indonesia lama, guru saya sukses sekali :-). Kebiasaan menulis puisi masih berjalan terus. Sampai sekarang. Saya masih punya buku kumpulan puisi yang saya buat sejak mahasiswa sampai sekarang. Mudah-mudahan dia tidak hilang waktu kami pindah ke bintaro.

Waktu mahasiswa saya punya buku harian tersendiri. Yang isinya notulen rapat-rapat untuk demonstrasi dan catatan mengenai buku-buku yang saya baca. Buku harian sudah banyak berubah fungsi sejak saya SMA. Sebenarnya kebanyakan tuangan ekspresi saja. Kadang ada puisi, ada guntingan koran, ada tiket bioskop, ada potongan bunga, ada catatan buku, dan lain-lain. Tapi waktu punya laptop saya buat catatan harian di laptop. Hilang sudah tradisi buku ekspresi itu. Tapi kadang saya tulis hal aneh-aneh dan simbol-simbol di agenda saya. Untuk hobi gunting-tempel, saya bikin montase untuk sampul buku catatan saya. Saya juga kepingin punya buku klipping asal-asalan untuk menempel apa saja yang menarik buat saya pada suatu waktu. Sempat saya kumpulkan banyak bahan. Tapi saya putus asa menemukan buku klipping yang cantik. Dan akhirnya saya lupa. Sungguh, baru hari ini saya ingat lagi akan keinginan untuk memiliki buku klipping.

Menulis seperti membebaskan saya. Membebaskan dari segala macam gagasan yang kadang terasa penuh dan hampir tumpah di kepala. Membebaskan dari kebingungan dan kegundahan. Saya kira menulis bahkan bisa membebaskan saya dari kebencian, iri hati, kesombongan, kesedihan, dan berbagai emosi yang berlebihan. Sebab proses menulis adalah proses berpikir dan berefleksi ketika menorehkan (atau mengetik) tiap huruf, ketika memilih kata dan tanda baca.

No comments: